Tayang: Kamis, 28 Mei 2026 16:33 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – Tradisi pemasangan penjor saat perayaan Galungan di Bali memiliki akar sejarah yang sangat panjang. Berdasarkan manuskrip kuno Lontar Bali Dwipa, jejak perayaan Galungan pertama kali tercatat dilaksanakan pada tahun 882 Masehi.

Sejak saat itu, penjor hadir sebagai simbol mendalam bagi umat Hindu di Bali untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus memanjatkan permohonan kemakmuran kepada Ida Sang Hyang Widhi. Kehadiran penjor menjadi manifestasi nyata atas anugerah kehidupan serta perayaan kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan).

Menelusuri Jejak Sejarah Penjor Galungan

Catatan dalam lontar kuno menjadi bukti sejarah paling autentik mengenai tradisi ini. Referensi tertulis tersebut menjelaskan bahwa perayaan Galungan perdana jatuh pada bulan purnama keempat tahun 882 Masehi.

Dalam perspektif filosofis, penjor pada awalnya dimaknai sebagai replika Gunung Agung. Masyarakat Bali meyakini gunung suci tersebut sebagai tempat bersemayamnya para dewa sekaligus menjadi sumber kesucian dan pelindung pulau. Evolusi bentuk penjor pun mengalami perkembangan yang signifikan.

Jika di masa lampau penjor hanya berupa sebatang bambu melengkung yang dihiasi janur serta hasil bumi secara sederhana, kini tampilannya telah bertransformasi menjadi lebih rumit dan estetis dengan berbagai ornamen pendukung yang memukau.

Makna Mendalam dalam Tradisi Pemasangan

Setiap elemen yang melekat pada penjor membawa pesan filosofis yang kuat bagi kehidupan manusia. Lengkungan bambu pada penjor melambangkan Naga Basuki, yang dipercaya sebagai simbol kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh makhluk. Sementara itu, hiasan berupa pala bungkah seperti umbi-umbian dan pala gantung seperti buah-buahan merupakan wujud nyata rasa syukur atas kelimpahan hasil bumi yang dianugerahkan oleh Tuhan.

Terkait waktu pelaksanaan, tradisi ini telah diatur dengan penuh ketelitian. Penjor dipasang tepat pada hari Penampahan Galungan, yakni sehari sebelum hari raya Galungan, yang dimulai sejak tengah hari. Lokasi pemasangannya pun memiliki aturan tersendiri, di mana penjor ditancapkan di sebelah kanan pintu masuk pekarangan rumah atau yang sering disebut lebuh.

Posisinya diatur sedemikian rupa dengan ujung bambu yang melengkung menjulang ke atas dan mengarah ke tengah jalan sebagai simbol penghormatan dan syukur yang dipancarkan ke lingkungan sekitar.

***

Cek Usiamu Dulu Ya...

Anda harus sudah cukup umur untuk mengakses situs ini.

PERINGATAN: Situs web ini berisi konten yang dibatasi berdasarkan usia.

💬 Tanya AI