Tayang: Rabu, 23 September 2026 16:17 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – Pangayengan yang berada di Jl Kumbakarna Desa Pemecutan Kaja, Dauh Puri Kaja, Denpasar, memiliki bentuk yang cukup unik. Di tempat tersebut berdiri sebuah patung yang menggambarkan seorang pandita istri atau pendeta wanita. Masyarakat setempat mengenalnya dengan sebutan Ida Ratu Niang.

Lokasinya berada di sisi kiri jembatan di Jalan Kumbakarna, Desa Pemecutan Kaja, tepat di sebelah Pasar Wangaya. Letaknya yang berada di jalur yang cukup ramai membuat keberadaan pangayengan tersebut mudah terlihat oleh masyarakat yang melintas.

Tidak sedikit warga yang sengaja menepi untuk menghaturkan rarapan sekaligus menyampaikan permohonan. Ada yang datang untuk bersembahyang, ada pula yang secara khusus memohon sesuatu kepada Ida Ratu Niang Sakti.

Cerita mengenai keberadaan Ida Ratu Niang di tempat tersebut juga tidak lepas dari kisah-kisah niskala yang berkembang di tengah masyarakat. Sejumlah pedagang dan warga di sekitar jembatan menyebut Ida Ratu Niang kerap malancaran atau berjalan-jalan hingga kemudian singgah di pangayengan tersebut.

Lantas, seperti apa kisah di balik pangayengan Ida Ratu Niang Sakti? Mengapa tempat ini dikenal sebagai salah satu lokasi yang sering didatangi masyarakat untuk memohon jodoh, kesembuhan, hingga rezeki?

Berawal dari Rencana Pembangunan Hotel

Menurut pamangku, Ngurah Gede Agung, keberadaan pangayengan Ida Ratu Niang Sakti di Jalan Wibisana berawal dari rencana pembangunan hotel yang dimilikinya. Cerita tersebut disampaikannya pada Jumat (6/7/2024).

Saat itu, Ngurah Gede Agung berencana melakukan upacara melaspas Hotel Puri yang berada di sebelah utara jalan. Ketika hendak memperluas area, rencana tersebut ternyata tidak dapat dilanjutkan.

Menurut keterangan yang diterimanya secara niskala, lokasi tersebut merupakan akses Ida Ratu Niang ketika malancaran.

“Waktu itu saya kan rencana mau mlaspas hotel Puri, pas maluasin ternyata tidak diperbolehkan, karena tempat itu secara niskala merupakan akses Ratu Niang malancaran. Setelah mapinunas, akhirnya Beliau minta dibuatkan pangayengan agar bisa malinggih ketika malancaran di sana,” paparnya.

Dari proses tersebut kemudian muncul keputusan untuk membuat tempat pemujaan atau pangayengan. Tempat itu diharapkan menjadi lokasi Ida Ratu Niang malinggih ketika melintasi kawasan tersebut.

Ngurah Gede Agung yang akrab disapa Turah Belanda itu mengaku pada awalnya tidak memiliki rencana membuat palinggih dalam bentuk patung.

Patung Ida Ratu Niang Dibuat Berdasarkan Mimpi

Menurut Turah Belanda, rencana awalnya hanya membuat sebuah palinggih dengan bentuk yang lazim. Namun, cerita tersebut kemudian berkembang setelah kakaknya mengalami sebuah mimpi.

Dari mimpi tersebut, sang kakak membuat sebuah patung yang kemudian menjadi perwujudan Ida Ratu Niang di tempat tersebut.

“Awalnya rencana saya membuatkan palinggih biasa. Namun, kakak bermimpi dan membuatkan sebuah patung. Kami berdua bahkan bingung, kenapa perwujudannya justru seperti ini,” ungkapnya sambil tersenyum.

Patung tersebut akhirnya menjadi ciri khas pangayengan yang berada di pinggir jembatan tersebut. Keberadaannya mudah dikenali karena bentuknya berbeda dengan palinggih pada umumnya.

Posisinya yang berdekatan dengan Pasar Wangaya juga membuat tempat tersebut cukup ramai didatangi masyarakat. Pedagang pasar maupun orang yang kebetulan melintas kerap berhenti sejenak untuk menghaturkan rarapan.

Rarapan yang dihaturkan pun beragam. Ada yang membawa sirih pinang, rokok, hingga sekadar permen.

“Biasanya para pedagang yang ramai datang sembahyang. Tapi banyak juga mereka yang datang khusus ingin nunas dengan Ratu Niang Sakti,” ujarnya.

Banyak Warga Memohon Jodoh

Salah satu permohonan yang cukup sering disampaikan masyarakat di pangayengan Ida Ratu Niang Sakti adalah soal jodoh.

Menurut penuturan Turah Belanda, sejumlah warga datang dengan membawa sasangi atau janji yang akan dipenuhi ketika permohonannya terkabul. Mereka memohon agar segera dipertemukan dengan pasangan hidup.

Ada yang datang karena sudah memasuki usia tertentu tetapi belum menikah. Ada pula yang mendatangi tempat tersebut setelah mengalami patah hati dan berharap segera mendapatkan pasangan.

“Banyak yang datang ke sini menghaturkan sasangi. Mereka memohon jodoh. Ada yang sudah umur tapi belum menikah. Ada yang habis patah hati, akhirnya mereka memohon agar segera dipertemukan jodohnya, dan cukup banyak yang kembali naur sasangi, karena doanya mendapat jodoh dikabulkan,” ujarnya.

Cerita mengenai warga yang kembali untuk menunaikan sasangi setelah mendapatkan pasangan turut menjadi bagian dari kisah yang berkembang di tengah masyarakat sekitar.

Kepercayaan tersebut membuat pangayengan ini tidak hanya didatangi oleh pedagang atau warga yang tinggal di sekitar lokasi. Masyarakat dari tempat lain juga disebut datang dengan membawa permohonan masing-masing.

Permohonan Kesembuhan hingga Rezeki

Selain persoalan jodoh, masyarakat juga datang untuk memohon kesembuhan dan rezeki. Berbagai kisah mengenai permohonan tersebut kemudian berkembang dari satu warga ke warga lainnya.

Turah Belanda menceritakan salah satu pengalaman yang menurutnya cukup unik. Ada pasangan yang datang untuk memohon kesembuhan dari masalah ejakulasi dini yang dialami sang suami. Kondisi tersebut, menurut cerita yang disampaikannya, membuat pasangan tersebut belum memiliki keturunan.

Mereka kemudian memohon di tempat tersebut. Setelah penyakit yang dikeluhkan disebut sembuh, sang istri kembali datang untuk menghaturkan wastra putih sebagai bentuk penghormatan dan pemenuhan permohonan.

“Yang cukup unik, kemarin ada yang datang memohon kesembuhan dari penyakit ejakulasi dini. Mereka tidak memiliki keturunan karena sang suami ejakulasi dini, di sini mereka memohon. Tidak lama, penyakit itu sembuh. Istrinya datang maturan wastra putih,” ungkapnya.

Kisah tersebut merupakan bagian dari pengalaman yang diceritakan oleh pamangku dan masyarakat yang datang ke tempat tersebut. Kepercayaan mengenai khasiat atau terkabulnya permohonan tetap menjadi bagian dari keyakinan masing-masing pamedek.

Ramai Didatangi Saat Purnama dan Galungan

Menurut Turah Belanda, Ida Ratu Niang Sakti dikenal masyarakat sebagai sosok yang murah hati. Hal tersebut terlihat dari banyaknya pamedek yang datang, terutama saat purnama dan Galungan.

Para pamedek disebut datang dari berbagai daerah dengan membawa permohonan yang berbeda-beda. Ada yang berharap mendapatkan kesembuhan, dipertemukan dengan jodoh, maupun memperoleh rezeki.

Sesaji yang dibawa juga memiliki bentuk tertentu. Salah satunya berupa banten soda yang dihaturkan bersama tembakau, sirih, dan canang sari.

“Mereka datang dari jauh-jauh. Ada yang minta kesembuhan, jodoh dan rejeki. Mereka datang biasanya membawa banten soda, dihaturkan di sana bersama tembakau, sirih, serta canangsari. Kenapa tembakau dan sirih? Beliau memang sangat menyukai itu,” ungkapnya.

Keberadaan pangayengan Ida Ratu Niang Sakti di kawasan Jalan Wibisana akhirnya tidak terlepas dari cerita masyarakat yang berkembang selama bertahun-tahun. Bentuk patung yang menjadi perwujudannya, kisah mengenai malancaran, hingga pengalaman para pamedek menjadi bagian dari identitas tempat tersebut.

Di tengah aktivitas warga dan ramainya kawasan sekitar Pasar Wangaya, pangayengan itu tetap menjadi tempat masyarakat berhenti sejenak untuk sembahyang dan menghaturkan rarapan. Bagi mereka yang meyakininya, tempat tersebut menjadi ruang untuk menyampaikan berbagai harapan, mulai dari urusan jodoh dan rezeki hingga permohonan kesembuhan.

***

Cek Usiamu Dulu Ya...

Anda harus sudah cukup umur untuk mengakses situs ini.

PERINGATAN: Situs web ini berisi konten yang dibatasi berdasarkan usia.

đź’¬ Tanya AI