Tayang: Jumat, 10 Oktober 2025 09:51 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM –  Pura Pulaki berdiri sebagai salah satu situs suci yang mempesona di Bali Utara, menyuguhkan panorama alam yang memesona berupa hamparan laut biru, lereng bukit hijau, serta keberadaan kawanan monyet yang lincah. Tempat ini tak hanya menjadi pusat spiritual, tetapi juga menyimpan kisah perjalanan Danghyang Nirartha, termasuk momen moksa istrinya, Mpu Isteri Ktut.

Legenda ini menjadi fondasi bagi berdirinya pura yang sarat nilai sejarah dan spiritual di wilayah Bali Utara. Kehadiran Utamaning Mandala yang disakralkan, interaksi dengan kera setempat, serta sumber mata air tawar di sekitarnya, semakin menambah daya pikat bagi para peziarah dan wisatawan, sambil menekankan pentingnya menjaga kelestarian dan kesakralan lokasi ini.

Lokasi Strategis dan Keindahan Alam Pura Pulaki

Dikenal pula sebagai Pura Agung Pulaki atau Pura Petirtaan, situs suci ini terletak di Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Posisinya tepat di tepi Jalan Raya Singaraja-Gilimanuk membuatnya mudah diakses, sekitar 53 kilometer ke barat dari Kota Singaraja. Banyak umat Hindu yang singgah untuk bersembahyang saat melintas menuju Gilimanuk atau sebaliknya.

Letaknya di kaki bukit dengan pandangan langsung ke laut menciptakan suasana yang begitu menawan. Kombinasi antara keindahan alam dan keberadaan kelompok monyet menjadikan Pura Pulaki sebagai destinasi wisata pura favorit di Bali Utara, menarik perhatian wisatawan dari berbagai penjuru.

Legenda Danghyang Nirartha dan Moksa Mpu Isteri Ktut

Pura Pulaki bukan sekadar tempat bersejarah dengan panorama alam indah, melainkan juga terikat erat dengan perjalanan spiritual Danghyang Nirartha. Di sini pula terjadi moksa Mpu Isteri Ktut, yang dikenal sebagai Bhatari Dalem Ktut, istri setia sang pendeta.

Kisahnya dimulai saat Sri Patni Kaniten ikut serta dalam perjalanan suaminya dari Blambangan ke Bali. Namun, tiba di Pura Pulaki, ia merasa tak sanggup melanjutkan karena sedang mengandung. Dengan bijak, Danghyang Nirartha mengizinkannya tinggal di sana. Sri Patni Kaniten pun menetap dan akhirnya mencapai moksa, hingga kini disembah sebagai Bhatari Dalem Ktut.

Selain itu, perjalanan Danghyang Nirartha di tempat ini menciptakan momen spiritual istimewa. Saat istrinya memohon istirahat, permohonan itu dikabulkan Dewata dengan syarat mereka tak terlihat oleh manusia biasa. Dalam kilatan petir dan gemuruh guntur, rombongan itu menghilang, berubah menjadi entitas suci dan halus.

Lokasi moksa istri Danghyang Nirartha inilah yang menjadi dasar pendirian Pura Pulaki, sebagai tempat memuja Sang Hyang Widhi Wasa. Gabungan antara cerita ini, keindahan alam, dan arsitektur megah membuatnya menjadi pusat spiritual dan sejarah yang kaya di Bali Utara.

Keunikan Utamaning Mandala dan Warisan Prasejarah

Salah satu ciri khas Pura Pulaki adalah Utamaning Mandala, pelinggih utama yang dijaga ketat dan tak boleh dimasuki sembarang orang, termasuk pemangku adat. Area ini hanya dibuka pada upacara khusus seperti ngenteg linggih untuk mempertahankan kesuciannya.

Pura ini juga dianggap sebagai peninggalan zaman prasejarah. Struktur dan tata letaknya mirip dengan bangunan pemujaan masyarakat kuno yang berundak-undak. Dugaan ini diperkuat oleh penemuan alat batu seperti batu picisan dan kapak pada 1987 di sekitar kawasan.

Dominasi ornamen batu hitam di lereng perbukitan, ditambah suara deburan ombak, menciptakan suasana khas yang memikat. Pentingnya menjaga kesucian terlihat dari aturan seperti persiapan Banten Pejati. Tutup Utamaning Mandala harus tetap tertutup untuk menghindari gangguan monyet. Sarana sembahyang seperti Canang dan Kewangen ditempatkan di area berpagar kawat agar aman dari kera-kera tersebut. Dengan begitu, pengunjung bisa menikmati kehadiran monyet tanpa khawatir, menganggap pura sebagai habitat mereka.

Panorama Bukit, Laut, dan Interaksi dengan Monyet

Pura Pulaki bertengger di bukit terjal berbatu kering dengan laut membentang di depannya, menawarkan pemandangan yang luar biasa. Bukit di sebelah barat berbentuk tanjung kecil menambah pesona lingkungan sekitar. Perpaduan batu, laut, dan alam menciptakan atmosfer unik di situs ini.

Kawanan kera yang mendiami area pura menjadi daya tarik utama. Mereka sering berkumpul di halaman karena mendapat makanan dari pengunjung, menciptakan interaksi menyenangkan yang tak terlupakan bagi wisatawan.

Tak jauh dari sana, di Teluk Pulaki Buleleng, ada sumber mata air tawar yang bisa diminum. Keberadaannya memberikan kesegaran bagi peziarah, sambil menikmati keindahan sekitar. Mata air ini dianggap suci oleh masyarakat setempat, sehingga pengunjung diminta menjaga sikap dan perilaku.

Menghormati kelestarian dan spiritualitas menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman di Pura Pulaki. Pura yang berdekatan dengan beberapa tempat suci lainnya ini melangsungkan Pujawali setiap Purnama Kapat.

Jejak Sejarah Pura Gede Pulaki dari Zaman Prasejarah

Sejarah Pura Pulaki memang sulit dilacak secara pasti, tapi dari berbagai bukti, akarnya menjangkau era prasejarah. Hal ini terkait konsep pemujaan Dewa Gunung, ciri khas masyarakat kuno. Sarana pemujaan biasanya berbentuk undakan, di mana semakin tinggi tingkatannya, semakin suci nilainya—mirip pura-pura di pegunungan Bali dari barat ke timur.

Di sekitar Pura Melanting, tahun 1987 ditemukan alat batu seperti batu picisan, kapak, dan lainnya. Berdasarkan itu, plus tata letak struktur, diduga Pura Pulaki berasal dari bangunan pemujaan prasejarah berundak.

Letaknya di Teluk Pulaki dengan banyak sumber air tawar membuat kawasan ini kemungkinan sudah dihuni sejak lama. Dahulu, tempat ini ramai dikunjungi perahu dagang yang butuh air untuk pelayaran ke Jawa atau Maluku. Bahkan, perdagangan barter mungkin terjadi, dengan barang seperti gula dari nira lontar—tanaman lontar masih ada di pantai dari Gilimanuk ke timur, termasuk Pulaki.

Dari itu, Pulaki diduga ada sejak prasejarah, baik sebagai tempat suci maupun aktivitas lain. Ini berlanjut hingga penyerangan Majapahit ke Bali pada 1343 Masehi. Buku ekspedisi Gajah Mada oleh Ketut Ginarsa menyebut pasukan mendarat di Jembrana, lalu menuju desa seperti Pegametan, Pulaki, dan Wangaya.

Menurut sumber, Pulaki pernah jadi pusat pengembangan Hindu sekte Waisnawa sekitar 1380 Masehi, seperti dalam “Bhuwana Tatwa Maharesi Markandeya” oleh Ketut Ginarsa. Buku “Dwijendra Tatwa” karya Gusti Bagus Sugriwa juga menyebut Pulaki: “Baiklah adikku, diam di sini saja, bersama-sama dengan putri kita Ni Swabawa. Ia sudah suci menjadi Batara Dalem Melanting dan adinda boleh menjadi Batara Dalem Ketut yang akan dijunjung dan disembah orang-orang di sini yang akan kanda pralinakan agar tak kelihatan oleh manusia biasa. Semua menjadi orang halus. Daerah desa ini kemudian bernama Pulaki yang berasal dari kata Mpu Alaki, artinya Empu yang sudah bersuami.”

Bukti lain: potongan candi mirip era Kediri ditemukan di Pura Belatungan tahun 1987. Kesimpulannya, Pura Pulaki sebagai tempat suci ada sejak prasejarah, lalu “menghilang” setelah kedatangan Dang Hyang Nirartha sekitar 1489 Masehi dengan peristiwa pralina. Pura ini tak terlihat secara sekala dari 1489 hingga sekitar 1920, atau selama 431 tahun. Sebelum itu, dari prasejarah hingga 1489, tetap sebagai tempat pemujaan oleh masyarakat prasejarah, Bali Aga dengan sekte Waisnawa dari Rsi Markandeya, dan pengikut Tri Sakti dengan simbol tiga bunga teratai merah, hitam, putih yang dipetik Dang Hyang Nirartha dari kolam di perut naga Pulaki.

Kompleks Pura Pulaki sekarang, menurut lontar seperti Babad Bali Radjiya, Babad Bhatara Sakti Bahu Rawuh, dan Sejarah Pura Gede Pulaki, terkait kedatangan Dang Hyang Nirartha dari Majapahit ke Bali untuk mengajarkan Hindu Siwa Buddha. Sejarahnya menyatakan ia datang melantik Dalem Watu Renggong (1460-1550 M).

Fungsinya selain memuja Tuhan, juga stana Dang Hyang Nirartha dan keluarga: istri Sri Patni Keniten sebagai Ida Dalem Ketut Pulaki di Pura Gede Pulaki; putri Ida Ayu Swabhawa sebagai Dewi Melanting di Pura Dalem Melanting; putra Ida Bagus Bajra sebagai Ida Bhatara I Dewa Mentang Yudha atau Ida Bhatara Kertaning Jagat di Pura Kerta Kawat.

Pada intinya, Pura Gede Pulaki menghormati jasa Dang Hyang Nirartha dan istrinya. Karena hamil, Sri Patni Keniten ditinggal di Desa Gading Wani dengan putri dan pengikut, sementara suaminya ke timur ke istana Klungkung.

Di sana, ia dan pengikut beristirahat hingga sehat, membangun huma, berladang, bersawah, mengajar ilmu kehidupan, jadi teladan. Warga bertambah hingga ribuan, setia padanya. Karena kesaktian, ia disebut Mpu Biyang. Ia melahirkan putra tampan bernama Bagus Bajra sesuai pesan suami.

Daerah itu ramai pedagang, jadi pusat perniagaan. Tapi utusan suami tak datang. Putrinya Dyah Ayu Swabawa sering memanjat pohon memandang jauh, hingga disebut Dyah Ayu Melanting. Ibunya disebut Empu Alaki, orang arif bersuami meski suami jauh.

Waktu berlalu, timbul salah paham. Putus asa menanti suami dan anak-anak lain, ia menangis di sanggar, memohon Dewata agar ia dan warga abadi tanpa termakan usia, meski tak terlihat orang lain—untuk hindari iri.

Petir menyambar, guntur menggelegar tanpa hujan. Warga Mpu Alaki lenyap, demi kesetiaan dan penantian abadi.

Dang Hyang Nirartha baru sadar setelah moksa di ujung selatan Bali. Istrinya menyusul moksa dengan putri bijak Dyah Ayu Swabawa Melanting, lalu adiknya Pangeran Bajra. Kini, Pulaki terkenal; Dyah Ayu Melanting di Pura Melanting, Pangeran Bajra di Pura Kerta Kawat sebagai Pangeran Mentang Yuda yang adil. Ketiganya dipuja di banyak pura sebagai Ratu Niyang Lingsir pemurah, Dewa Ayu Melanting bijak, dan Ida Bagus Ratu Samar.

***

 

 

Tanya AI