
đź“·Tradisi Unik Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali: Simbol Kemenangan Kebaikan dan Syukur Umat Hindu/ ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM –Â Tidak hanya penjor Galungan, wisatawan biasanya akan dengan mudah menemukan tradisi unik ini ketika Galungan dan Kuningan sudah tiba. Tidak hanya Ngewalang, lebih dari itu. Bali kembali bergemuruh dengan semangat Hari Raya Galungan dan Kuningan. Perayaan sakral ini menandai kemenangan dharma atas adharma, atau kebaikan melawan keburukan.
Umat Hindu di Pulau Dewata merayakannya melalui serangkaian tradisi otentik yang memadukan doa, seni, dan interaksi sosial. Setiap ritual bertujuan menolak bala, menyampaikan rasa syukur, serta memohon berkah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Tradisi-tradisi ini bervariasi antar daerah, tapi esensinya tetap sama: memperkuat ikatan spiritual dan komunal. Bagi wisatawan yang mencari pengalaman traveling otentik di Bali, jadwalkan kunjungan saat Galungan dan Kuningan. Anda akan menyaksikan langsung kekayaan budaya Hindu Bali yang hidup. Berikut lima tradisi menarik yang wajib diketahui.
Tradisi Unik Saat Galungan Kuningan Selain Penjor dan Ngelawang
1. Penjor: Lambang Syukur yang Menghiasi Jalanan Bali
Penjor menjadi ikon utama Hari Raya Galungan. Tiang bambu melengkung ini dipasang di depan rumah dan sepanjang jalan desa. Terbuat dari janur, daun kelapa muda, hasil bumi, dan kain warna-warni, penjor melambangkan gunung suci serta ucapan terima kasih atas limpahan alam dari Tuhan.
Ujung penjor yang melengkung ke bawah mengajarkan kerendahan hati: manusia harus membantu sesama yang kurang beruntung. Jelang perayaan, pedagang penjor kebanjiran order. Pada 2018, warga Banjar Jambe, Desa Kerobokan, mencuri perhatian dengan penjor raksasa setinggi 16 meter. Keindahannya membuat liburan Galungan di Bali semakin memukau.
2. Perang Jempana: Atraksi Dorong-Dorongan Penuh Trance di Klungkung
Di Desa Paksebali, Klungkung, tradisi Perang Jempana atau Dewa Masraman berlangsung setiap Saniscara Kliwon Kuningan, siklus 210 hari sekali. Ritual ini sudah ada sejak 1500-an. Warga Banjar Panti Timrah mengusung jempana—tandu berisi sesajen dan simbol dewa—menuju pura.
Puncaknya adalah Ngambeng Jempana. Peserta saling dorong jempana diiringi gong baleganjur, sering dalam kondisi trance atau tidak sadar. Setelahnya, pemangku menyiramkan tirta suci, lalu uang kepeng dan benang tridatu dikembalikan ke pura. Tradisi Kuningan Bali ini penuh energi mistis dan keberanian.
3. Ngurek: Menusuk Diri Tanpa Luka sebagai Pengabdian Total
Ngurek mirip debus, tapi sarat makna spiritual. Dilaksanakan di berbagai pura Bali saat Galungan, peserta menusuk tubuh dengan keris atau tombak saat kerasukan roh leluhur. Kata “Ngurek” berasal dari “urek” yang berarti melubangi.
Ajaibnya, tidak ada darah atau luka meski ditusuk berulang kali. Ini wujud pengabdian murni kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Hanya orang berhati tulus yang boleh melakukannya; kesombongan dilarang keras. Konon, Ngurek Galungan bermula dari pesta syukur kerajaan kuno untuk menghibur prajurit.
4. Gerebeg Mekotek: Tabrakan Kayu untuk Kesuburan Tanah di Munggu
Di Desa Adat Munggu, Mengwi, Tabanan, Gerebeg Mekotek digelar setiap Kuningan. Awalnya menyambut kemenangan pasukan Kerajaan Mengwi atas Blambangan. Dilarang Belanda pada 1915 karena khawatir pemberontakan, tapi setelah wabah melanda, ritual ini diizinkan lagi.
Peserta bagi kelompok, tumpuk kayu puspa sepanjang 2,5 meter jadi piramida. Komando dari atas arahkan tabrakan antarkelompok. Kayu gantikan tombak agar aman. Selain tolak bala, Mekotek memohon berkah dan kesuburan sawah. Gerebeg Mekotek Bali penuh adrenalin dan doa tani.
Galungan dan Kuningan bukan sekadar hari raya, melainkan pesta budaya yang menyatukan umat. Kunjungi Bali saat ini untuk pengalaman traveling Hindu Bali yang tak terlupakan. Tradisi-tradisi ini terus lestari, mengundang decak kagum dunia.
***













