📷Ilustrasi umat Hindu menuju pura ketika Galungan dan Kuningan/ ortibali.com
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM –Â Sugihan Jawa dan Sugihan Bali merupakan dua ritual utama dalam rangkaian perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan bagi umat Hindu di Bali. Sugihan Jawa jatuh pada Kamis Wage wuku Sungsang, diikuti Sugihan Bali sehari setelahnya, yaitu Jumat Kliwon wuku Sungsang.
Kedua ritual ini melambangkan pembersihan total, dari alam semesta luas (Bhuana Agung) hingga dunia kecil dalam diri manusia (Bhuana Alit). Tujuannya memastikan Galungan berjalan lancar dengan terciptanya harmoni antara alam dan isinya.
Makna Sugihan Jawa: Membersihkan Alam Semesta Luar
“Sugihan Jawa” berasal dari kata “Sugi” (membersihkan) dan “Jawa” (luar). Ritual ini menyucikan Bhuana Agung atau makrokosmos, baik secara sekala (fisik) maupun niskala (non-fisik).
Pembersihan sekala dilakukan dengan Pacaruan Ekasata di rumah. Jika waktu terbatas, cukup gunakan bungkak nyuh gading yang telah dihaturkan, lalu percikkan ke seluruh sudut rumah dan pekarangan. Selain itu, bersihkan palinggih melalui ngererata atau mabulung, yaitu mencabut rumput liar di area suci.
Untuk aspek niskala, persembahkan banten pengerebuan dan prayasita kepada Ida Batara, leluhur, serta dewa-dewa di palinggih atau pura. Masyarakat percaya, pada hari Sugihan Jawa, para dewa turun bersama leluhur untuk menerima sajian.
Makna Sugihan Bali: Menyucikan Diri dari Dalam
Sugihan Bali berasal dari kata “wali” yang berarti dalam. Ritual ini fokus pada pembersihan diri manusia secara mendalam.
Pembersihan sekala mencakup penyucian tubuh dari kotoran duniawi agar layak menjadi Brahma Pura. Caranya, mohon tirta pembersihan atau penglukatan.
Pembersihan niskala menargetkan badan rohani (Suksma Sarira dan Antahkarana Sarira) melalui yoga semadi untuk mulat sarira. Umat diharapkan menjaga kesucian batin dengan menahan godaan indria—ini menjadi inti utama Sugihan Bali.
Dengan menjalankan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali secara tulus, umat Hindu menyambut Galungan Kuningan dalam kondisi suci lahir batin, melestarikan tradisi spiritual leluhur.
***













