📷Pura Goa Lawah/ Google Maps/ ortibali
Penulis: Febrianti Saraswati | Editor: Putu Linggih
ORTIBALI.COM – Di antara deretan pura sad kahyangan yang menjadi pilar spiritual Bali, Pura Goa Lawah menawarkan pesona unik yang sulit dilupakan. Terletak di kawasan tenggara Pulau Dewata, pura ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga perpaduan harmonis antara alam dan kepercayaan. Di dalamnya, sebuah gua yang menjadi rumah bagi ribuan kelelawar menjadi saksi bisu permenungan umat Hindu yang bersembahyang kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Pura Goa Lawah memiliki posisi istimewa dalam tata ruang spiritual Bali, yang dikenal sebagai konsep padma buwana. Pura ini dianggap sebagai titik tenggara, tempat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Dewa Maheswara. Menurut catatan dalam Hasil Inventarisasi Pura-pura/Tempat-tempat Bersejarah dalam rangka Rerouting Pariwisata Daerah Bali (1980/1981), Pura Goa Lawah juga menjadi tempat pemujaan Batara Tengahing Segara, penguasa lautan, serta Sang Hyang Naga Basuki, yang erat kaitannya dengan Pura Besakih dan Gunung Agung. Nama “Basuki” sendiri diyakini merujuk pada kata basuki, simbol kemakmuran dan keseimbangan.
Misteri Goa yang Menembus ke Besakih
Keunikan Pura Goa Lawah tak lepas dari mitos yang mengitarinya. Masyarakat setempat memercayai bahwa gua di dalam pura ini terhubung secara mistis dengan Pura Besakih. Dalam sebuah kisah dalam babad Bali, seorang pangeran dari Kerajaan Mengwi pernah diuji oleh Dhalem Gelgel untuk memasuki goa ini. Konon, sang pangeran berhasil sampai ke Besakih, namun dengan kondisi tuli. Kisah ini mengukuhkan nama I Gusti Agung Ketut Besakih untuknya, sekaligus memperkuat simbolisme pura ini sebagai jembatan spiritual antara gunung dan laut.
Pura Goa Lawah menjadi tempat suci untuk ritual nyegara gunung, yang menyatukan dua elemen alam: Gunung Agung sebagai simbol daratan dan Samudera Hindia sebagai lambang air. Harmoni ini mencerminkan keseimbangan hidup yang dijunjung tinggi dalam ajaran Hindu Bali.
Jejak Sejarah yang Masih Misterius
Asal-usul Pura Goa Lawah masih diselimuti kabut sejarah. Menurut Lontar Usana Dewa, sebagaimana dikutip Jro Mangku Ktut Soebandi dalam Sejarah Pembangunan Pura-pura di Bali (1983), pura ini didirikan oleh Mpu Kuturan pada abad ke-11. Statusnya sebagai salah satu pura sad kahyangan menegaskan peran pentingnya sebagai penyangga keseimbangan jagat Bali.
Kisah lain dalam Babad Siddhimantra Tatwa menyebutkan bahwa Ida Bang Manik Angkeran, atas perintah ayahnya, Danghyang Siddhimantra, bertugas sebagai penyapuh di Pura Besakih. Tugas ini kemudian diteruskan oleh putranya, Ida Tulus Dewa, dan cucunya, Ida Penataran. Ida Penataran menunjuk I Gusti Batan Waringin untuk menjaga Pura Goa Lawah, yang dianggap sebagai jalur keluar Ida Bhatara Hyang Basuki dari Gunung Agung menuju pantai untuk bersuci.
Lontar Dwijendra Tatwa, yang diterjemahkan oleh IGB Sugriwa dalam Dwijendra Tatwa (1991), menceritakan kunjungan Danghyang Nirartha, atau Danghyang Dwijendra, ke pura ini sebelum bertemu Dalem Waturenggong di Gelgel. Konon, ketenangan yang dirasakan Danghyang Nirartha di tempat ini menginspirasinya untuk menamakan pura ini sebagai “Goa Lawah”. Dari bibir gua, ia menikmati panorama Pulau Nusa Penida yang memesona, sembari merasakan kedamaian sakala dan niskala.
Arsitektur Sakral dengan Konsep Tri Mandala
Struktur Pura Goa Lawah dirancang dengan cermat berdasarkan konsep tri mandala, yang membagi ruang pura menjadi tiga zona suci. Pura ini memiliki lima strata:
-
Goa Lawah: Inti pura terletak di dalam gua (utamaning utama), dengan deretan palinggih di dalamnya sebagai madyaning utama dan bibir gua sebagai nistaning utama.
-
Jeroan Pura: Zona ini mencakup natar puja sebagai pusat, diikuti oleh palinggih-palinggih, bale piyasan, dan bale banten sebagai madyaning madya dan nistaning madya.
-
Jaba Tengah: Terletak di luar kori agung, zona ini mencakup bebaturan sebagai utamaning kanista, mandala jaba tengah sebagai madyaning kanista, serta bale bengong, bale kulkul, dan bale pesandekan sebagai nistaning kanista.
-
Jaba Sisi: Berada di luar candi bentar, zona ini memiliki tugu panyawangan di sisi selatan, wantilan paseban di barat, dan pawaregan dengan bale paebatan di timur.
-
Mandala Segara Puja: Terletak di pantai, zona ini memiliki utamaning mandala mengarah ke selatan, dengan bangunan pasandekan dan area parkir sebagai madyaning mandala dan nistaning mandala.
Puncak Pujawali dan Kunjungan Umat
Pura Goa Lawah menjadi pusat perhatian saat pujawali, yang diadakan setiap Anggarakasih Medangsia. Pada tahun 2013, pujawali ini jatuh pada 16 April, saat pura dipadati umat yang datang untuk tangkil atau bersembahyang. Di luar pujawali, pura ini tetap ramai didatangi pamedek, terutama saat purnama-tilem atau dalam rangkaian upacara seperti ngroras dan mamukur.
Pura Goa Lawah bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga cerminan keseimbangan alam dan spiritualitas Bali. Dengan kelelawar yang menghuni gua, panorama laut yang menawan, dan kisah-kisah suci yang mengitarinya, pura ini mengundang setiap pengunjung untuk merenungi makna harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
***












