
đź“·Pura Agung Kentel Gumi/ ortibali/ google maps
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Bali memang pantas menyandang gelar “Pulau Seribu Pura”. Ribuan tempat suci berdiri megah di setiap sudut pulau ini, menjadi magnet utama bagi jutaan wisatawan dunia. Namun, tidak semua pura bisa dikunjungi sembarangan oleh umat Hindu. Ada aturan adat yang ketat. Berbeda dengan pura desa atau kahyangan desa yang terikat wilayah, beberapa pura bersifat universal. Salah satu yang paling istimewa adalah Pura Agung Kentel Gumi di Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung—sekitar 43 kilometer dari Denpasar.
Pura ini termasuk dalam kelompok Pura Khayangan Tiga atau Tri Guna Pura, tiga pura besar yang menjadi penyangga spiritual Pulau Bali. Menurut lontar kuno Raja Purana Batur, Pura Agung Kentel Gumi berperan sebagai Pura Puseh—tempat memohon kerahayuan jagat atau keseimbangan alam semesta.
Pura Desa diwakili Pura Batur yang memohon kesuburan tanah, sementara Pura Dalem dipegang Pura Besakih yang memohon kesucian sekala-niskala. Karena posisinya ini, Pura Agung Kentel Gumi dipuja oleh seluruh umat Hindu di Bali tanpa terkecuali.
Legenda Mpu Kuturan dan Pacek Penjaga Bumi
Sejarah pura ini bermula pada abad ke-11, saat Bali dilanda kekacauan besar. Raja Maya Denawa yang sakti mandraguna melarang rakyat menyembah Tuhan dan merusak pura-pura. Akibatnya, wabah penyakit merebak, masyarakat resah. Setelah Maya Denawa akhirnya dikalahkan, ketentraman belum juga kembali. Konflik antarwarga masih sering meledak.
Datanglah Mpu Kuturan, pendeta besar dari Jawa yang diutus membawa ajaran Hindu Siwa Siddhanta. Untuk menstabilkan pulau yang “goyang” ini, beliau menancapkan sebuah pacek atau pasak sakti di lokasi yang kini menjadi Pura Agung Kentel Gumi. Pacek itu menjadi pancer jagat—titik pusat bumi Bali. Sejak saat itu, kehidupan sosial masyarakat Bali kembali kondusif. Nama “Kentel Gumi” sendiri berarti “penjaga bumi” atau “penahan bumi” yang teguh.
Terbuka untuk Semua, Tanpa Syarat Rumit
Berbeda dengan banyak pura lain yang memiliki pantangan ketat, Pura Agung Kentel Gumi sangat terbuka. Siapa saja boleh masuk dan bersembahyang selama niatnya tulus, berpakaian sopan, dan tidak sedang dalam keadaan cuntaka. Inilah salah satu alasan pura ini ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin merasakan energi spiritual Bali secara langsung.
Kompleks Tiga Kelompok Pura dan Palinggih Megah
Luas area pura cukup besar dan terbagi menjadi tiga kelompok utama:
- Pura Maspahit
- Pura Masceti
- Pura Agung Kentel Gumi (inti utama)
Di kelompok inti saja terdapat sekitar 19 palinggih dan beberapa bale. Yang paling menonjol adalah Meru Tumpang Solas (11 tingkat)—meru tertinggi dan terbesar di pura ini—sebagai stana Sang Hyang Reka Bhuana, manifestasi Tuhan sebagai pencipta alam semesta.
Ada pula:
- Meru Tumpang Siya sebagai pengayatan Gunung Agung
- Meru Tumpang Pitu untuk Segara (laut)
- Meru Tumpang Lima untuk Ulun Danu (danau)
- Meru Tumpang Tiga untuk Gunung Lempuyang
Semua meru itu melambangkan keseimbangan antara gunung, laut, danau, serta elemen alam lainnya—sesuai fungsi pura sebagai penjaga kerahayuan jagat.
Destinasi Wisata Spiritual yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
Dengan sejarah yang kuat, arsitektur khas Bali yang megah, dan aura damai yang terasa begitu masuk area pura, Pura Agung Kentel Gumi Klungkung kini menjadi salah satu objek wisata religi unggulan di Bali timur. Banyak turis yang sengaja mampir setelah mengunjungi Keraton Klungkung atau Goa Lawah, lalu melanjutkan ke Besakih.
Bagi Anda yang mencari pengalaman spiritual mendalam di tengah hiruk-pikuk pariwisata Bali, pura ini menawarkan ketenangan sejati. Di sini, Anda tidak hanya melihat bangunan suci, tapi juga merasakan getar “penahan bumi” yang telah menjaga Pulau Dewata selama lebih dari seribu tahun.
***














