
📷Filosofi Sebelas Nyuh dalam Ritual Hindu: Manifestasi Dewata Nawa Sanga dan Simbol Alam Semesta/ ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Dalam setiap jengkal pelaksanaan upakara yadnya di Bali, buah kelapa atau nyuh memegang peranan yang sangat krusial. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap, melainkan memiliki kedalaman filosofi yang ditentukan berdasarkan bentuk, jenis, dan nama upacaranya.
Tercatat, terdapat 11 jenis kelapa yang secara spesifik digunakan dalam berbagai ritual masyarakat Hindu di Bali.
Dr. Wayan Murniti, Dosen Upakara IAHN Mpu Kuturan, memaparkan bahwa kesebelas jenis kelapa tersebut sarat akan makna filosofis. Penggunaannya membentang luas, mulai dari upacara Manusa Yadnya hingga Dewa Yadnya.
Berikut adalah rincian sebelas jenis kelapa tersebut beserta fungsinya dalam tradisi Hindu:
Makna Nyuh Solah dalam HIndu Bali
1. Nyuh Gading (Kelapa Raja)
Nyuh Gading merupakan sebutan lokal untuk kelapa genjah yang dikenal secara nasional sebagai kelapa raja. Dalam ritual Dewa Yadnya, kelapa ini menjadi sarana utama dalam banten sesayut prayascita luwih, prayascita sakti, hingga pedudusan agung.
Pada ranah Manusa Yadnya, Nyuh Gading digunakan untuk upacara pewintenan, potong gigi, serta sarana pengelukatan. Sementara pada Pitra Yadnya, ia berfungsi sebagai tempat abu puspa sarira. Untuk Bhuta Yadnya, kelapa ini hadir dalam caru panca sato. Bagian yang diambil meliputi kelungah (kelapa muda), kelapa tua, dan janurnya. Secara simbolis, Nyuh Gading adalah stana Dewa Mahadewa yang menguasai arah barat.
2. Nyuh Bulan
Kelapa ini memiliki ciri fisik berwarna kuning gading atau putih bersih. Dalam Dewa Yadnya, Nyuh Bulan menjadi sarana pedudusan agung. Pada Manusa Yadnya, ia digunakan untuk eteh-eteh pedudusan alit dan pangulapan. Buah ini merupakan simbol kesucian dan perwujudan Dewa Iswara yang berstana di arah timur.
3. Nyuh Gadang (Kelapa Puyuli)
Dikenal sebagai kelapa bagi, Nyuh Gadang digunakan dalam ritual pedudusan agung dan eteh-eteh pedudusan alit. Pada ritual Bhuta Yadnya, kelapa ini muncul dalam tebasan durmengala. Air dan warna buahnya dipercaya sebagai lambang pembersihan jasmani dan rohani.
4. Nyuh Mulung (Kelapa Hijau)
Nyuh Mulung identik dengan warna hijau tua. Dalam Manusa Yadnya, kelapa ini menjadi syarat wajib banten mewinten. Sedangkan dalam Bhuta Yadnya, ia digunakan untuk tebasan durmengala. Secara filosofis, Nyuh Mulung adalah simbol perwujudan Dewa Wisnu yang menguasai arah utara.
5. Nyuh Bojog
Meskipun termasuk jenis kelapa hijau, Nyuh Bojog memiliki karakteristik khusus dalam tradisi lokal. Penggunaannya terfokus pada upacara pedudusan agung. Bagian yang digunakan adalah kelungah. Kelapa ini merepresentasikan Dewa Sangkara yang berada di arah barat laut.
6. Nyuh Rangda atau Nyuh Bingin
Kelapa ini termasuk jenis kelapa dalam yang berwarna merah. Penggunaannya sangat spesifik untuk upacara pedudusan agung pada Dewa Yadnya. Bagian yang diambil adalah kelapa tua (nyuh). Ia menjadi simbol perwujudan Dewa Rudra yang menguasai arah barat daya.
7. Nyuh Macan
Sesuai namanya, kelapa merah ini memiliki karakter yang kuat. Nyuh Macan digunakan dalam banten catur pada upacara nganteg linggih dan pedudusan agung. Karakter “macan” di sini melambangkan kekuatan yang kokoh agar sebuah tatanan tetap ajeg (stabil) dan tegteg (kuat).
8. Nyuh Bejulit
Nyuh Bejulit merupakan jenis kelapa hijau yang digunakan dalam ritual pedudusan agung. Melalui kandungan air dan warna buahnya, kelapa ini menjadi simbol suci dari manifestasi Tuhan sebagai Dewa Sambhu yang menjaga arah timur laut.
9. Nyuh Surya
Kelapa merah ini digunakan dalam ritual pedudusan agung serta upacara pewintenan. Dr. Murniti menjelaskan bahwa baik kelungah maupun kelapa tuanya merupakan simbol perwujudan Dewa Maheswara yang berstana di arah tenggara.
10. Nyuh Sudamala
Nyuh Sudamala memiliki peran lintas ritual, mulai dari Dewa Yadnya, Manusa Yadnya, hingga Bhuta Yadnya. Kelapa ini adalah simbol dari Dewa Ciwa yang berada di posisi tengah. Warnanya yang campuran (brumbun) melambangkan keseimbangan dan penyucian total.
11. Nyuh Udang atau Nyuh Brahma
Kelapa merah ini digunakan secara luas dalam pedudusan agung, banten byakala, hingga caru panca sato. Sesuai namanya, Nyuh Udang adalah simbol perwujudan Dewa Brahma yang menguasai arah selatan.
Simbol Pembersihan dan Struktur Alam Semesta
Dr. Wayan Murniti menegaskan bahwa seluruh bagian kelapa, mulai dari sabut, tempurung, daging, hingga airnya, dapat dimanfaatkan untuk upakara yadnya. Secara mendasar, kelungah melambangkan penyucian jiwa dan raga, sedangkan kelapa tua (nyuh) adalah representasi dari Bhuwana Agung (alam semesta) dan Bhuwana Alit (tubuh manusia).
Pemanfaatan kelapa ini bertujuan untuk menyucikan bangunan suci atau pelinggih agar bersih dari noda secara niskala (spiritual), serta menyucikan diri manusia yang melaksanakan upacara.
Dalam pustaka Lontar Aji Sangkhya, struktur kelapa bahkan digambarkan sebagai miniatur alam semesta yang terdiri dari 14 lapisan. Tujuh lapisan di bawah disebut Sapta Patala dan tujuh lapisan di atas disebut Sapta Loka.
Representasi Sapta Loka pada Kelapa:
- Air: Lambang mahalala.
- Isi Lembut: Lambang tala-tala.
- Isi: Lambang lala.
- Lapisan pada Isi: Simbol antala.
- Lapisan Isi Keras: Lambang sutala.
- Lapisan Tipis Dalam: Lambang nitala.
- Batok (Tempurung): Lambang patala.
Lebih jauh lagi, serat-serat pada kelapa menggambarkan tingkatan langit:
- Bulu Batok: Lambang Bhur Loka.
- Serat Saluran: Lambang Bhwah Loka.
- Serat Serabut: Lambang Swah Loka.
- Serabut Basah: Lambang Maha Loka.
- Serabut Kering: Lambang Jnana Loka.
- Kulit Serat Kering: Lambang Tapa Loka.
- Kulit Keras Kering: Lambang Setia Loka.
Penggunaan sebelas jenis kelapa ini pada akhirnya adalah bentuk pemujaan kepada Dewata Nawa Sanga. Setiap arah mata angin memiliki penguasanya sendiri, dan setiap jenis kelapa menjadi jembatan spiritual untuk menghubungkan manusia dengan kekuatan manifestasi Tuhan tersebut.
***












