📷Tirta Empul di Gianyar menjadi pilihan tempat paling populer untuk melaksanakan tradisi melukat di Bali/ ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Ritual melukat kini menjadi sorotan, tak hanya di kalangan masyarakat Bali, tetapi juga publik luas, termasuk wisatawan dan pesohor. Dalam tradisi Hindu Bali, melukat adalah upacara pembersihan diri, baik lahir maupun batin, yang biasanya dilakukan di pancoran, pertemuan dua aliran air, atau tepi pantai.
Sanur, kawasan wisata di Denpasar, Bali, memiliki dua pura yang dikenal sebagai tempat melukat favorit, yakni Pura Campuhan Windhu Segara dan Pura Dalem Pengembak. Berikut ulasan lengkap tentang kedua pura ini, lengkap dengan tata cara dan sarana yang diperlukan.
Pura Campuhan Windhu Segara: Harmoni Air Suci di Pantai Padang Galak
Terletak di tepi Pantai Padang Galak, Desa Kesiman, Denpasar, Pura Campuhan Windhu Segara menjadi destinasi populer bagi umat Hindu yang ingin melukat. Pura ini dikenal sebagai tempat pengelukatan untuk menyucikan jiwa dan raga, sebagaimana dijelaskan oleh Jro Mangku Ketut Maliarsa, pengelola pura.
“Pura ini sering dikunjungi pemedek untuk membersihkan diri dari pengaruh negatif, baik secara fisik maupun spiritual, dilengkapi dengan persembahyangan di penataran pura,” ujar Jro Mangku Ketut Maliarsa belum lama ini.
Untuk melukat di pura ini, pemedek perlu menyiapkan sarana seperti dua banten pejati, canang sari, dan klungah nyuh gading (kelapa muda berwarna kuning). “Satu pejati digunakan untuk pengelukatan dasa mala, sementara pejati lainnya dipersembahkan setelah ritual selesai di penataran pura, disertai canang sari,” jelasnya.
Proses melukat dimulai dengan piuning (pemberitahuan) di Pelinggih Hyang Baruna untuk memohon izin. Kemudian, pemedek menjalani pengelukatan Panca Tirtha dan Sapta Sindhu untuk membersihkan dasa mala, menggunakan klungah nyuh gading di linggih Bhatara Wisnu. Setelah itu, mereka mandi di campuhan, titik pertemuan air sungai dan laut, yang dianggap suci menurut ajaran Weda.
“Melukat bisa dilakukan kapan saja, tetapi hari-hari suci seperti Kajeng Kliwon, Purnama, atau Tilem adalah waktu yang paling dianjurkan,” tambah Jro Mangku Ketut Maliarsa.
Menariknya, pura ini tak hanya ramai dikunjungi pemedek lokal, tetapi juga wisatawan asing. Bahkan, sebelum pandemi COVID-19, pejabat tinggi seperti Sekretaris Jenderal Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pernah melukat di sini.
Banyak yang merasakan ketenangan batin setelah menjalani ritual, terutama karena keistimewaan campuhan air laut dan sungai. Pura Campuhan Windhu Segara sendiri merupakan pura kahyangan jagat dengan tatanan Tri Mandala, yang resmi diakui oleh Pemerintah Provinsi Bali dan Parisada Hindu Dharma Indonesia pada 9 September 2016.
Pura Dalem Pengembak: Pembersihan Aura Negatif dan Doa Kemakmuran
Tak jauh dari pusat Sanur, Pura Dalem Pengembak menjadi pilihan lain untuk melukat. Pura ini menggelar pujawali setiap Purnama Kedasa, menarik pemedek dari berbagai daerah. Menurut Jro Mangku Made Ranten, pengelola pura, tempat ini dikenal sebagai pelebur aura negatif dalam diri manusia.
“Pemedek datang untuk memohon kesembuhan, terutama dari penyakit non-medis, serta kelancaran usaha,” ungkap Jro Mangku Made Ranten. Keberadaan Pelinggih Ratu Ayu Mas Subandar, yang dianggap sebagai Dewi Kemakmuran, membuat pura ini diyakini mampu membuka jalan rezeki. Nama “Pengembak” sendiri berarti “pembuka,” mengacu pada harapan kelancaran dalam usaha.
Sarana yang diperlukan untuk melukat di Pura Dalem Pengembak mencakup dua banten pejati dan dua bungkak nyuh gading. Ritual diawali dengan mandi di campuhan, kolam yang mengalir dari muara Sungai Pengembak bercampur rembesan air laut. Setelah itu, pemedek menjalani pengelukatan pertama di Pura Taman Sari, dipimpin oleh Jro Mangku Ranten. Pemedek berdiri berjajar, disiram air suci secara bergiliran sambil dilantunkan mantra.
Dengan pakaian masih basah, pemedek kemudian bersembahyang di Pura Taman Sari sesuai permohonan masing-masing. Ritual dilanjutkan dengan pengelukatan kedua di Jaba Pura Dalem Pengembak, diakhiri dengan sembahyang bersama di Jeroan Pura Dalem Pengembak, tempat bersemayamnya Ratu Ayu Manik Mas Meketel dan Ida I Gusti Ngurah Jom. Prosesi ditutup dengan nunas tirta (memohon air suci) sebagai simbol penyucian.
Mengapa Kajeng Kliwon Jadi Waktu Favorit?
Baik di Pura Campuhan Windhu Segara maupun Pura Dalem Pengembak, hari-hari suci seperti Kajeng Kliwon, Purnama, dan Tilem menjadi waktu yang paling diminati untuk melukat. Menurut tradisi, hari-hari ini memiliki energi spiritual yang kuat, mendukung proses pembersihan diri. Meski demikian, melukat dapat dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan pemedek.
Kedua pura ini menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam, dengan suasana alami dan harmoni air suci yang menjadi daya tarik utama. Bagi Anda yang ingin menjalani ritual melukat di Sanur, pastikan menyiapkan sarana dengan baik dan datang dengan hati yang tulus untuk mendapatkan manfaat lahir dan batin.
***














