📷6 Ingkel dalam Kalender Bali/ ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Di tengah kehidupan masyarakat Bali yang kental dengan tradisi, Kalender Saka Bali menjadi pedoman penting dalam menentukan hari-hari baik untuk upacara keagamaan. Namun, tidak semua bulan dalam kalender ini dianggap ideal untuk melaksanakan ritual.
Istilah malaning sasih merujuk pada bulan-bulan yang dianggap kurang baik, yaitu sasih Jyesta dan Sada. Apa sebenarnya makna di balik istilah ini, dan bagaimana pengaruhnya dalam kehidupan umat Hindu di Bali?
Asal Usul Malaning Sasih
Kata malaning sasih berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Bali: mala yang berarti “tidak baik” dan sasih yang berarti “bulan”. Dalam Kalender Saka Bali, yang berakar pada tradisi Hindu, sasih Jyesta (bulan ke-11) dan Sada (bulan ke-12) dianggap sebagai periode yang kurang mendukung untuk melaksanakan upacara Panca Yadnya.
Penyebabnya terletak pada ketidakhadiran unsur Trilingga, yaitu harmoni antara Surya (matahari), Candra (bulan), dan Lintang Trenggana (bintang). Menurut Lontar Jyotisha, sebuah naskah kuno yang menjadi rujukan astrologi Bali, pada bulan Jyesta dan Sada, dua gugus bintang penting, yaitu Bintang Tenggala dan Bintang Kartika, tidak muncul di langit (ngerem).
Kedua bintang ini dianggap istimewa karena cahayanya yang terang dan simbol kemakmuran yang dibawanya. Ketidakhadiran mereka menyebabkan Trilingga tidak terwujud, sehingga bulan-bulan ini dianggap mala atau kurang baik untuk upacara keagamaan.
Bulan-Bulan Baik untuk Upacara
Sebaliknya, sepuluh bulan lainnya dalam Kalender Saka Bali—Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kaulu, Kasanga, dan Kadasa—dianggap sebagai waktu yang ideal untuk melaksanakan upacara. Pada bulan-bulan ini, unsur Trilingga hadir secara harmonis, menciptakan kondisi yang mendukung kegiatan spiritual. Umat Hindu di Bali memanfaatkan periode ini untuk menyelenggarakan berbagai ritual, mulai dari upacara keagamaan hingga perayaan adat.
Pengerepeting Sasih: Menyelaraskan Kalender Saka Bali
Konsep malaning sasih juga berkaitan erat dengan pengerepeting sasih, yaitu mekanisme penyesuaian dalam Kalender Saka Bali untuk menyelaraskan sistem Surya Pramana (perhitungan berdasarkan perputaran bumi mengelilingi matahari) dan Candra Pramana (perhitungan berdasarkan perputaran bulan mengelilingi bumi). Sistem Surya menghasilkan 365 hari dalam setahun, sedangkan sistem Candra menghasilkan 360 hari. Akibatnya, setiap tahun terjadi selisih lima hari, yang dalam enam tahun mencapai 30 hari atau setara dengan satu bulan.
Untuk menjaga keselarasan, setiap enam tahun sekali dilakukan pengerepet, yaitu menggandakan salah satu sasih, yang selalu jatuh pada Jyesta atau Sada secara bergantian. Pemilihan kedua bulan ini bukan tanpa alasan; status mala mereka membuatnya cocok sebagai bulan tambahan tanpa mengganggu jadwal upacara penting.
Makna Filosofis Nyepi dan Sasih Kadasa
Salah satu momen penting dalam Kalender Saka Bali adalah Hari Raya Nyepi, yang menandai tahun baru Saka. Nyepi selalu jatuh pada penanggal ping pisan sasih kadasa (tanggal 1 bulan ke-10) setelah tilem sasih kasanga (bulan mati pada bulan ke-9). Pada hari ini, matahari berada di posisi bajeging surya (di khatulistiwa), menciptakan keseimbangan kosmik yang dianggap suci.
Menariknya, mengapa tahun baru Saka Bali diperingati pada sasih Kadasa (bulan ke-10) dan bukan Kasa (bulan ke-1)? Dalam filosofi angka Bali, angka 10 dianggap setara dengan 0, sementara angka 9 adalah yang tertinggi. Sasih Jyesta (11) dan Sada (12) dianggap mala, sehingga Kadasa menjadi waktu yang ideal untuk memulai tahun baru, ditandai dengan Uttarayana—periode ketika matahari bergerak ke lintang utara, yang dianggap sebagai masa penuh kebaikan.
Ketepatan Perhitungan Pengerepet
Pada paruman Sulinggih di Pura Watukaru, Tabanan, pada 18 September 2001, disepakati bahwa perhitungan pengerepeting sasih harus memenuhi tiga syarat utama:
-
Tilem sasih katiga (bulan mati pada bulan ke-3) selalu jatuh pada bulan September, saat matahari bergerak menuju atau berada di selatan khatulistiwa.
-
Tilem sasih kapitu (bulan mati pada bulan ke-7) selalu tiba pada bulan Januari, ketika matahari bergerak menuju atau berada di utara khatulistiwa.
-
Tilem sasih kasanga (bulan mati pada bulan ke-9) selalu jatuh pada bulan Maret, saat matahari berada di khatulistiwa.
Ketepatan ini memastikan bahwa perayaan seperti Tawur Kesanga dan Nyepi berlangsung pada waktu yang selaras dengan siklus kosmik, memperkuat makna spiritualnya.
Warisan Budaya yang Hidup
Kalender Saka Bali bukan sekadar alat penghitung waktu, melainkan cerminan kearifan lokal yang menggabungkan ilmu astronomi, filosofi, dan spiritualitas. Konsep malaning sasih mengajarkan umat Hindu untuk menghormati ritme alam dan memilih waktu yang tepat untuk beribadah. Dengan menjaga keseimbangan antara Surya, Candra, dan Lintang, masyarakat Bali terus melestarikan tradisi yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Melalui pemahaman tentang malaning sasih dan pengerepeting sasih, kita diajak untuk mengapresiasi betapa dalamnya kearifan budaya Bali. Tradisi ini bukan hanya soal perhitungan hari, tetapi juga tentang bagaimana manusia hidup selaras dengan alam dan semesta.
***














