Tayang: Rabu, 17 Desember 2025 06:35 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM –  Upacara metatah, atau dikenal juga sebagai mepandes, merupakan ritual penting dalam budaya Hindu Bali yang melambangkan penyucian diri menuju kedewasaan. Proses ini dipimpin oleh sangging, seorang ahli yang bertugas meratakan gigi peserta. Sangging menggunakan kikir untuk meratakan dua gigi taring dan empat gigi seri atas, lalu memberikan pengurip gigi berupa campuran kunyit, kapur sirih, dan gosokan kayu cendana.

Menurut Ketua PHDI Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika, upacara metatah bersumber dari lontar suci seperti Lontar Puja Kalapati, Kala Tattwa, dan Smarandhana. Lontar Puja Kalapati menyebutkan bahwa metatah menandakan perubahan status seseorang menjadi manusia sejati yang berbudi luhur dan suci, sehingga rohnya kelak dapat bertemu leluhur di surga.

Lontar Kala Tattwa menceritakan Bathara Kala, putra Dewa Siwa dan Dewi Uma, yang harus meratakan taringnya untuk bertemu ayahnya di surga, menjadi teladan bagi manusia. Sementara Lontar Smarandhana mengisahkan Bathara Gana yang mengalahkan raksasa Nilarudraka dengan potongan taringnya.

Suardika menjelaskan, metatah bersifat simbolis, bertujuan menghilangkan kotoran batin seperti sifat negatif yang disebut Bhuta, Kala, Pisaca, Raksasa, serta Sad Ripu—enam musuh dalam diri, yaitu kama (nafsu), loba (rakus), krodha (marah), mada (mabuk), moha (bingung), dan matsarya (iri). Enam gigi atas yang diratakan melambangkan pengendalian Sad Ripu. Proses pengikiran berlangsung 10-15 menit dan harus dilakukan oleh sangging berpengalaman.

Sangging biasanya adalah pinandita yang telah menjalani inisiasi mawinten dan penyucian diri dengan memuja Dewi Saraswati serta Bathara Gana sebagai pelindung. Sebelum memulai, sangging mengucapkan mantra agar upacara berjalan lancar, dilakukan di bale keluarga. Sangging juga menulisi rajahan Ongkara pada gigi dan dada peserta menggunakan cincin merah delima, sebagai perlindungan dari ilmu hitam.

Tempat upacara dijaga ketat oleh keluarga dan orang berkekuatan supranatural. Ritual ini tidak dilakukan saat matahari di puncak langit dan menggunakan rerajahan Semara Ratih untuk menangkal gangguan magis seperti teluh atau desti.

Sebelum pengikiran, mulut peserta diganjal dengan potongan kayu dadap atau tebu, lalu berkumur dengan air perasan kunyit, dan mengigit daun sirih sebagai tanda selesai. Air liur ditampung dalam kelapa gading yang dipegang ibu kandung. Setelah itu, sangging memerciki tirta penyucian, dan peserta bersembahyang di merajan keluarga, dipimpin pedanda, memohon restu Sang Hyang Widhi Wasa untuk memasuki tahap hidup baru, menggunakan sarana kewangen sebagai lambang doa kepada leluhur.

Sangging membawa perlengkapan seperti kelapa gading yang dikasturi, cabang dadap, tebu, bokor, dan cincin mirah. Kelapa gading ditulisi gambar Ardhanareswari (Smara Ratih), digunakan untuk menampung ludah dan alat bekas, lalu dipendam di belakang sanggah kamulan. Pedangal atau singgang gigi terdiri dari tiga potong cabang dadap dan tebu sepanjang sekitar 1,5 cm.

Pengilap, berupa cincin bermata mirah, digunakan untuk menulisi rajahan. Pengurip-urip dari kunyit dan kapur digigit peserta setelah metatah. Bokor berisi kikir, cermin, pahat, dan palu. Ada pula tempat sirih lekesan dengan tembakau, pinang, gambir, kain baru untuk penutup tubuh, serta banten tetingkeb yang diinjak saat turun dari bale usai upacara.

***

Cek Usiamu Dulu Ya...

Anda harus sudah cukup umur untuk mengakses situs ini.

PERINGATAN: Situs web ini berisi konten yang dibatasi berdasarkan usia.

💬 Tanya AI