📷Misteri Bunut Bolong: Pohon Beringin Sakral di Bali Barat yang Penuh Mitos dan Pantangan/ google maps/ ortibali
Penulis: Putu Wisnu | Editor: Febrianti Saraswati
ORTIBALI.COM –Â Di ujung Barat Pulau Bali, tersembunyi sebuah keajaiban alam yang lebih dari sekadar pemandangan indah. Bunut Bolong, pohon beringin raksasa di Desa Manggisari, Kecamatan Pekutatan, Jembrana, bukan hanya destinasi wisata alam, tetapi juga simbol spiritual dan budaya yang memikat hati siapa saja yang mengunjunginya. Dengan lubang besar di batangnya yang cukup untuk dilalui kendaraan, pohon ini menyimpan cerita sejarah, mitos, dan pantangan yang membuatnya begitu istimewa. Yuk, jelajahi keunikan Bunut Bolong yang sarat makna ini!
Asal-usul Nama dan Sejarah Bunut Bolong
Nama Bunut Bolong berasal dari bahasa Bali: bunut berarti beringin, dan bolong merujuk pada lubang besar di batangnya. Sederhana, namun penuh makna. Konon, lubang ini tercipta bukan hanya karena usia pohon yang sudah ratusan tahun, tetapi juga karena campur tangan manusia. Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, pohon ini sengaja dilubangi untuk memperlebar jalan. Prosesnya tragis—banyak pekerja kehilangan nyawa, hingga pohon ini pun disucikan dan dianggap keramat.
Masyarakat setempat percaya bahwa roh-roh penjaga menghuni lubang pohon, menjadikannya gerbang spiritual yang menghubungkan dunia nyata dengan alam gaib. Dikelilingi kebun cengkeh dan pepohonan hijau, Bunut Bolong menawarkan suasana tenang sekaligus mistis, mengundang pengunjung untuk merenungi keagungan alam dan legenda yang menyelimutinya.
Pantangan yang Mengikat: Cinta, Kematian, dan Kekuasaan
Bunut Bolong bukan sekadar pohon, melainkan penjaga nilai-nilai budaya Bali yang kental. Salah satu mitos paling terkenal adalah larangan bagi pasangan pengantin baru untuk melintasi lubang pohon. Konon, melanggar pantangan ini bisa mendatangkan malapetaka, seperti perceraian atau konflik rumah tangga. Cerita tentang pasangan dari Denpasar yang berpisah setelah nekat melintas menjadi peringatan nyata bagi banyak orang. Untuk menghormati aturan ini, jalur khusus disediakan di sisi pohon agar pengantin tetap aman.
Tak hanya pengantin, pasangan yang masih berpacaran juga dilarang melintas. Mitos ini mengajarkan pentingnya menjaga kemurnian cinta sebelum ikatan pernikahan. Bagi yang ingin berfoto di sekitar pohon, jalur alternatif tersedia untuk menjaga penghormatan terhadap tradisi lokal.

Selain urusan cinta, rombongan jenazah juga dilarang melewati lubang pohon. Masyarakat membangun jalan samping untuk prosesi pemakaman, menunjukkan betapa pohon ini dihormati sebagai simbol penghubungan antara kehidupan dan kematian. Bahkan, pembawa jimat atau calon pemimpin diperingatkan untuk tidak melintas, karena roh penjaga pohon diyakini akan “menegur” mereka yang melanggar, membawa konsekuensi berat.
Makna Filosofis di Balik Mitos
Pantangan-pantangan ini bukan sekadar cerita untuk menakuti wisatawan. Mereka mencerminkan nilai-nilai budaya Bali yang dalam: menjaga kesucian cinta, menghormati leluhur, dan memahami tanggung jawab bagi mereka yang memiliki kekuatan atau ambisi. Bunut Bolong mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia spiritual, sebuah pelajaran yang masih relevan hingga kini.
Setiap tahun, masyarakat Desa Manggisari menggelar upacara di pura kecil di sisi pohon. Dengan persembahan bunga, dupa, dan sesajen, mereka memohon harmoni antara manusia dan alam. Ritual ini, terutama pada hari-hari khusus seperti tilem (bulan mati), juga menjadi pengingat bagi generasi muda untuk menghargai kearifan lokal dan menjaga tradisi.
Pesona Wisata Alam dan Spiritual
Bunut Bolong bukan hanya tentang mitos; ia juga destinasi wisata alam yang memukau. Pengunjung bisa menikmati udara sejuk pegunungan, berjalan di antara kebun cengkeh, atau bersepeda di sekitar pohon. Namun, yang membuat pengalaman ini tak terlupakan adalah aura spiritualnya. Banyak wisatawan, termasuk dari Eropa, datang untuk merasakan energi mistis pohon ini dan belajar tentang kearifan lokal yang menyertainya.
Anak-anak desa diajarkan sejak dini untuk menghormati pohon dan aturannya, menjadikan Bunut Bolong sebagai simbol pendidikan budaya. Bagi mereka yang berkunjung, pohon ini bukan sekadar objek foto, tetapi pengalaman yang mengajarkan harmoni dengan alam dan penghormatan terhadap tradisi.
Mengapa Harus Mengunjungi Bunut Bolong?
Bunut Bolong adalah perpaduan sempurna antara keindahan alam, sejarah, dan spiritualitas. Ia bukan sekadar pohon berlubang, tetapi cerminan kehidupan masyarakat Bali yang kaya akan makna. Bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda, destinasi ini menawarkan lebih dari sekadar pemandangan—ia adalah perjalanan menyentuh jiwa, di mana mitos, budaya, dan alam bersatu dalam harmoni.
***












