
📷ilustrasi bayi/ ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Umat Hindu di Bali kembali merayakan hari suci Buda Wage Merakih—atau yang juga populer disapa Buda Cemeng Merakih. Perayaan ini datang setiap 210 hari sekali (enam bulan dalam kalender Bali), menandai pertemuan tiga siklus penting: Saptawara Buda (Rabu), Pancawara Wage, dan Wuku Merakih.
Bukan sekadar tradisi rutin, hari raya ini memegang peranan spiritual mendalam untuk mengistirahatkan pikiran dari riuk-pikuk keduniawian dan memohon keberkahan hidup.
Makna Mendalam dalam Lontar Sundarigama
Hakekat spiritual dari Buda Wage Merakih tercatat jelas dalam pustaka suci Lontar Sundarigama. Dalam petikan teks klasiknya disebutkan:
“Buda Wage, ngaraning Buda Cemeng, kalingania adnyana suksema pegating indria, Betari Manik Galih sira mayoga, nurunaken Sang Hyang Ongkara Mertha ring sanggar, muang ring luwuring aturu, astawakna ring seri nini kunang duluring diana semadi ring latri kala.”
Berdasarkan terjemahan terbitan Parisada Hindu Dharma Kabupaten Tabanan (1976), ajaran tersebut menegaskan bahwa keberadaan Buda Cemeng adalah simbol penyucian pikiran melalui pengendalian hawa nafsu (indria).
Pada hari suci ini, Bhatari Manik Galih diyakini melakukan payogan (meditasi agung) untuk mengalirkan Sang Hyang Omkara Amrta—inti hakekat kehidupan dan kedamaian—ke dunia nyata (skala).
Sarana Upakara dan Pelaksanaan Ritual
Untuk menyambut keberkahan dan rasa syukur atas anugerah kehidupan, ada beberapa prosesi serta sarana persembahan (upakara) yang dihaturkan oleh umat:
- Penghaturan Canang Wangi-wangi: Sebagai wujud rasa bakti dan wewangian suci penyejuk jiwa.
- Pemujaan di Sanggar dan Tempat Tidur: Penghaturan doa ditujukan di sanggar (tempat pemujaan keluarga) serta di atas tempat tidur sebagai simbol perlindungan saat beristirahat.
- Bakti kepada Sang Hyang Sri: Menghaturkan persembahan khusus kehadirat Sang Hyang Sri (Bhatari Sri) sebagai dewi kemakmuran dan kesuburan.
- Renungan Suci (Diana Semadi) di Malam Hari: Memasuki waktu malam (latri kala), umat dianjurkan melakukan meditasi dan perenungan diri secara tenang.
Kedamaian Jiwa sebagai Tujuan Utama
Rangkaian ritual dalam Buda Wage Merakih pada dasarnya mengarahkan manusia untuk sejenak berhenti mengejar materi semata. Melalui pemusatan pikiran dan pengendalian diri, umat diharapkan mampu meraih ketenangan batin, kedamaian sejati, serta kebahagiaan lahir dan batin.
***










