Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM –Â Tradisi unik yang ditemukan ketika Galungan dan Kuningan ini tergolong langka dan berbeda. Hari Raya Galungan dan Kuningan selalu menjadi momen istimewa bagi umat Hindu di Bali.
Selain penjor yang menjulang di sepanjang jalan, pulau ini menyimpan beragam tradisi lokal yang kaya makna. Beberapa di antaranya bahkan hanya bisa ditemui di desa-desa tertentu, menambah warna perayaan kemenangan dharma atas adharma. Berikut rangkuman tradisi unik Galungan dan Kuningan di Bali yang patut diketahui.
1. Ngelinting
Di Desa Adat Samsam, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, warga punya kebiasaan khas bernama ngelinting. Ritual ini digelar pada Penampahan Galungan, atau sehari sebelum Hari Raya Galungan tiba. Mereka menyalakan linting, semacam obor sederhana yang menjadi simbol penerangan.
Tradisi membakar linting ini sudah turun-temurun di kalangan masyarakat setempat. Maknanya dalam: memberikan cahaya bagi bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (diri manusia) menjelang Galungan serta Kuningan. Harapannya, perayaan berlangsung dengan galang apadang, alias sinar terang yang membawa keberkahan.
Proses pembuatannya pun mudah. Cukup ambil ancang atau lidi kelapa, balut dengan kapas, lalu olesi minyak kelapa atau minyak goreng biasa. Setelah itu, bakar dan tancapkan di berbagai pelinggih rumah tangga, termasuk di depan pintu masuk. Menariknya, ngelinting juga muncul di daerah lain di Bali, meski dengan nama dan variasi yang berbeda.
2. Ngejot Tumpeng
Sementara itu, di Desa Medahan, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, ada tradisi ngejot tumpeng yang menghangatkan suasana Galungan. Warga desa berkeliling rumah ke rumah, khusus menyasar pasangan pengantin baru di wilayah mereka.
Ngejot tumpeng ini bermakna ucapan selamat sekaligus penyambutan anggota baru dalam komunitas. Mereka membawa alas seperti piring, besek, atau bokor yang diisi banten soda lengkap: sampian, tumpeng, buah-buahan segar, kudapan tradisional, dan beras. Semua ditujukan untuk pengantin yang baru menikah dalam enam bulan terakhir sebelum Galungan.
Sebagai balasan, pengantin baru biasanya memberikan tape dan jaja uli kepada para penjotu. Tradisi ini tak hanya mempererat tali silaturahmi, tapi juga menjaga harmoni sosial di tengah perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali.
***











