Tayang: Sabtu, 24 Oktober 2026 08:19 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – Purnama Kalima atau Purnama Sasih Kelima memiliki kedudukan penting dalam kehidupan spiritual umat Hindu di Bali. Dalam ajaran Hindu, purnama dipandang sebagai momen ketika bulan mencapai fase penuh dan memancarkan cahaya yang melambangkan kesucian. Tradisi Hindu Bali mengaitkan waktu ini dengan kekuatan Dewa Chandra yang dipercaya membawa energi penyucian bagi alam semesta.

Purnama Kalima yang jatuh pada Minggu, 25 Oktober 2026 ini menjadi pengingat bagi umat Hindu untuk kembali menata kehidupan batin. Melalui momentum ini, umat diajak mengendalikan pikiran, memperbaiki perilaku, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dosen Pendidikan Agama Hindu Institut Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga, M.Pd., menjelaskan bahwa purnama memberikan kesempatan bagi manusia untuk sejenak menjauh dari kesibukan duniawi dan melakukan perenungan. Keheningan tersebut membantu seseorang mengenali kondisi batinnya, menyadari kekurangan diri, dan menemukan kembali arah kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai dharma.

Makna Purnama Kalima dalam Lontar Sundarigama

Ajaran mengenai Purnama Kalima dapat dipahami melalui nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam lontar Sundarigama. Naskah tradisional Hindu Bali ini menjadi salah satu rujukan dalam memahami pelaksanaan hari-hari suci serta kewajiban keagamaan umat Hindu.

Dalam konteks Purnama Kalima, penyucian diri menempati posisi penting. Umat diajak memperlakukan hari suci sebagai kesempatan untuk memperdalam bhakti, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan membangun kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Ariyoga menjelaskan bahwa purnama mengandung pesan untuk berhenti sejenak dari rutinitas, kemudian memeriksa kembali pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ketiganya menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas kehidupan seseorang.

Kesucian dalam ajaran Hindu juga berkaitan dengan kesadaran untuk terus memperbaiki diri. Persembahan berupa dupa dan bunga menjadi bagian dari praktik keagamaan, sedangkan ketulusan, pengendalian diri, dan kepedulian terhadap sesama merupakan nilai yang perlu diwujudkan melalui tindakan nyata.

Dengan pemahaman tersebut, Purnama Kalima memiliki makna yang melampaui pelaksanaan ritual. Hari suci ini menjadi ruang refleksi untuk menumbuhkan kebajikan dan memperkuat komitmen menjalani kehidupan berdasarkan dharma.

Penyucian Diri pada Hari Purnama Menurut Dharma Prawerti

Makna penyucian diri juga tercermin dalam kutipan lontar Dharma Prawerti yang disampaikan dalam penjelasan mengenai purnama.

“Purnama sampun tan hana dosa, ring angga sarira kalepasan ring mala, yening sahananing manusa wruh ring pangruwatan.”

Kutipan tersebut dimaknai sebagai ajaran bahwa hari purnama berkaitan dengan pelepasan kekotoran atau mala dalam diri bagi manusia yang memahami proses penyucian. Pesan spiritualnya mengarahkan umat untuk menyadari pentingnya membersihkan diri, baik secara lahir maupun batin.

Penyucian dalam konteks ini berkaitan dengan upaya mengendalikan pikiran negatif, menjaga ucapan, serta menghindari tindakan yang merugikan orang lain. Kesadaran tersebut membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana dan bertanggung jawab.

Praktik keagamaan memperoleh makna yang lebih mendalam ketika disertai perubahan perilaku. Seseorang yang menjalankan persembahyangan, misalnya, diharapkan membawa nilai ketenangan dan ketulusan ke dalam kehidupan keluarga, lingkungan sosial, serta masyarakat.

Ajaran tersebut menempatkan kesucian sebagai proses yang terus berlangsung. Setiap orang memiliki kesempatan untuk mengevaluasi diri, memperbaiki kesalahan, dan menumbuhkan sikap yang mencerminkan kebajikan.

Tradisi Melukat di Segara pada Purnama Kalima

Salah satu praktik yang dikaitkan dengan Purnama Kalima dalam penjelasan Ariyoga ialah melukat di segara atau sumber air suci. Tradisi melukat merupakan bagian dari praktik penyucian diri yang dikenal dalam kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali.

Air memiliki makna simbolis yang erat dengan kehidupan dan pembersihan. Dalam tradisi keagamaan, air suci atau tirta digunakan dalam berbagai rangkaian ritual sebagai sarana yang berkaitan dengan penyucian lahir dan batin.

Ariyoga menyampaikan kutipan berikut untuk menggambarkan hubungan Purnama Kalima dengan pelaksanaan bhakti dan penyucian diri.

“Ring purnama kalima, sami manusa ngarastiti bhakti, ring segara, ring tirta amerta, nirmala ring atma.”

Ungkapan tersebut menekankan pentingnya bhakti, penghormatan terhadap kesucian air, dan harapan akan kejernihan atma. Dalam pemaknaan spiritualnya, melukat menjadi kesempatan bagi umat untuk menenangkan batin sekaligus memperkuat niat menjalani kehidupan yang lebih baik.

Ketika melukat di laut, umat dapat menjadikan suasana alam sebagai ruang perenungan. Deburan ombak dan cahaya bulan memberikan kesempatan untuk menenangkan pikiran serta menyadari berbagai hal yang perlu dibenahi dalam diri.

Makna tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan prosesi. Penyucian diri juga mengandung tanggung jawab untuk menjaga sikap setelah ritual selesai, termasuk mengembangkan kepedulian terhadap lingkungan, menghormati kehidupan, dan memelihara hubungan yang harmonis dengan sesama.

Hubungan Purnama Kalima dengan Ajaran Sarasamuscaya

Landasan mengenai pentingnya menjaga tubuh dalam kehidupan spiritual dapat ditemukan dalam Sarasamuscaya, salah satu teks yang memuat ajaran moral dan tuntunan hidup dalam tradisi Hindu.

Salah satu petikan sloka 88 berbunyi, “Sarira madyam khalu dharma sadhanam,” yang berarti tubuh merupakan sarana utama untuk melaksanakan dharma.

Ajaran ini menempatkan tubuh sebagai bagian penting dalam perjalanan manusia menjalankan kewajiban dan kebajikan. Melalui tubuh, seseorang dapat melakukan persembahyangan, membantu sesama, menjalankan tanggung jawab, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Dalam kaitannya dengan Purnama Kalima, penghargaan terhadap tubuh dapat diwujudkan melalui pengendalian diri dan kebiasaan hidup yang lebih terarah. Tubuh perlu dirawat agar mampu mendukung pelaksanaan kewajiban spiritual maupun sosial.

Pemahaman tersebut juga mengingatkan umat agar tidak menjadikan keinginan pribadi sebagai satu-satunya tujuan hidup. Manusia memiliki tanggung jawab untuk menggunakan kemampuan dan kesempatan yang dimilikinya secara bijaksana.

Pelaksanaan dharma membutuhkan kesadaran yang diwujudkan melalui tindakan. Menjaga kesehatan, mengendalikan perilaku, menolong orang lain, serta menghormati kehidupan merupakan bagian dari upaya memanfaatkan tubuh untuk tujuan yang baik.

Brata, Semadi, Upawasa, dan Dana Punia sebagai Wujud Dharma

Dalam suasana suci Purnama Kalima, Ariyoga menjelaskan bahwa umat Hindu diharapkan memperkuat praktik spiritual melalui sejumlah laku keagamaan. Di antaranya ialah brata dan semadi, upawasa, tirtha yatra, dana punia, serta bhakti karma.

Brata berkaitan dengan komitmen menjalankan pantangan atau disiplin tertentu untuk melatih pengendalian diri. Praktik ini membantu seseorang mengelola keinginan dan membangun keteguhan dalam menjalankan nilai-nilai yang diyakini.

Semadi menjadi sarana untuk memusatkan perhatian dan menenangkan pikiran. Melalui perenungan yang terarah, seseorang dapat mengevaluasi tindakan, memahami kondisi batin, serta memperkuat kesadaran spiritual.

Upawasa merupakan bentuk latihan pengendalian diri yang berkaitan dengan pembatasan konsumsi atau pelaksanaan pantangan sesuai ketentuan keagamaan. Praktik ini mengajarkan kesederhanaan dan membantu umat mengelola dorongan pribadi.

Sementara itu, tirtha yatra berkaitan dengan perjalanan suci menuju tempat-tempat yang memiliki nilai spiritual. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi umat untuk memperdalam bhakti, mengikuti tradisi keagamaan, dan melakukan perenungan dalam suasana yang mendukung kehidupan rohani.

Dana punia diwujudkan melalui pemberian atau sumbangan yang dilandasi ketulusan. Praktik ini menumbuhkan kepedulian sosial sekaligus mengingatkan umat bahwa sebagian dari apa yang dimiliki dapat digunakan untuk membantu orang lain.

Adapun bhakti karma menekankan pengabdian yang diwujudkan melalui tindakan. Nilai ini dapat tercermin dalam pelayanan kepada masyarakat, pelaksanaan kewajiban dengan tulus, serta perilaku yang membawa manfaat bagi kehidupan bersama.

Rangkaian praktik tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan spiritual Hindu mencakup disiplin pribadi dan tanggung jawab sosial. Purnama Kalima dapat menjadi momentum untuk meneguhkan keduanya agar nilai dharma hadir dalam tindakan sehari-hari.

Purnama Kalima sebagai Momentum Menumbuhkan Kedamaian

Makna Purnama Kalima pada akhirnya mengarah pada upaya membangun kejernihan batin dan menumbuhkan kebajikan. Melalui perenungan, persembahyangan, serta berbagai praktik penyucian diri, umat Hindu diajak memahami kembali tujuan hidup dan tanggung jawabnya terhadap sesama.

Dalam kehidupan sehari-hari, pesan tersebut dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti menjaga perkataan, mengendalikan emosi, menghargai perbedaan, dan memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Kebiasaan tersebut membantu nilai-nilai spiritual hadir secara nyata di tengah keluarga dan masyarakat.

Purnama Kalima juga menjadi kesempatan untuk berdialog dengan diri sendiri, mengevaluasi pengalaman masa lalu, dan memperbaiki langkah ke depan. Proses ini membutuhkan ketulusan serta kemauan untuk mengakui kekurangan tanpa berhenti berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Menurut Ariyoga, cahaya bulan purnama dapat menjadi pengingat bagi umat untuk menanamkan kedamaian di dalam diri. Kedamaian tersebut diharapkan tumbuh menjadi sikap yang membawa manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Dalam terang bulan purnama, umat diajak untuk menanam benih kedamaian di dalam diri, agar kelak cahayanya tak hanya menerangi malam, tetapi juga kehidupan di sekitarnya,” tutupnya. 

***

Cek Usiamu Dulu Ya...

Anda harus sudah cukup umur untuk mengakses situs ini.

PERINGATAN: Situs web ini berisi konten yang dibatasi berdasarkan usia.

💬 Tanya AI