Tayang: Jumat, 3 Oktober 2025 09:14 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM –  Di lereng selatan Bukit Bangli, tepat di pinggir utara jalan utama yang menghadap ke selatan, berdiri megah Pura Kehen. Lokasinya berada di Banjar Pekuwon, Desa Adat Cempaga, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali.

Dari belakang pura, pengunjung bisa menikmati panorama indah Bukit Bangli yang membentang luas. Jaraknya dari Denpasar sekitar 43 kilometer, sementara dari Ubud hanya 20 kilometer, dari Kintamani 23 kilometer, dan cuma 3 kilometer dari Desa Wisata Penglipuran.

Pura Kehen termasuk salah satu pura tertua di Bali, seperti yang tercantum dalam berbagai prasasti kuno. Sejarahnya bisa ditelusuri melalui artefak-artefak berharga yang disimpan di sana, menjadikannya destinasi penting bagi pecinta sejarah dan budaya Bali.

Jejak Sejarah Pura Kehen dari Prasasti Kuno

Sejarah Pura Kehen didasarkan pada tiga prasasti tembaga yang tersimpan di pura itu sendiri. Prasasti ketiga, yang bertanggal Saka 1126 atau tahun 1204 Masehi, memberikan petunjuk kepada warga sekitar terkait upacara besar di pura. Prasasti ini menyebutkan nama Raja Sri Dhanadhiraja dan permaisurinya Bhatara Sri Dhanadewi. Raja Sri Dhanadhiraja adalah putra dari Raja Bhatara Parameswara, yang ibunya adalah Bhatara Guru Sri Adhikunti.

Menurut A.J. Bernert Kempers dalam bukunya “Bali Purbakala” (diterjemahkan oleh Drs. R. Soekarmono), Pura Kehen terkenal di Bali dan namanya diambil dari pura kecil di depannya. Kemungkinan, nama Hyang Api dalam prasasti pertama berevolusi menjadi Hyang Kehen dalam prasasti ketiga—di mana “kehen” berarti “keren” atau tempat api. Untuk mengetahui usia pendirian pura lebih lanjut, kita bisa menghubungkannya dengan dua prasasti lain yang lebih tua.

Dr. R. Goris dalam “Prasasti Bali I dan II” menjelaskan bahwa prasasti pertama, terdiri dari 18 baris dalam bahasa Bali Kuno, menyebutkan “Hyang Karinama” dan Hyang Api di desa Simpat Bunut. Prasasti ini juga merujuk pada wangunan pertapaan di Hyang Karinama jnganangan Hyang Api di Wanua di Simpat Bunut—Hyang Tanda, serta nama-nama bhiksu. Meski tanpa tahun, Dr. Goris mengklasifikasikannya antara tahun Saka 804-836, atau 882-914 Masehi.

Prasasti kedua, yang hanya tersisa lembaran terakhir dengan 10 baris dalam bahasa Jawa Kuno, menyebutkan Senapati Kuturan, Saphata, dan nama pegawai raja. Prasasti ini juga tanpa tahun, tapi digolongkan Dr. Goris ke tahun Saka 938-971, atau 1016-1049 Masehi.

Secara etimologis, nama Hyang Api dari prasasti pertama berkembang menjadi Hyang Kehen di prasasti ketiga, dan akhirnya menjadi Pura Kehen seperti sekarang. Ini menunjukkan bahwa pura sudah ada sejak tahun Saka 804-836, atau akhir abad ke-9 hingga awal abad ke-10 Masehi.

Ketiga prasasti tembaga tersebut telah dibaca oleh Dr. P.V. Van Stein Callenfels, dengan teks lengkapnya dimuat dalam buku “Epigraphina” tahun 1926. Isinya meliputi:

  1. Prasasti I: Diperkirakan dari abad ke-9, menyebutkan Hyang Api, Hyang Karinama, Hyang Tanda, serta nama-nama bhiksu. Bahasanya Sanskerta.
  2. Prasasti II: Menggunakan bahasa Jawa Kuno, menyebutkan “Sang Senapati Kuturan”.
  3. Prasasti III: Dalam bahasa Jawa Kuno, bertahun Saka 1126 (1204 Masehi), menyebutkan Hyang Kehen. Raja yang memerintah saat itu adalah Bhatara Guru Sri Adhikunti Ketana.

Keberadaan Pura Kehen juga terkait erat dengan sejarah Desa Bangli, seperti tertulis dalam prasasti No. 705 Prasasti Pura Kehen C. Pada tahun Saka 1126, tepatnya Wesaka masa tithi daca mi sukla paksa, ma, kaca, waraning Krulut—atau 10 Mei 1204 Masehi—Raja Ida Bhatara Guru Sri Adhikunti Ketana mengeluarkan Bhisama, memerintahkan semua penduduk wilayah Desa Bangli untuk kembali ke desanya.

Tradisi Upacara di Pura Kehen

Upacara rutin di Pura Kehen digelar setiap enam bulan berdasarkan kalender Bali, yaitu Piodalan yang jatuh pada Buda Keliwon Wuku Sinta, bertepatan dengan Hari Raya Pagerwesi. Upacara ini biasanya berlangsung lima hari, di mana setiap hari banjar dari desa Cempaga, Kawan, Bebelang, Demulih, Penatahan, Tanggahan, Pukuh, Kubu, dan Penglipuran bergiliran menghaturkan bakti melalui acara Mepeed.

Upacara tingkat utama diadakan setiap tiga tahun sekali pada sasih kelima, disebut Karya Agung Bhatara Turun Kabeh atau Ngusaba Dewa. Pelaksanaannya diperkirakan pada Oktober 2015 saat Purnama Kalima, dan biasanya berlangsung 9 hingga 11 hari.

Puncaknya adalah prosesi Melasti, di mana seluruh Pratima, Tapakan, dan benda sakral dari sekitar 19 banjar adat di wilayah bebanuan ikut serta. Prosesi ini biasanya menuju Pantai Watuklotok, Tirta Sudamala, atau Tamansari, melibatkan ribuan orang dan puluhan kelompok yang mengusung gamelan dengan tabuhan Baleganjur sambil berjalan kaki.

Ini menjadi gambaran kebersamaan masyarakat Bangli, khususnya krama Bebanuan Pura Kehen yang dikenal sebagai Gebog Domas. Selama upacara, desa-desa pemujanya secara bergilir menampilkan tarian sakral seperti Baris Dadap, Baris Perasi, Baris Gowak, serta Rejang dan Pendet. Salah satu tarian klasik yang ditampilkan dalam upacara Nuwek Kebo juga menjadi bagian dari tradisi ini.

Atraksi Tahunan di Sekitar Pura Kehen

Setiap tahun, pada upacara Pengrupukan—satu hari sebelum Hari Raya Nyepi—digelar parade Ogoh-ogoh yang diikuti oleh seluruh banjar di wilayah Desa Pekraman Cempaga.

***

 

Tanya AI