Tayang: Selasa, 19 Agustus 2025 06:01 WITA
Penulis: Orti Bali | Editor: Bram Subali

ORTIBALI.COM – 

Di ujung barat Pulau Bali, tepatnya di kawasan Taman Nasional Bali Barat, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, berdiri megah Pura Segara Rupek. Pura ini bukan hanya tempat suci bagi umat Hindu, tetapi juga menyimpan legenda yang diyakini sebagai cikal bakal terpisahnya Pulau Jawa dan Bali. Kisah ini mengakar kuat di hati masyarakat Bali, menjadi bagian dari warisan budaya yang terus hidup.

Asal-usul Pemangku Pura Segara Rupek dikisahkan langsung oleh Mangku Ketut Kasih dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu. Menurutnya, legenda ini berpusat pada perjalanan spiritual Dang Hyang Sidhimantra, seorang tokoh suci, dan anaknya, Manik Angkeran.

Awal Mula Kisah Dang Hyang Sidhimantra

Dang Hyang Sidhimantra, menurut cerita, awalnya hidup tanpa keturunan. Dengan penuh kesungguhan, ia melakukan tapa brata untuk memohon anugerah dari dewata. Doanya terkabul, dan ia dianugerahi sebuah manik bang yang kemudian menjelma menjadi seorang anak laki-laki bernama Manik Angkeran.

Namun, seiring waktu, Manik Angkeran tumbuh dewasa dan terjerumus ke dalam kebiasaan buruk. Ia kecanduan judi dan minuman keras, yang membuatnya jatuh miskin. Melihat anaknya tersesat, Dang Hyang Sidhimantra diliputi kesedihan. Suatu hari, ia menerima pawisik, petunjuk gaib, bahwa rezeki bagi keluarganya akan datang dari Sang Naga Basuki yang bersemayam di Goa Raja, Besakih.

Perjalanan Manik Angkeran dan Murka Naga Basuki

Atas perintah ayahnya, Manik Angkeran pergi menemui Naga Basuki untuk memohon karunia. Dengan ketekunan dalam beryoga, ia berhasil mendapatkan emas dan perak dari sang naga. Namun, keserakahan menguasai hatinya. Manik Angkeran nekat memotong ujung ekor Naga Basuki yang dihiasi permata. Tindakan ini memicu kemarahan sang naga, yang kemudian mengutuk Manik Angkeran hingga tubuhnya hangus menjadi abu.

Dang Hyang Sidhimantra, yang kehilangan putra semata wayang, memohon belas kasih kepada Naga Basuki. Sang naga bersedia menghidupkan kembali Manik Angkeran dengan satu syarat: ekornya yang terputus harus disambung kembali. Setelah syarat ini dipenuhi, Manik Angkeran hidup kembali.

Pemisahan Jawa dan Bali

Untuk mencegah Manik Angkeran kembali ke kebiasaan buruknya di Pulau Jawa, Dang Hyang Sidhimantra memohon kepada dewata agar Pulau Bali dan Jawa dipisahkan oleh lautan. Permohonan ini dikabulkan, menciptakan selat yang kini memisahkan kedua pulau. Manik Angkeran pun diminta untuk mengabdi kepada Hyang Naga Basuki, menjaga kesucian hidupnya.

Penghormatan di Pura Segara Rupek

Sebagai wujud penghormatan atas kisah ini, Pura Segara Rupek didirikan dengan beberapa palinggih yang didedikasikan untuk Ida Hyang Sidhimantra, Hyang Naga Basuki, Manik Angkeran, Palinggih Surya, dan Palinggih Taksu. Di sekitar kompleks pura, terdapat pula Pura Payogan yang menjadi bagian dari rangkaian spiritual di tempat ini.

Mangku Ketut Kasih menjelaskan bahwa tidak ada peninggalan fisik dari Dang Hyang Sidhimantra di pura ini. Namun, setiap tahun, upacara odalan digelar pada Purnama Jyesta. Ritual ini dimulai dengan malukat di Pura Segara, dilanjutkan ke Pura Payogan, dan ditutup dengan persembahyangan di Pura Segara Rupek.

Warisan Budaya yang Hidup

Kisah di balik Pura Segara Rupek bukan sekadar legenda, tetapi juga cerminan nilai spiritual dan kearifan lokal masyarakat Bali. Pura ini menjadi destinasi ziarah yang penting, menarik wisatawan dan umat Hindu yang ingin mendalami sejarah serta makna budaya Bali. Dengan keindahan alam Taman Nasional Bali Barat sebagai latar, Pura Segara Rupek menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam sekaligus memperkaya wawasan tentang warisan leluhur.

***

Tanya AI