📷ilustrasi/ Pixabay/ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM –Â Delapan hari usai melaksanakan Hari Raya Kuningan, tepatnya pada hari Minggu (Redite Pon) wuku Medangsia, Desa Adat Kesiman Denpasar melaksanakan tradisi Ngerebong. Hingga saat ini, Ngerebong menjadi salah satu tradisi unik yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Hindu di Bali, khususnya warga Desa Adat Kesiman, Denpasar. Selain menjadi bagian dari identitas spiritual warga lokal, ritual yang sarat akan nuansa mistis ini juga magnet yang kuat bagi para wisatawan.
Pengertian Tradisi Ngerebong
Secara harfiah, kata Ngerebong memiliki arti berkumpul. Masyarakat setempat meyakini bahwa pada saat tradisi ini berlangsung, para dewa sedang turun dan berkumpul bersama.
Upacara ini digelar untuk menciptakan sekaligus menjaga keseimbangan dunia. Nilai historis dan kulturalnya yang kuat membuat tradisi ini telah dipatenkan sejak tahun 1937. Ngerebong sendiri dikategorikan ke dalam upacara bhuta yadnya atau pacaruan. Melalui media ritual sakral ini, umat Hindu diingatkan kembali untuk selalu memelihara keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan (parhyangan), manusia dengan sesama manusia (pawongan), serta manusia dengan alam lingkungannya (palemahan).
Di sisi lain, Ngerebong menyimpan nilai sejarah sebagai bentuk peringatan masa kejayaan Raja Kesiman pada era tahun 1860-an, ketika beliau memegang kendali politik wilayah Bali hingga Lombok. Uniknya, Ngerebong bukan merupakan upacara piodalan atau peringatan hari lahir pura pada umumnya, dan ritual ini tidak menggunakan upakara atau persembahan biasa sebagai pelengkap upacaranya.
Waktu Pelaksanaan Ngerebong
Ritual ini tidak digelar sembarangan. Berdasarkan kalender atau penanggalan Bali, tradisi Ngerebong dilaksanakan setiap enam bulan sekali (210 hari). Waktu tepatnya adalah delapan hari setelah Hari Raya Kuningan, yaitu pada hari Minggu atau Redite Pon Wuku Medangsia.
Pusat dari seluruh rangkaian upacara besar ini bertempat di Pura Agung Petilan yang berlokasi di Kesiman, Denpasar. Pura ini memang berfungsi sebagai pusat pelaksanaan berbagai upacara keagamaan berskala besar bagi masyarakat Desa Adat Kesiman.
Prosesi Sakral Ngerebong
Rangkaian Upacara Pangerebongan dimulai dengan dua ritual pembuka, yaitu upacara Nyanjan dan Nuwur. Tujuan utama dari kedua prosesi awal ini adalah memohon kehadiran kekuatan suci dari Bhatara-Bhatari beserta Prasanak Pangerob.
Suasana magis mulai terasa saat upacara Nyanjan dan Nuwur selesai dilakukan. Pada momen ini, para pengusung rangda beserta para pepatihnya biasanya akan langsung kerasukan roh suci atau mengalami kondisi trance.
Selanjutnya, seluruh pelawatan Barong dan Rangda, bersama para pepatih yang sedang kesurupan tersebut, bergerak keluar melewati pintu gerbang utama atau Kori Agung. Mereka kemudian mengelilingi wantilan (aula atau tempat adu ayam) sebanyak tiga kali dengan cara prasawia, yaitu berjalan berlawanan dengan arah jarum jam.
Ketika prosesi prasawia berlangsung, ketegangan meningkat saat para pepatih melakukan aksi ngunying atau ngurek. Dalam kondisi tidak sadar tersebut, mereka menusuk dan melubangi bagian tubuh sendiri menggunakan keris atau senjata tajam lainnya. Ajaibnya, berkat perlindungan kekuatan suci, tidak ada satu pun bagian tubuh mereka yang terluka atau berdarah. Setelah seluruh tahapan prasawia usai, mereka kembali menuju Gedong Agung dibarengi dengan upacara Pengeluwuran, di mana warga yang kerasukan perlahan sadar dan kembali seperti semula.
Acara kemudian berlanjut ke tahap Maider Bhuwana Bhatara-Bhartari dan Prasanak Pengerob. Pada fase ini, seluruh iring-iringan pengiring kembali mengitari wantilan sebanyak tiga kali. Bedanya, kali ini mereka berjalan dengan cara pradaksina, yaitu searah dengan jarum jam. Setelah seluruh rangkaian putaran tersebut selesai, seluruh peserta upacara kembali masuk ke area dalam atau jeroan pura.
Makna Mendalam di Balik Prosesi
Jika dicermati, Upacara Ngerebong merupakan cerminan dari pertemuan dua sifat kekuatan yang saling bertentangan di alam semesta. Realitas ini tampak jelas dari simbol-simbol yang mengandung makna mitologi dalam kepercayaan masyarakat setempat. Di antaranya adalah sosok Barong yang menjadi simbol kebaikan, serta sosok Rangda yang merepresentasikan simbol keburukan.
Setiap gerakan dalam prosesi ini juga memiliki esensi filosofis yang mendalam:
Prosesi Prasawia (Berlawanan Arah Jarum Jam): Bermakna sebagai upaya spiritual untuk meredam dan mengendalikan aspek Asuri Sampad, yaitu kecenderungan sifat-sifat buruk atau keraksasaan yang ada di dalam diri manusia dan alam.
Prosesi Pradaksina (Searah Jarum Jam): Bermakna sebagai simbol untuk menguatkan Dewi Sampad, yaitu memunculkan dan memperteguh kembali kecenderungan sifat-sifat kedewajaan, kebaikan, serta kesucian.
Demikina informasi tentang tradisi Ngerebong di Desa Adat Kesiman Denpasar sebagaimana dirangkum dari beragam sumber.
***











