Tayang: Selasa, 20 Oktober 2026 12:28 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – Pura adalah tempat untuk melakukan persembahyangan bagi Umat Hindu, namun lain itu ada beberapa tempat yang diyakini bisa mengabulkan beberapa permintaan salah satunya sebagai tempat untuk memohon keturunan. Lokasinya tersebar dibeberapa titik dikawasan Badung.

Bali dikenal sebagai Pulau Seribu Pura. Sebutan tersebut mencerminkan kuatnya tradisi keagamaan masyarakat Hindu yang menjadikan pura sebagai pusat persembahyangan sekaligus bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya.

Keberadaan pura dapat dijumpai di berbagai tempat, mulai dari lingkungan rumah melalui sanggah atau merajan, hingga kawasan desa adat yang memiliki pura sebagai tempat pemujaan. Dalam tradisi masyarakat Bali, Pura Desa atau Penataran, Pura Puseh, dan Pura Dalem juga menjadi bagian penting dari kehidupan religius desa adat.

Setiap pura memiliki latar belakang, fungsi, serta cerita yang berkembang di tengah masyarakat. Beberapa di antaranya dikenal karena kaitannya dengan perjalanan tokoh suci, sumber mata air, maupun kisah-kisah yang diwariskan secara turun-temurun.

Di Kabupaten Badung, terdapat sejumlah pura yang kerap dikunjungi umat Hindu untuk memohon anugerah keturunan atau yang dalam tradisi Bali dikenal dengan istilah nunas sentana. Keyakinan tersebut hidup dalam kepercayaan masyarakat setempat dan menjadi bagian dari praktik spiritual yang terus dijalankan hingga sekarang.

Berikut delapan pura di Badung yang dipercaya sebagai tempat memohon keturunan, lengkap dengan lokasi dan kisah yang melatarbelakanginya.

1. Pura Pemade Batan Kepuh, Tibubeneng

Pura Pemade Batan Kepuh berada di Banjar Tandeg, Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Pura ini merupakan salah satu tempat suci yang diwariskan oleh leluhur masyarakat setempat.

Sesuai namanya, keberadaan pura ini berkaitan dengan pohon kepuh yang tumbuh di kawasan tersebut. Di wilayah yang sama juga terdapat Pura Batan Bingin, yang berada di bawah pohon beringin. Meski demikian, Pura Pemade Batan Kepuh lebih dikenal dalam tradisi masyarakat sebagai tempat untuk memohon keturunan.

Pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak kerap datang untuk bersembahyang dan menyampaikan permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Mereka menjalankan persembahyangan dengan ketulusan hati serta mengikuti tata cara persembahyangan yang berlaku di pura tersebut.

Kepercayaan mengenai Pura Pemade Batan Kepuh sebagai tempat memohon keturunan telah berkembang di tengah masyarakat setempat. Bagi umat yang meyakininya, kunjungan ke pura ini menjadi bagian dari ikhtiar spiritual sekaligus upaya mendekatkan diri kepada Tuhan.

2. Pura Kereban Langit, Sading

Pura Kereban Langit terletak di Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Pura ini memiliki bentuk yang khas karena berada di dalam sebuah gua dengan lubang pada bagian langit-langit berdiameter sekitar dua meter.

Suasana di dalam gua memberikan karakter tersendiri bagi kawasan suci ini. Di sana terdapat tirta atau air suci yang dipercaya memiliki kaitan dengan permohonan keturunan. Umat Hindu yang datang biasanya memohon anugerah melalui persembahyangan dan pengambilan tirta sesuai tradisi setempat.

Nama Pura Kereban Langit juga lekat dengan kisah kelahiran Raja Kembar Buncing Sri Masula dan Sri Masuli. Dalam cerita yang diwariskan masyarakat, sang ibunda permaisuri dikisahkan memperoleh kehamilan setelah menerima anugerah Tirtha Salaka yang berada di dalam gua tersebut.

Kisah itu membuat Pura Kereban Langit dikenal luas sebagai tempat nunas sentana. Hingga kini, pura ini masih menjadi tujuan umat Hindu yang ingin memohon keturunan melalui pendekatan spiritual.

Keunikan lokasi pura di dalam gua serta cerita yang menyertainya menjadikan Pura Kereban Langit memiliki nilai budaya dan religius tersendiri bagi masyarakat Bali.

3. Pura Dalem Dasar, Mengwi

Pura Dalem Dasar memiliki kaitan dengan sejarah Kerajaan Mengwi, salah satu kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah Badung. Latar belakang tersebut menempatkan pura ini dalam rangkaian warisan sejarah dan keagamaan masyarakat setempat.

Dalam kepercayaan yang berkembang di masyarakat, Pura Dalem Dasar menjadi salah satu tempat untuk memohon berkah keturunan. Pura ini secara khusus dikaitkan dengan permohonan agar pasangan suami istri memperoleh anak laki-laki, yang dalam penyebutan masyarakat Bali dikenal dengan istilah anak lanang.

Umat yang datang menjalankan persembahyangan sesuai keyakinan masing-masing. Permohonan tersebut disampaikan sebagai bentuk bhakti dan harapan agar keluarga memperoleh anugerah yang didambakan.

Kepercayaan terhadap fungsi spiritual Pura Dalem Dasar merupakan bagian dari tradisi lokal yang diwariskan antargenerasi. Kisah dan keyakinan tersebut turut memperlihatkan hubungan erat antara kehidupan keluarga, sejarah kerajaan, dan praktik keagamaan masyarakat Bali.

4. Pura Wulakan, Mengwi

Pura Wulakan berlokasi di Banjar Alengkajeng, Desa Adat Mengwi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Pura ini merupakan bagian dari kawasan Pura Dang Kahyangan Taman Sari Mengwi dan memiliki fungsi penting dalam tradisi penyucian umat Hindu.

Pada saat piodalan, pura ini digunakan sebagai tempat pesucian yang berkaitan dengan pemujaan Ida Bhatara oleh keturunan Ida Bhatara Dang Hyang Nirartha dan Ida Bhatara Dang Hyang Dwijendra, sebagaimana dikenal dalam tradisi setempat.

Selain menjalankan fungsi keagamaan tersebut, Pura Wulakan juga dikenal sebagai tempat melukat. Ritual penyucian diri ini menggunakan tirta yang bersumber dari wulakan atau mata air di bawah pohon beringin yang telah berusia ratusan tahun.

Sebagian umat datang untuk memohon kesehatan, termasuk kesembuhan dari gangguan yang mereka yakini bersifat nonmedis. Pura ini juga menjadi tujuan pasangan yang berharap memperoleh keturunan.

Menurut kepercayaan masyarakat, sejumlah pasangan yang pernah memohon di Pura Wulakan kemudian dikabarkan memperoleh anak. Cerita tersebut turut membuat pura ini dikenal sebagai salah satu tempat memohon keturunan di kawasan Mengwi.

Bagi umat yang hendak melukat, sarana upacara yang disebutkan dalam tradisi setempat adalah banten pejati alit. Prosesi pengelukatan berlangsung di jaba sisi, yakni bagian terluar dari kawasan pura. Setelah selesai melukat, umat dapat melanjutkan persembahyangan di Pura Taman Sari yang berada di bagian atas.

Tata cara pelaksanaan upacara sebaiknya dikonfirmasi kepada pengempon atau pengelola pura setempat agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

5. Pura Geger Dalem Pemutih, Peminge

Pura Geger Dalem Pemutih terletak di Desa Peminge, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Pura ini termasuk salah satu Pura Dang Kahyangan yang berdiri di atas tebing karang dengan pemandangan laut dan Pantai Geger.

Kawasan pura memiliki hubungan dengan perjalanan suci Dang Hyang Dwijendra. Tokoh spiritual tersebut dikisahkan pernah beristirahat di tempat ini ketika menjalani perjalanan sucinya.

Di sekitar kawasan Pura Geger terdapat beji yang berada di Pantai Geger. Lokasinya tersembunyi di antara bebatuan karang dan digunakan sebagai tempat melukat atau menjalankan ritual penyucian diri.

Salah satu unsur yang menarik perhatian di kawasan pura adalah pelinggih Lingga-Yoni. Dalam tradisi Hindu, simbol ini berkaitan dengan Purusa dan Pradana, dua prinsip yang memiliki makna penting dalam pemahaman kosmologi Hindu.

Keberadaan Lingga-Yoni juga dikaitkan oleh masyarakat dengan permohonan keturunan. Umat yang datang dapat bersembahyang dan memohon anugerah sesuai keyakinan serta tata cara yang berlaku di pura.

Perpaduan nilai spiritual, kisah perjalanan tokoh suci, dan bentang alam pesisir menjadikan Pura Geger Dalem Pemutih sebagai salah satu tempat suci yang memiliki daya tarik religius di kawasan Kuta Selatan.

6. Pura Kepuh Kembar, Desa Kapal

Pura Kepuh Kembar berada di Banjar Belulang, Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Sesuai namanya, kawasan pura ini memiliki dua pohon kepuh yang tumbuh berdampingan dan menjadi ciri khas tempat suci tersebut.

Keberadaan pohon kembar itu turut membentuk identitas Pura Kepuh Kembar di tengah masyarakat. Kawasan ini juga dikenal memiliki nuansa sakral yang kuat dalam kepercayaan warga setempat.

Pura Kepuh Kembar memiliki kaitan dengan kisah perjalanan dua tokoh ksatria, yaitu Ida Dalem Putih Jimbaran dan Ida Dalem Solo. Hubungan historis dan cerita yang berkembang mengenai kedua tokoh tersebut membuat pura ini juga dikenal dengan sebutan Pura Dalem Solo.

Selain berkaitan dengan kisah para tokoh tersebut, Pura Kepuh Kembar dipercaya sebagai tempat memohon keturunan. Masyarakat mengenalnya sebagai tempat yang bares, istilah dalam bahasa Bali yang menggambarkan kemurahan atau kelimpahan anugerah.

Pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak kerap datang untuk memohon berkah melalui persembahyangan. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, terdapat pasangan yang meyakini permohonan mereka mendapat jawaban setelah bersembahyang di pura ini.

Kepercayaan tersebut terus hidup sebagai bagian dari tradisi spiritual masyarakat setempat. Bagi umat Hindu yang hendak berkunjung, menghormati kesucian kawasan dan mengikuti arahan pengempon pura menjadi hal yang perlu diperhatikan.

7. Pura Batan Bingin, Tibubeneng

Pura Batan Bingin berada di kawasan Banjar Tandeg, Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Pura ini dikenal karena keberadaannya yang berkaitan dengan pohon beringin, berbeda dengan Pura Pemade Batan Kepuh yang berada di bawah pohon kepuh.

Kedua pura tersebut berada di wilayah yang sama dan memiliki ciri khas masing-masing. Pura Pemade Batan Kepuh dikenal sebagai tempat memohon keturunan, sedangkan Pura Batan Bingin memiliki identitas tersendiri berdasarkan keberadaan pohon yang menjadi penandanya.

Pohon besar yang berkaitan dengan tempat suci kerap memiliki kedudukan khusus dalam kehidupan masyarakat Bali. Selain menjadi bagian dari lingkungan pura, pohon tersebut juga mengingatkan masyarakat pada hubungan antara alam, warisan leluhur, dan tradisi keagamaan.

Bagi pengunjung yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai fungsi ritual Pura Batan Bingin, informasi dari pengempon atau masyarakat adat setempat dapat menjadi rujukan. Penjelasan langsung dari pihak yang menjaga pura diperlukan untuk membedakan fungsi masing-masing tempat suci dan memastikan tata cara kunjungan yang tepat.

8. Pura Taman Sari, Mengwi

Pura Taman Sari berada di kawasan Mengwi, Kabupaten Badung, dan berkaitan erat dengan Pura Wulakan. Lokasinya berada di bagian atas Pura Wulakan sehingga kedua tempat suci tersebut kerap dikunjungi dalam rangkaian kegiatan spiritual yang sama.

Dalam tradisi kunjungan ke Pura Wulakan, umat yang telah menjalani pengelukatan di jaba sisi dapat melanjutkan persembahyangan di Pura Taman Sari. Rangkaian ini menunjukkan hubungan antara ritual penyucian diri dan persembahyangan dalam praktik keagamaan umat Hindu Bali.

Kawasan Taman Sari juga menjadi bagian dari lingkungan suci yang memiliki nilai sejarah dan religius bagi masyarakat Mengwi. Keberadaannya memperkaya tradisi keagamaan setempat, khususnya dalam pelaksanaan persembahyangan dan kegiatan yang berkaitan dengan penyucian.

Untuk permohonan keturunan, Pura Wulakan dikenal secara khusus oleh masyarakat sebagai salah satu tempat untuk memohon anugerah tersebut. Pura Taman Sari berkaitan dengan rangkaian persembahyangan setelah melukat di kawasan bawahnya.

Umat yang ingin menjalankan ritual di kedua pura sebaiknya menanyakan ketentuan upacara kepada pengempon setempat. Langkah ini membantu memastikan kegiatan berlangsung sesuai tradisi dan aturan kesucian masing-masing pura.

Tradisi Memohon Keturunan di Pura-Pura Badung

Kepercayaan mengenai pura sebagai tempat memohon keturunan memperlihatkan bagaimana kehidupan spiritual menjadi bagian dari perjalanan keluarga dalam masyarakat Bali. Istilah nunas sentana digunakan untuk menggambarkan permohonan anugerah keturunan yang disampaikan melalui persembahyangan dan ritual sesuai tradisi setempat.

Setiap pura memiliki latar belakang yang berbeda. Ada yang dikenal melalui kisah tokoh suci, sejarah kerajaan, keberadaan pohon tertentu, hingga sumber mata air yang digunakan dalam ritual melukat.

Bagi umat Hindu yang hendak berkunjung, memahami sejarah dan tata cara persembahyangan menjadi langkah awal untuk menghormati nilai sakral tempat tersebut. Informasi mengenai waktu kunjungan, sarana upacara, serta ketentuan memasuki kawasan suci sebaiknya diperoleh dari pengempon atau pengelola pura.

Keyakinan terhadap anugerah keturunan merupakan bagian dari kepercayaan spiritual masyarakat. Sementara itu, pasangan yang mengalami kesulitan memperoleh keturunan juga dapat berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mengetahui kondisi kesehatan dan pilihan penanganan yang sesuai.

Dengan latar belakang sejarah dan tradisi yang beragam, pura-pura di Badung tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya Bali yang terus dijaga oleh masyarakat. Keberadaannya memperlihatkan hubungan antara keyakinan, warisan leluhur, dan harapan keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi.

***

Cek Usiamu Dulu Ya...

Anda harus sudah cukup umur untuk mengakses situs ini.

PERINGATAN: Situs web ini berisi konten yang dibatasi berdasarkan usia.

💬 Tanya AI