
📷Tari Sang Hyang Dedari di Desa Adat Geriana Kauh/ ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Desa Adat Geriana Kauh, Kabupaten Karangasem, kembali menggelar pementasan sakral Tari Sang Hyang Dedari pada Sasih Kedasa. Tradisi turun-temurun ini dilaksanakan sebagai bagian dari ritual keagamaan masyarakat Bali yang bertujuan memohon keselamatan, kemakmuran, serta perlindungan bagi warga dan lahan pertanian.
Pementasan Tari Sang Hyang Dedari di Desa Adat Geriana Kauh dilakukan saat tanaman padi memasuki fase bunting atau berumur sekitar tiga bulan. Masa ini diyakini sebagai periode rawan, baik bagi manusia maupun tanaman, karena meningkatnya potensi serangan wabah penyakit dan hama.
Tokoh Adat Geriana Kauh, Nyoman Subrata, menjelaskan bahwa Sasih Kedasa dikenal sebagai waktu yang cukup berat bagi masyarakat agraris di wilayah tersebut. Penyakit dan gangguan pada tanaman sering muncul secara bersamaan.
“Pada Sasih Kedasa, tidak hanya manusia yang rentan sakit, tanaman pun mudah terserang hama. Karena itu, masyarakat menggelar Tari Sang Hyang Dedari sebagai bentuk permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ujar Subrata.
Ia menegaskan, ritual ini diharapkan membawa keberkahan, keselamatan, serta kemakmuran bagi seluruh warga. Selain itu, masyarakat juga memohon agar persawahan terhindar dari berbagai jenis hama dan penyakit, mengingat sebagian besar warga Desa Adat Geriana Kauh berprofesi sebagai petani.
Digelar di Pura Pajenengan dan Perempatan Agung Desa
Pementasan Tari Sang Hyang Dedari dilaksanakan di Pura Pajenengan dan Perempatan Agung Desa Adat Geriana Kauh. Prosesi ritual ini tidak dilakukan secara sederhana, melainkan melalui tahapan upacara yang sakral dan tertata.
Tahap awal dikenal dengan Ngaturang Pakeling atau Piuning, yakni persembahan untuk memberitahukan sekaligus memohon izin kepada Ida Betara sebelum upacara dilaksanakan. Warga melaksanakan upacara mepiuning agar seluruh rangkaian pementasan berjalan lancar dan masyarakat diberikan keselamatan.
“Ngatur piuning juga dilakukan di Pura Pajenengan, baik sebelum maupun setelah pementasan,” kata Subrata.
Setelah piuning, warga melangsungkan persembahyangan bersama. Persembahyangan ini bertujuan menyucikan diri secara lahir dan batin serta memohon keselamatan, pengampunan, dan petunjuk hidup kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Prosesi Ngamedalang dan Padudusan yang Sakral
Tahapan berikutnya adalah Ngamedalang atau Nedunang, yakni mengeluarkan sarana-sarana upacara untuk pementasan Tari Sang Hyang Dedari. Sarana tersebut meliputi banten pejati, daksina, pasepan (api), tetabuhan seperti tuak, arak, dan berem, toya anyar, canang sari, serta bambu besar yang akan dipanjat oleh penari saat mengalami kerauhan.
Para pamangku menghaturkan pejati dan daksina sebagai permohonan izin kepada Ida Bhatara dengan manifestasinya sebagai Sang Hyang Dedari.
Setelah itu dilanjutkan dengan Padudusan, yaitu prosesi penyucian penari menggunakan asap pasepan dari kayu kemenyan dan majegau. Kayu ini dipercaya memiliki nilai kesucian tinggi dalam tradisi Bali, berada satu tingkat di bawah kayu cendana sebagai sarana upakara.
Tari Sang Hyang Dedari hanya boleh ditarikan oleh anak-anak perempuan yang belum mengalami menstruasi. Prosesi padudusan harus dilandasi niat tulus dan pikiran yang bersih agar penari mampu menerima getaran spiritual.
Pada fase inilah para penari mulai mengalami kerauhan atau trance. Mereka menari dengan mata terpejam, bergerak lembut, dan memanjat bambu dengan lincah, seolah ada kekuatan yang menuntun gerak tubuh mereka.
Masolah, Inti Pementasan Sang Hyang Dedari
Masolah menjadi puncak pementasan Tari Sang Hyang Dedari. Saat itu, para penari telah sepenuhnya berada dalam kondisi kerauhan. Di perempatan desa, dua batang bambu tinggi telah dipasang sebagai bagian dari ritual.
Dengan mata terpejam, para penari memanjat bambu hingga ke puncak, lalu menari mengikuti irama gending yang dilantunkan warga. Pemandangan ini menciptakan ketegangan sekaligus kekaguman, mengingat para penari masih berusia anak-anak.
Dalam suasana religius yang kuat, para penari bergerak lincah tanpa rasa takut. Warga meyakini, kekuatan spiritual yang hadir menjaga keselamatan para penari selama prosesi berlangsung.
Pada momen tertentu, para penari bergerak meninggalkan perempatan desa menuju Pura Pajenengan, melintasi jalan gelap di antara rumpun bambu. Peristiwa ini selalu menjadi bagian yang paling menyentuh secara spiritual bagi masyarakat.
“Warga dan prajuru desa langsung menuju Pura Pajenengan saat para penari bergerak ke sana. Penari menari sangat lincah mengikuti gending,” tutur Subrata.
Rangkaian masolah diiringi gending-gending sakral yang dilantunkan berulang-ulang. Iringan vokal perempuan dinyanyikan dengan tempo yang semakin cepat, seiring meningkatnya intensitas kerauhan para penari.
Penyineban sebagai Penutup Ritual
Tahap akhir pementasan Tari Sang Hyang Dedari adalah Penyineban. Prosesi ini menjadi penutup seluruh rangkaian upacara, menandai kembalinya roh suci ke alamnya dan berakhirnya pementasan sakral.
Masyarakat Desa Adat Geriana Kauh meyakini, melalui ritual ini, kekuatan Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa hadir menjaga desa, warga, serta alam sekitarnya.
Ragam Jenis Tari Sang Hyang di Bali
Selain Sang Hyang Dedari, Bali juga memiliki beberapa jenis Tari Sang Hyang yang masih lestari hingga kini.
Tari Sang Hyang Deling ditarikan oleh sepasang gadis yang belum dewasa dan dipercaya dimasuki roh Dewa Wisnu atau Dewi Sri sebagai simbol kesuburan. Tarian ini berasal dari Desa Kintamani, Kabupaten Bangli.
Tari Sang Hyang Bojog ditarikan oleh seorang pria dengan busana menyerupai kera. Penari menirukan gerak-gerik kera setelah mengalami kerauhan. Tarian ini berkembang di Kabupaten Karangasem.
Tari Sang Hyang Jaran ditarikan dengan properti kuda-kudaan dari pelepah kelapa. Penari berjalan di atas bara api dalam kondisi trance. Tarian ini digelar saat desa menghadapi wabah atau situasi darurat dan tersebar di wilayah Klungkung, Badung, Gianyar, serta Bangli.
Sang Hyang Sampat melibatkan seorang gadis yang dirasuki roh melalui media sapu lidi atau bambu, sedangkan Sang Hyang Celeng ditarikan oleh pria dengan busana menyerupai babi dan berkembang di Desa Duda, Karangasem.
Keseluruhan tradisi ini menjadi bukti kuatnya nilai spiritual, kearifan lokal, serta harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan dalam budaya Bali.
***













