đź“·Ilustrasi umat Hindu tengah berjalan di atanra Penjor Galungan/ ortibali
Penulis: Putu Wisnu | Editor: Febrianti Saraswati
ORTIBALI.COM –Â Umat Hindu di Bali menyambut Hari Banyu Pinaruh dengan penuh khidmat, sebuah ritual suci yang dihelat sehari setelah perayaan Hari Saraswati.
Pada tahun ini, Minggu, 7 September 2025, menjadi momen istimewa karena Banyu Pinaruh bertepatan dengan Purnama Ketiga atau Redite Paing Wuku Shinta.
Perpaduan ini menghadirkan energi spiritual yang kuat, membawa keberkahan bagi mereka yang menjalaninya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Kekuatan Spiritual Banyu Pinaruh saat Purnama
Menurut Ida Pandita Mpu Siwa Budha Daksa Darmita dari Geria Agung Sukawati, Gianyar, ketika Banyu Pinaruh bersamaan dengan Purnama, energi positif atau nugraha yang luar biasa akan terpancar. “Ini adalah waktu yang sangat istimewa untuk meraih kesidhian—harmoni lahir dan batin yang menjadi sumber kehidupan tanpa batas,” katanya.
Dengan menjalankan ritual yang dibarengi spiritualitas sejati, umat berpeluang besar memperoleh kerti-yusa-bala-yasa, yaitu kehidupan yang penuh keberkahan dan keseimbangan.
Namun, ada larangan penting yang harus diperhatikan. Ida Sulinggih menegaskan agar umat menjauhi tri mala—tiga sifat buruk manusia: moha (kebingungan), mada (kesombongan), dan kasmala (kotoran batin)—yang muncul akibat nafsu tak terkendali.
Perilaku anarkis atau brutal juga harus dihindari. Sebaliknya, umat dianjurkan untuk menjalankan pengacinira, seperti brata, tapa, yoga, dan samadhi, untuk mencapai kesucian batin.
Untuk mendukung ritual Banyu Pinaruh, Ida Sulinggih merekomendasikan penggunaan banten suci atau pejati, serta sesayut prayascita untuk menyucikan pikiran sadar dan bawah sadar. Selain itu, sesayut sidapurna digunakan untuk meraih kesempurnaan hidup.
“Yang terpenting adalah sodaan dan canang sari. Ini sederhana namun penuh makna, mencerminkan fleksibilitas dalam menjalankan ajaran Hindu,” ujarnya.
Makna Purnama Ketiga dalam Tradisi Hindu Bali
Purnama, yang terjadi setiap 30 hari sekali atau 15 hari setelah Tilem, adalah hari suci yang memiliki makna mendalam. Dalam lontar Sundarigama, Purnama disebut sebagai sukla paksa, waktu ketika Sang Hyang Candra (Bulan) beryoga. Berikut kutipan dari lontar tersebut:
Isi lontar:Mwah hana pareresiknira sang hyang rwa bhineda, makadi sang hyang surya candra, yatika nengken purnama mwang tilem, ring purnama sang hyang ulan mayoga, yan ring tilem sang hyang surya mayoga.
Terjemahan:Ada hari penyucian diri bagi Dewa Matahari dan Dewa Bulan, yang disebut Sang Hyang Rwa Bhineda, yaitu saat Purnama dan Tilem. Pada Purnama, Sang Hyang Ulan (Candra) beryoga, sedangkan pada Tilem, Sang Hyang Surya beryoga.
Purnama adalah waktu untuk menyucikan diri secara lahir dan batin. Lontar Sundarigama juga menyebutkan:
Isi lontar:Samana ika sang purohita, tkeng janma pada sakawanganya, wnang mahening ajnana, aturakna wangi-wangi, canang nyasa maring sarwa dewa, pamalakunya, ring sanggat parhyangan, laju matirta gocara, puspa wangi.
Terjemahan:Oleh karena itu, semua orang wajib melakukan penyucian diri secara lahir dan batin dengan mempersembahkan sesajen berupa canang wangi-wangi dan canang yasa kepada para dewa. Pemujaan dilakukan di sanggah dan parhyangan, dilanjutkan dengan memohon tirta suci.
Jenis Purnama dan Makna Khususnya
Purnama di Bali memiliki berbagai jenis, masing-masing dengan tujuan pemujaan tertentu:
-
Purnama Kapat: Didedikasikan untuk Bhatara Parameswara sebagai Sang Hyang Purusangkara, diiringi para Dewa, Widyadara-Widyadari, dan Rsi Gana. Pada Tilem Kapat, penyucian batin ditujukan kepada Widyadara-Widyadari.
-
Purnama Kedasa: Fokus pada pemujaan Sang Hyang Sunya Amerta di Sad Kahyangan Wisesa. Pada saat ini, piodalan Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih menjadi momen penting.
-
Purnama Sadha: Waktu untuk memuja Bhatara Kawitan di Sanggah Kemulan, menghubungkan umat dengan leluhur mereka.
Banten untuk Purnama: Simbol Kesederhanaan dan Kesucian
Dalam ritual Purnama, banten segehan sering digunakan untuk bhuta yadnya sederhana. Segehan dihaturkan kepada Bhuta Bucari, Kala Bhucari, dan Durga Bhucari di lingkungan rumah, terutama pada hari-hari seperti Kliwon, Kajeng Kliwon, Purnama, Tilem, atau hari suci seperti Saraswati dan Pagerwesi.
Persembahan ini mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual. Terkait banten, tentu ini menyesuaikan juga dengan desa kala patra dan kemampuan setiap umat.
Menjaga Kesucian dalam Kehidupan
Banyu Pinaruh dan Purnama Ketiga bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang menjaga kesucian hati dan pikiran. Dengan menghindari tri mala dan mempraktikkan tri kaya parisudha—pikiran, perkataan, dan perbuatan yang suci—umat dapat merasakan keberkahan yang mendalam. Momen ini mengajak umat Hindu untuk merenung, menyucikan diri, dan memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Dengan memahami makna Banyu Pinaruh dan Purnama, umat diajak untuk hidup selaras dengan alam dan Tuhan. Ritual ini bukan sekadar tradisi, melainkan panggilan untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran, keikhlasan, dan keseimbangan.
***










