Tayang: Minggu, 1 November 2026 14:59 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – Dua hari menjelang Pagerwesi dikenal dengan rahinan Soma Ribek, ini sebenarnya masih rangkaian dengan Saraswati. Hari Soma Ribek merupakan salah satu hari suci dalam kalender Hindu Bali yang memiliki hubungan erat dengan penghormatan terhadap pangan dan kemakmuran. Peringatan ini jatuh setiap Soma (Senin), pada wuku Sinta.

Dalam tradisi Hindu, Soma Ribek menjadi momentum bagi umat untuk memuja Dewi Sri sebagai manifestasi Tuhan yang memberikan anugerah kesejahteraan, khususnya dalam bentuk hasil bumi dan bahan pangan.

Perayaan ini mengandung nilai spiritual sekaligus mengajarkan manusia untuk menghargai sumber kehidupan. Padi, beras, dan berbagai hasil pertanian memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Karena itu, pelaksanaan Soma Ribek berkaitan erat dengan tempat penyimpanan pangan, perlengkapan rumah tangga, serta sarana persembahan yang digunakan dalam pemujaan.

Pada hari suci ini, umat Hindu menghaturkan banten atau sesaji di sejumlah tempat yang berhubungan dengan ketersediaan pangan. Setiap persembahan memiliki penempatan dan kelengkapan tersendiri sesuai dengan tradisi yang dijalankan di masing-masing keluarga.

Makna Hari Soma Ribek dan Pemujaan Dewi Sri

Soma Ribek diperingati sebagai bentuk rasa syukur atas karunia pangan yang menopang kehidupan manusia. Dalam kepercayaan Hindu Bali, Dewi Sri melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan, terutama yang bersumber dari hasil pertanian.

Pemujaan kepada Dewi Sri juga dikenal melalui sebutan Sang Hyang Sri Amertha. Beliau diyakini sebagai manifestasi Tuhan yang menganugerahkan kemakmuran serta berbagai kebutuhan pangan bagi kehidupan.

Melalui persembahan pada Soma Ribek, umat Hindu menyampaikan rasa terima kasih atas rezeki dan kecukupan yang diterima. Ritual ini sekaligus menjadi pengingat agar manusia senantiasa menjaga sumber pangan, menghormati hasil bumi, dan tidak mengabaikan keberadaan alam yang memberikan kehidupan.

Tempat Menghaturkan Banten Soma Ribek

Pelaksanaan persembahyangan Soma Ribek dilakukan dengan menghaturkan banten pada tempat-tempat yang memiliki kaitan dengan penyimpanan pangan dan kebutuhan sehari-hari. Penempatan sesaji mengikuti fungsi masing-masing tempat serta kebiasaan yang diwariskan dalam lingkungan keluarga.

Berikut beberapa lokasi yang digunakan untuk menghaturkan persembahan:

1. Tempat penyimpanan bahan pangan

Tempat penyimpanan padi dan beras menjadi bagian utama dalam pelaksanaan Soma Ribek. Lokasi yang digunakan meliputi:

  • Lumbung atau jineng, yaitu bangunan untuk menyimpan padi.
  • Pulu, yakni wadah penyimpanan beras di dapur.
  • Tempat nasi.
  • Tempat air.

2. Area suci di lingkungan rumah

Persembahan juga dihaturkan pada sejumlah tempat suci yang berada di pekarangan rumah maupun area sekitarnya. Banten inti diletakkan di atas canang raka untuk melengkapi persembahan pada tempat-tempat berikut:

  • Tugu pekarangan.
  • Pelangkiran di rumah dan dapur.
  • Setiap pelinggih yang berada di merajan atau sanggah.
  • Area kebun.

3. Perlengkapan penunjang kehidupan sehari-hari

Beberapa perlengkapan rumah tangga juga menjadi tempat menghaturkan sesaji. Untuk lokasi ini, umat cukup mempersembahkan banten inti tanpa tambahan canang raka.

Tempat yang dimaksud meliputi:

  • Tungku atau kompor.
  • Tempat menyimpan uang.
  • Tempat menyimpan pakaian.

Penempatan banten tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi Soma Ribek menghubungkan rasa syukur kepada Tuhan dengan berbagai sarana yang menunjang kehidupan keluarga.

Bahan Banten Inti Soma Ribek dan Cara Menghaturkannya

Dalam tradisi yang dijalankan di lingkungan keluarga, banten inti Soma Ribek dipersembahkan pada pagi hari. Sesaji ini menggunakan beberapa bahan yang berasal dari hasil bumi dan olahan pangan.

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat banten inti antara lain:

  • Ituk-ituk (celemik gede): digunakan sebagai wadah untuk menempatkan bahan persembahan.
  • Base sari: menjadi salah satu kelengkapan dalam susunan banten.
  • Ketan menyahnyah: beras ketan yang disangrai hingga matang.
  • Irisan hasil bumi: terdiri atas kelapa, gula aren, tebu, pisang, nanas, jambu biji, dan jeruk.

Seluruh bahan tersebut disusun sebagai persembahan kepada Dewi Sri. Ragam hasil bumi yang digunakan mencerminkan kekayaan pangan yang menjadi sumber kebutuhan masyarakat.

Dalam proses menghaturkan banten, terdapat perbedaan kelengkapan berdasarkan tempat persembahannya. Jika banten inti ditujukan untuk tugu pekarangan, pelangkiran rumah dan dapur, kebun, lumbung, serta tempat penyimpanan beras, sesaji dilengkapi dengan canang raka. Banten inti kemudian diletakkan di atas canang raka sebelum dihaturkan.

Sementara itu, untuk tempat nasi, tempat air, tungku atau kompor, tempat menyimpan uang, dan tempat menyimpan pakaian, persembahan cukup menggunakan banten inti saja.

Tata cara tersebut merupakan salah satu bentuk pelaksanaan tradisi Soma Ribek yang berkembang di lingkungan keluarga Hindu Bali. Susunan dan kelengkapan banten dapat mengikuti dresta atau kebiasaan setempat.

Pantangan Hari Soma Ribek Menurut Tradisi Hindu Bali

Soma Ribek memiliki sejumlah pantangan yang berkaitan dengan aktivitas pertanian dan pengolahan hasil pangan. Ketentuan ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama, salah satu teks yang menjadi rujukan pelaksanaan hari raya Hindu di Bali.

Pada hari tersebut, umat Hindu secara tradisional menghindari tiga kegiatan utama, yaitu memetik hasil pertanian, mengolah padi menjadi beras, serta memperjualbelikan hasil panen tertentu.

Penyusun buku Rerahinan Hari Raya Umat Hindu, Wayan Budha Gautama, menjelaskan bahwa terdapat tiga pantangan yang dijalankan saat Soma Ribek, yakni:

  1. Mengetam padi dan memetik buah-buahan.
  2. Menumbuk padi serta menyosoh gabah.
  3. Menjual hasil pertanian, termasuk padi dan beras.

Dalam tradisi yang bersumber dari lontar Sundarigama, pelanggaran terhadap pantangan tersebut dikaitkan dengan kutukan Batari Sri. Umat yang mengabaikannya dipercaya akan mengalami kesulitan dalam urusan pangan.

Pantangan ini memiliki hubungan dengan cara masyarakat Bali menghormati Dewi Sri sebagai pemberi anugerah kemakmuran. Berpantang atau menjalankan brata menjadi salah satu bentuk penghormatan yang dilakukan melalui pengendalian aktivitas sehari-hari.

Bagi petani yang masih menjalankan tradisi tersebut, Soma Ribek menjadi waktu untuk menghentikan sementara kegiatan di sawah. Kesempatan ini digunakan untuk memusatkan perhatian pada pemujaan Sang Hyang Sri Amertha.

Brata sebagai Bentuk Penghormatan dalam Hari Raya Hindu Bali

Tradisi berpantang dalam perayaan Hindu di Bali memiliki tujuan spiritual yang berkaitan dengan pengendalian diri. Umat diajak mengurangi aktivitas tertentu agar dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap makna hari suci yang sedang dirayakan.

Dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, I Made Wiradnyana, menjelaskan bahwa berbagai pantangan dalam hari raya Hindu memberikan kesempatan kepada umat untuk memusatkan diri pada kegiatan spiritual.

Menurutnya, perayaan hari suci bagi masyarakat Hindu Bali berkaitan dengan proses pendakian spiritual. Karena itu, sejumlah hari raya disertai ketentuan yang mengatur perilaku dan aktivitas umat.

Pola penghormatan melalui brata juga ditemukan dalam beberapa perayaan lainnya.

Saat Hari Saraswati, umat Hindu menjalankan pantangan membaca dan menulis sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Hyang Aji Saraswati, manifestasi Tuhan yang menganugerahkan ilmu pengetahuan.

Pada Buda Wage Kelawu, masyarakat Bali mengenal tradisi menghindari transaksi tunai atau menjalani sehari tanpa menggunakan uang. Tradisi tersebut berkaitan dengan penghormatan kepada Sri-Sadhana sebagai pemberi anugerah kemakmuran berupa dana.

Sementara itu, perayaan Nyepi dilaksanakan melalui Catur Brata Penyepian yang mengatur berbagai aktivitas umat selama pergantian Tahun Baru Saka.

Rangkaian tradisi tersebut memperlihatkan bahwa brata memiliki tempat penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali. Pengendalian aktivitas menjadi sarana untuk mengingat kembali anugerah yang diterima sekaligus menjaga hubungan manusia dengan sumber kemakmuran.

Makna Pantangan Soma Ribek bagi Ketahanan Pangan

Di balik ketentuan untuk tidak memetik hasil pertanian, menumbuk padi, dan menjual beras, terdapat pesan mengenai pentingnya menjaga sumber pangan.

I Made Wiradnyana menjelaskan bahwa kisah kutukan Batari Sri dapat dipahami sebagai bentuk pengendalian diri agar manusia tetap menghargai sumber-sumber kemakmuran dalam kehidupannya.

Pangan memiliki kedudukan mendasar karena menjadi kebutuhan utama manusia. Keberadaan sawah, petani, dan sektor pertanian berperan besar dalam menjaga ketersediaan bahan makanan bagi masyarakat.

Ketika manusia mulai mengabaikan keberadaan lahan pertanian dan sumber pangan, ketahanan pangan berpotensi mengalami gangguan. Dalam konteks ini, pantangan Soma Ribek mengandung pesan agar masyarakat tidak melupakan proses panjang yang menghasilkan makanan untuk kehidupan sehari-hari.

Penghormatan kepada Dewi Sri melalui ritual keagamaan juga mengingatkan umat tentang hubungan antara manusia, alam, dan hasil bumi. Padi dan beras yang tersedia di rumah merupakan bagian dari anugerah yang perlu dijaga serta dimanfaatkan secara bijaksana.

Banten Soma Ribek dalam Tradisi Pemujaan di Lumbung dan Dapur

Pelaksanaan Soma Ribek secara tradisional memiliki hubungan khusus dengan lumbung dan pulu. Kedua tempat tersebut dipercaya sebagai linggih atau stana Sang Hyang Sri Amertha.

Lumbung berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi hasil panen, sedangkan pulu digunakan untuk menyimpan beras di dapur. Keduanya menjadi sarana penting dalam kehidupan masyarakat agraris Bali sehingga memperoleh perhatian khusus saat perayaan Soma Ribek.

Jenis banten yang dihaturkan dapat berbeda menurut kebiasaan keluarga dan desa setempat. Beberapa persembahan yang dikenal dalam tradisi ini meliputi nyahnyah geti-geti, gringsing, raka-raka pisang emas, serta canang lengawangi.

Ada pula umat yang melengkapi persembahan dengan canang raka dan tipat sari. Beragam sarana tersebut menjadi bagian dari ritual penghormatan kepada Sang Hyang Sri Amertha atas anugerah pangan yang diterima.

Kehadiran banten di lumbung dan dapur memperlihatkan kedekatan ritual Soma Ribek dengan kehidupan rumah tangga. Tempat penyimpanan bahan makanan memiliki nilai spiritual karena berkaitan langsung dengan kecukupan pangan keluarga.

Soma Ribek sebagai Hari Pangan dalam Tradisi Bali

Dalam buku Rerahinan Hari Raya Umat Hindu, Wayan Budha Gautama menyebut Soma Ribek sebagai hari turunnya pangan ke dunia. Pemaknaan tersebut membuat perayaan ini kerap dikaitkan dengan Hari Pangan ala Bali.

Peringatan tersebut memiliki relevansi dengan perayaan Hari Pangan Sedunia yang berlangsung setiap 16 Oktober. Penetapan Hari Pangan Sedunia dilakukan melalui Konferensi Umum negara-negara anggota FAO (Food and Agriculture Organization), organisasi pangan dan pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada November 1979. Peringatan resminya mulai dilaksanakan pada 1981.

Tradisi Soma Ribek sendiri telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali sejak masa lampau. Melalui pemujaan Dewi Sri, penghormatan terhadap hasil panen, dan pantangan yang dijalankan, masyarakat menjaga ingatan kolektif mengenai pentingnya pangan.

Nilai tersebut masih relevan dalam kehidupan sekarang. Ketersediaan makanan berkaitan dengan keberlangsungan pertanian, kesejahteraan masyarakat, serta kesadaran untuk menjaga sumber daya alam.

Bagi umat Hindu Bali, Soma Ribek menjadi kesempatan untuk menyampaikan rasa syukur atas pangan yang tersedia sekaligus menghormati proses yang memungkinkan hasil bumi sampai ke meja makan keluarga.

***

Cek Usiamu Dulu Ya...

Anda harus sudah cukup umur untuk mengakses situs ini.

PERINGATAN: Situs web ini berisi konten yang dibatasi berdasarkan usia.

💬 Tanya AI