Tayang: Kamis, 12 Februari 2026 05:39 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – Umat Hindu di Bali kembali menyambut hari suci Kajeng Kliwon Uwudan yang jatuh pada Sasih Kawulu, Wuku Landep. Momen ini bukan sekadar rutinitas kalender, melainkan sebuah simpul sakral untuk menjaga harmoni antara jagat raya dan diri manusia.

Jero Mangku Ketut Maliarsa menjelaskan bahwa Kajeng Kliwon Uwudan memiliki kedudukan khusus karena terjadi dalam fase setelah bulan purnama menuju bulan mati (tilem). Secara etimologi, nama “Uwudan” berakar dari kata uwud atau suud dalam bahasa Bali yang berarti “sudah” atau berakhir.

“Istilah ini menandakan selesainya masa sinar bulan purnama yang perlahan akan berganti menjadi kegelapan menuju hari suci Tilem,” ungkap Jero Mangku kepada media, Kamis (12/2).

Menjaga Harmoni Bhuana Agung dan Bhuana Alit

Inti dari perayaan ini adalah pencapaian keseimbangan antara Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (diri manusia). Dalam teologi Hindu, kehidupan diyakini terbagi dalam dua ranah: niskala kadewataan atau alam para dewa, serta alam kabhutanan yang dihuni oleh para Bhuta Kala.

Umat Hindu percaya bahwa untuk mencapai shanti (kedamaian) dan jagadhita (kesejahteraan), manusia harus mampu menyelaraskan kedua energi tersebut. Ritual dilakukan dengan memuja keagungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui sarana bebantenan atau canang asebit sari sebagai bentuk syukur dan permohonan perlindungan.

Ritual Nyomya: Menetralisir Energi Negatif

Hari Kajeng Kliwon sering kali dianggap sebagai hari tenget atau sakral karena adanya potensi gangguan dari energi negatif atau Bhuta Japa. Oleh karena itu, umat melaksanakan ritual Nyomya, sebuah upaya religius untuk menetralisir kekuatan negatif agar tidak mengusik kehidupan manusia.

Wujud nyata dari ritual ini adalah menghaturkan caru sederhana berupa segehan. Persembahan ini diletakkan di beberapa titik strategis seperti:

  • Natar Sanggah: Area tempat suci keluarga.
  • Natah Paumahan: Halaman rumah.
  • Lebuh: Area pintu masuk atau gerbang rumah.

Tradisi Khas di Banjar Cengkilung

Pelaksanaan ritual ini tetap menjunjung tinggi prinsip Desa, Kala, Patra (ruang, waktu, dan keadaan). Sebagai contoh, di Banjar Cengkilung, Desa Peguyangan Kangin, warga secara serentak menancapkan Sanggah Cucuk di area lebuh.

Sanggah tersebut diisi dengan berbagai sarana upakara yang spesifik, seperti:

  • Lima buah tumpeng brumbun beralas muncuk daun pisang.
  • Iwak (lauk) rumbah gile, kakomoh, dan lawar kacang.
  • Calon agung sebanyak lima katih.
  • Tuak dan arak dalam wadah bumbung.

Persembahan mendalam ini ditujukan kepada Sang Kala Dengen untuk memastikan stabilitas spiritual di lingkungan desa. Dengan persiapan matang dari bendesa adat dan para prajuru, umat menjalankan yadnya ini dengan penuh keyakinan demi meraih kebahagiaan lahir dan batin.

***

Tanya AI