Tayang: Rabu, 2 September 2026 18:06 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – Masyarakat di Bali mengenal beragam obat herbal tradisional, salah satunya untuk mengatasi panas dalam menggunakan gamongan atau dalam bahasa latinya dikenal dengan Zingiber zerumbet. Masuk dalam jenis rempah, masyarakat menggunakan ‘bungkil’ atau umbi dari gamongan ini sebagai obat hebal pereda panas dalam.

Cara membuatnya juga sangat mudah yakni dengan memarut umbi gamongan, lalu menyeduhnya dengan air panas dan meminumnya pada saat pagi hari saat perut dalam keadaan kosong lebih baik. Namun ini tentunya menyesuaikan lagi pada kondisi masing-masing.

Usadha dan Manuskrip Lontar Taru Pramana

Masyarakat Bali mendokumentasikan sistem medis tradisional mereka secara komprehensif melalui ilmu Usadha. Referensi utama praktik ini tertuang dalam manuskrip kuno Lontar Taru Pramana, sebuah teks yang memuat inventarisasi botani beserta aplikasi farmakologisnya. Gamongan muncul dengan rekam jejak panjang dalam literatur ini. Tumbuhan rimpang ini memiliki spesifikasi tinggi sebagai bahan baku utama dalam pengobatan penyakit tertentu.

Profil Fitokimia Gamongan (Zingiber zerumbet)

umbi gamongan
Umbi Gamongan atau Zingiber zerumbet/ ortibali

Secara taksonomi, gamongan teridentifikasi sebagai Zingiber zerumbet atau lempuyang. Spesies dari famili Zingiberaceae ini berhabitat ideal di kawasan tropis. Morfologinya spesifik: daun lanset memanjang, batang berumpun, dan bunga merah mencolok. Nilai medis tertinggi berada pada rimpangnya yang menyimpan konsentrasi senyawa bioaktif padat. Analisis komposisi menunjukkan keberadaan polifenol, flavonoid, karbohidrat, protein, serat kasar, kalium, magnesium, kalsium, dan vitamin C. Kombinasi fitokimia ini menghasilkan efek antioksidan yang kuat bagi tubuh.

Protokol Topikal untuk Cedera Sendi

Lontar Taru Pramana meresepkan gamongan secara akurat untuk penanganan “tangan kiting” atau keseleo dan nyeri sendi. Manuskrip tersebut mencatat sebuah pedoman pengobatan langsung. Teks kuno itu menyebutkan, “Saya bernama gamongan, daging saya panas, daun saya panas, saya dapat dipakai untuk obat tangan kiting.” Praktik medisnya menginstruksikan pencacahan rimpang yang kemudian diemulsikan dengan minyak kelapa. Campuran ini diaplikasikan secara topikal langsung pada area sendi yang mengalami masalah. Sensasi panas termal dari rimpang bekerja melancarkan sirkulasi darah lokal dan meredakan ketegangan urat.

Loloh Paye Gamongan: Formulasi Minuman Terapi

Ekstraksi manfaat gamongan berlanjut pada konsumsi oral berupa loloh. Ramuan cair ini memadukan rimpang gamongan dengan tangkai pare atau katik paye. Proses pembuatannya menuntut ekstraksi mekanis yang presisi. Rimpang dan tangkai pare ditumbuk kasar agar sel-sel tumbuhan pecah dan melepaskan zat aktif, lalu direbus bersama air hingga mencapai titik didih. Penambahan garam berfungsi menyeimbangkan profil rasa pahit dari pare. Untuk aromaterapi dan tambahan antioksidan, pembuat loloh kerap memasukkan kunyit, daun suji, daun jeruk purut, atau serai.

Konsumsi loloh paye gamongan memberikan intervensi langsung pada sistem pencernaan. Cairan herbal ini bekerja sebagai antitoksin alami. Senyawa aktifnya merangsang nafsu makan, memperbaiki motilitas usus, mengatasi sembelit, serta memodulasi respons sistem imun tubuh. Pengalaman empiris masyarakat Bali membuktikan takaran dan metode penyajian dari leluhur ini tetap solid dan aplikatif secara klinis hingga hari ini.

***

Tanya AI