Tayang: Minggu, 15 Februari 2026 06:12 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM –  Nusa Penida tidak hanya menawarkan panorama tebing yang ikonik, tetapi juga menyimpan kedalaman spiritual yang memikat ribuan umat. Di Desa Adat Karangasari, Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, berdiri Pura Goa Giri Putri. Tempat suci ini bukan sekadar destinasi religi, melainkan saksi bisu sejarah panjang yang merekam harmonisasi budaya dan keyakinan di Bali.

Akses menuju lokasi tergolong mudah. Dari Pelabuhan Sampalan, Anda hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit berkendara ke arah timur. Keunikan pura ini langsung terlihat pada pintu masuknya yang berupa celah sempit di dinding gua. Meski lubangnya tampak kecil, setiap pemedek yang hendak nangkil secara ajaib selalu bisa melewatinya untuk masuk ke dalam.

Begitu berhasil melewati celah tersebut, Anda akan disambut oleh ruang maha luas yang sanggup menampung hingga ribuan orang. Gua ini memiliki tinggi sekitar 10 meter dengan panjang mencapai 310 meter. Suasana di dalam sangat sakral; denting genta pemangku dan aroma dupa yang menyeruak menciptakan vibrasi spiritual yang menenangkan jiwa.

Etimologi dan Jejak Sejarah di Puncak Mundhi

Nama Goa Giri Putri memiliki makna filosofis yang mendalam. Giri berarti bukit atau gunung, sementara Putri merujuk pada sosok wanita cantik. Dalam teologi Hindu, ini adalah simbol kekuatan feminin atau sifat keibuan Tuhan.

Berdasarkan catatan Babad Nusa Penida, sejarah tempat ini berkaitan erat dengan turunnya Ida Bhatara Siwa ke bumi pada tahun Saka 50. Bersama saktinya, Dewi Uma, beliau turun di Gunung Puncak Mundhi dan menjelma menjadi manusia. Ida Bhatara Siwa mewujud sebagai seorang pendeta bernama Dukuh Jumpungan—istilah “Manusa Pandita” inilah yang kemudian diyakini berevolusi menjadi nama “Nusa Penida”.

Pura ini menjadi pusat spiritual (pusering jagat) dengan tokoh sentral Dewi Parwati yang bergelar Hyang Giri Putri sebagai penjaga air suci (tirta).

Enam Mandala: Perjalanan Spiritual yang Berjenjang

Jro Mangku Nyoman Dunia, Pemangku Pura Goa Giri Putri, menjelaskan bahwa aktivitas pemujaan di sini terbagi ke dalam enam mandala (area). Setiap area memiliki fungsi dan filosofi tersendiri:

  1. Mandala Pertama: Terdapat Pelinggih Apit Lawang yang berfungsi sebagai penetralisir sifat buruk manusia sebelum masuk lebih dalam.
  2. Mandala Kedua: Tempat pemujaan Hyang Tri Purusha (Tiga Wisesa) dan Hyang Ganapati untuk memohon kebijaksanaan dan kelancaran rezeki.
  3. Mandala Ketiga: Area pemujaan Hyang Wisnu sebagai pemelihara alam, Dewa Baruna untuk memohon kemakmuran (sugih arta brana), serta Hyang Ganesha untuk keselamatan.
  4. Mandala Keempat: Fokus pada penyucian diri di Pelinggih Dewi Gangga (tempat melukat) dan Pelinggih Bhatara Giri Phati untuk menenangkan pikiran.
  5. Mandala Kelima: Tempat berstana Hyang Giri Putri (Dewi Parwati) yang penuh kasih sayang, serta area Payogan sebagai tempat meditasi para dewa.
  6. Mandala Keenam: Area terakhir yang menjadi puncak permohonan anugerah melalui Pelinggih Ida Bhatara Siwa Amerta dan Dewi Melanting demi kesuksesan pekerjaan.

Manifestasi Multikultur dan Toleransi

Hal yang paling mencolok dari Pura Goa Giri Putri adalah keberadaan Pelinggih Ratu Syahbandar atau Dewi Kwan Im di mandala keenam. Kehadiran dewi yang identik dengan ajaran Buddha ini menjadi bukti nyata penerapan konsep pendidikan multikultur di Desa Adat Karangasari.

Masyarakat setempat memuja Dewi Kwan Im sebagai sosok welas asih sekaligus penguasa perdagangan. Selain itu, terdapat Altar Dewa Langit (Thienkung) yang berasal dari kebudayaan Cina. Bagi warga Desa Adat Suana yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan petani rumput laut, pemujaan ini bertujuan memohon cuaca baik dan perlindungan saat bekerja.

Pura Goa Giri Putri membuktikan bahwa perbedaan latar belakang budaya dan kepercayaan dapat menyatu dalam satu ruang suci. Di sini, doa-doa untuk kesejahteraan melintasi batas identitas, menjadikannya salah satu warisan spiritual paling inklusif di Pulau Dewata.

***

Tanya AI