📷ilustrasi Penjor Galungan di Bali/ ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Umat Hindu di seluruh pelosok Bali menyambut Hari Suci Galungan dengan penuh rasa syukur dan sukacita. Pura-pura desa seketika ramai oleh warga yang datang untuk bersembahyang. Momentum ini menjadi tonggak penting perayaan kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan) yang jatuh setiap enam bulan sekali berdasarkan kalender Bali.
Namun, suasana berbeda dan memikat justru tersaji di Kabupaten Karangasem. Keunikan yang mencolok terlihat nyata di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis. Sebagai salah satu desa Bali Aga atau desa purba di Pulau Dewata, Tenganan Pegringsingan memiliki cara tersendiri untuk memaknai hari kemenangan ini. Nuansa perayaan di desa ini menyajikan pemandangan yang kontras jika kita bandingkan dengan wilayah Bali pada umumnya.
Ritual Khusus Tanpa Berkeliling Pura dan Tanpa Penjor
Pada perayaan Galungan umumnya, masyarakat Hindu berbondong-bondong melakukan persembahyangan keliling ke sejumlah pura di desa mereka, kemudian melanjutkan ritual di rumah masing-masing. Pemandangan berbeda justru tampak di Tenganan Pegringsingan. Warga desa tidak melaksanakan ritual keliling tersebut secara massal.
Prosesi persembahyangan diwakili oleh perwakilan warga yang ditunjuk secara khusus. Mereka mempersembahkan tiga sesajen utama yang dikenal dengan nama Banten Uduan. Hal lain yang paling mencolok mata adalah absennya penjor. Jika jalanan Bali biasanya semarak dengan deretan penjor bambu yang menjulang tinggi melengkung, warga Tenganan Pegringsingan sama sekali tidak memasang penjor di depan kediaman mereka.
Filosofi Agung di Balik Banten Uduan
Perbedaan mendasar juga terletak pada bentuk dan tata cara pembuatan sarana upakara. Pembuatan Banten Uduan tidak dikerjakan oleh setiap keluarga. Pembuatannya menjadi tanggung jawab perwakilan warga yang telah mendapatkan mandat langsung dari prajuru (pengurus) desa adat. Perwakilan ini bekerja secara bergiliran berdasarkan sistem komunal yang berlaku di desa.
Sarana upakara yang dipersembahkan memiliki struktur yang spesifik dan tampak megah, yang terdiri dari:
- Enam Tumpeng Besar: Memiliki ketinggian mencapai 40 sentimeter.
- Jajanan Tradisional: Dilengkapi dengan berbagai jenis jajan khas Bali.
- Buah Hasil Bumi: Memanfaatkan buah-buahan lokal asli yang segar.
- Tiga Dulang Besar: Seluruh sarana tersebut ditata dengan rapi di atas tiga wadah dulang berukuran besar.
Setelah seluruh sarana upacara siap, prajuru desa adat mengantarkan sesajen tersebut ke tiga tempat suci utama sesuai dengan kedudukan ritualnya, yaitu Pura Puseh, Pura Bale Agung, dan Pura Ulun Swarga.
Detail Prosesi Penyembelihan dan Makna Simbolis
Prajuru Desa Adat Tenganan Pegringsingan menegaskan bahwa desa mereka tetap menaruh rasa hormat yang mendalam terhadap Hari Raya Galungan. Garis pelaksanaannya memang diwariskan secara berbeda dari generasi ke generasi. Bentuk sesajen yang khas dan ketiadaan penjor di desa ini merupakan simbol murni untuk menghormati kebesaran serta keagungan alam semesta.
Perbedaan lini waktu dan proses persiapan juga terlihat sangat kontras. Ketika umat Hindu lain sibuk dengan tahapan seperti hari Penyekeban, Penyajaan, dan Penampahan, masyarakat Tenganan Pegringsingan menerapkan kontrol proses yang sangat ketat dan terjadwal. Mereka memberikan perhatian penuh pada ketepatan waktu kapan tahapan-tahapan tersebut harus dieksekusi.
Persiapan inti upacara Galungan di desa ini berfokus pada hari Kebantenan. Pada hari tersebut, warga melakukan prosesi pemotongan babi dengan ukuran yang lebih kecil. Daging hasil sembelihan itu langsung diolah pada hari Kebantenan itu juga untuk keperluan upakara. Olahan daging inilah yang menjadi bagian utama dari pembentukan Banten Uduan, yang dikerjakan bersama oleh krama desa adat yang mendapat giliran tugas. Selanjutnya, sarana suci ini dihaturkan di Pura Puseh, Pura Bale Agung, dan Pura Ulun Swarga.
Kalender Adat dan Fokus Perayaan Besar Desa
Berdasarkan kalender adat yang berlaku di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Hari Raya Galungan memang tidak diposisikan sebagai hari raya terbesar utama sebagaimana yang diyakini oleh masyarakat Hindu Bali pada umumnya.
Desa Bali Aga yang penuh sejarah ini memiliki tatanan ritual tersendiri. Mereka memegang teguh hari raya besar mereka sendiri yang berskala utama, yaitu Ngusaba Samba. Upacara besar Ngusaba Samba ini diselenggarakan secara berkala setiap satu tahun sekali. Ritual tersebut menjadi pusat dari seluruh rangkaian ritual sakral masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan.
***












