
📷ilusterasi Tari Jangkang/ ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM –Â Desa Cempaga di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, menyimpan kekayaan budaya seni pertunjukan yang kental dengan suasana mistis dan spiritual. Sebagai salah satu desa tua atau Bali Aga, desa ini memiliki deretan kesenian sakral yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Di antara warisan tersebut, Tari Jangkang menjadi tradisi penting yang rutin dipentaskan pada rahina Umanis Kuningan di Pura Desa Cempaga.
Pementasan Tari Jangkang berkaitan erat dengan sistem kepercayaan masyarakat setempat. Bendesa Adat Cempaga, Putu Karya Dharma, menjelaskan bahwa keberadaan tarian ini berakar dari bentuk ekspresi spiritual warga untuk menghormati para leluhur sekaligus menjaga keseimbangan alam sekala (nyata) dan niskala (gaib).
Hari Raya Galungan membawa makna kemenangan dharma (kebajikan) atas adharma (kejahatan). Sementara itu, Kuningan menjadi penanda kembalinya para leluhur ke kahyangan. Dalam momen inilah anak-anak Desa Cempaga membawakan Tari Jangkang sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan.
Ritual Penyucian Diri Sebelum Naik Pentas
Suasana sakral terasa bahkan sebelum gamelan pertama ditabuh. Seluruh penari wajib menjalani prosesi melukat di Pura Desa Cempaga. Ritual pembersihan diri secara lahir dan batin ini bertujuan memohon izin serta perlindungan kepada Hyang Widhi Wasa dan roh leluhur.
Melalui melukat, para penari memasuki ruang spiritual yang bersih sehingga mampu memancarkan taksu atau aura magis selama menari. Usai penyucian diri, pertunjukan dimulai di area madya mandala (halaman tengah Pura) pada pukul 07.30 hingga 08.30 WITA.
Gaya pembawaan tarian ini tergolong tegas dan penuh energi. Anak-anak yang membawakannya bergerak menyerupai prajurit gagah berani di medan laga. Irama gamelan yang dinamis berpadu rapat dengan hentakan kaki serta tatapan mata penari yang tajam, menghidupkan suasana religius yang pekat.
Gerakan Prajurit dan Senjata Khas
Secara teknis, gerak Tari Jangkang didominasi oleh struktur koreografi bertema keprajuritan:
- Ngayog: Gerakan yang melambangkan sikap siaga dan penguasaan keseimbangan tubuh.
- Nengkleng: Langkah kaki penuh penekanan yang menegaskan keteguhan sikap.
- Pergantian Posisi: Perubahan formasi teratur yang menggambarkan strategi peperangan.
Penari mengenakan busana adat Bali seperti baju kemeja putih lengan panjang, badong, samir, kamen, dan udeng. Perlengkapan tarian dilengkapi dengan senjata keris di pinggang sebagai lambang kewaspadaan, serta tongkat klengisan yang terbuat dari pelepah pohon sejenis enau (palempaleman). Tongkat khusus ini menjadi ciri khas tarian di Desa Cempaga yang difungsikan secara simbolis sebagai sarana penolak bala.
Setelah pementasan di madya mandala selesai, rombongan penari bergeser menuju utama mandala (area dalam pura) pada pukul 08.30 hingga 09.00 WITA. Di area ini, Jro Mangku Desa percikkan tirta (air suci) sebagai lambang penerimaan berkah dewata sekaligus pengembalian energi suci usai pementasan.
Kekayaan Seni Tari Sakral Desa Cempaga
Tari Jangkang ditarikan oleh sekelompok anak-anak yang sudah mepinggah (tanggal gigi). Tarian ini melambangkan ketangguhan prajurit dalam menghadapi masa Tiga Buta Dungulan.
Selain Tari Jangkang, Desa Cempaga memiliki ragam tarian sakral lain yang dipentaskan pada waktu-waktu tertentu:
1. Tari Baris
Tarian perang yang dibawakan oleh pria dewasa untuk menggambarkan jiwa kepahlawanan.
- Baris Jojor (Nyawi): Ditarikan secara tunggal oleh penari pria, menampilkan langkah tegap dan wibawa seorang prajurit di medan tempur.
- Baris Dadap: Ditarikan secara berkelompok dan sering diiringi tarian tapel. Tarian ini bertujuan menetralkan pengaruh negatif unsur bhuta kala demi menegakkan dharma.
2. Tari Pendet
Tarian pemujaan di Pura Desa Cempaga sebagai simbol penyambutan turunnya Panca Dewata ke bumi. Tarian ini dibawakan oleh enam penari dalam satu rangkaian pertunjukan yang menggabungkan beberapa jenis tarian: dua penari berpasangan (rendet), penari tunggal (tari jauk), dan diakhiri oleh penari wanita (tari condong).
3. Tari Rejang
Tarian kelompok wanita yang dilangsungkan dari malam hingga pagi hari di Pura Puseh Agung. Tarian ini melambangkan wujud bidadari (widyadara-widyadari) yang menuntun para dewata. Warga meyakini keikutsertaan dalam Tari Rejang membawa ketenangan jiwa dan kedamaian spiritual.
Jenis-jenis Tari Rejang yang ada di Desa Cempaga meliputi:
- Rejang Beneh
- Rejang Tuding Pelayon
- Rejang Lilit Nyali
- Rejang Sirig Buntas
- Rejang Embung Kelor
- Rejang Kepet
- Rejang Galuh
- Rejang Pengecek Galuh
- Rejang Dephe
- Rejang Bungkol
- Rejang Renteng
- Rejang Lilit
- Rejang Legong
- Rejang Unda
4. Tari Selir (Darot)
Tarian yang sangat sakral dan tidak ditiru sembarangan. Penari membawakan tarian ini dalam kondisi kerawuhan atau ketagihan (trance) di luar kesadaran biasa. Tari Selir menjadi wujud tapakan Ida Betara di Pura Puseh Desa Baliagung serta merajan dadia saat puncak upacara Kuningan atau Karya Agung Muayon. Seluruh rangkaian seni pertunjukan di Desa Cempaga menunjukkan bagaimana nilai tradisi, sejarah, dan penghormatan kepada leluhur terus hidup di tengah masyarakat Buleleng.
***Sumber Artikel:
Lihat Sumber
- Beragam sumber













