Tayang: Sabtu, 19 September 2026 07:23 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – 

Daun katuk yang dalam masyarakat Bali dikenal sebagai don kayu manis memiliki tempat tersendiri dalam pengetahuan pengobatan tradisional. Tanaman yang selama ini lebih akrab sebagai bahan pangan tersebut juga dimanfaatkan sebagai bahan loloh dalam Usadha Bali, terutama untuk keluhan sakit tenggorokan.

Jejak pemanfaatannya dapat ditemukan dalam Lontar Taru Pramana. Naskah tersebut memuat pengetahuan mengenai berbagai tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan tradisional Bali, termasuk bagian tanaman yang dimanfaatkan, sifatnya, serta cara pengolahannya menjadi ramuan.

Pengetahuan mengenai tanaman tersebut juga masih dikenal di tengah masyarakat. Cara membuat loloh don kayu manis dapat dilakukan dengan bahan yang sederhana dan mudah ditemukan di lingkungan rumah. Praktik tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan pengobatan tradisional Bali tidak hanya tersimpan dalam naskah lama, tetapi juga tetap hadir melalui kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Don Kayu Manis dalam Pengetahuan Usadha Bali

Bagi sebagian masyarakat Bali, istilah don kayu manis merujuk pada daun katuk atau Sauropus androgynus (L.) Merr. Tanaman ini sehari-hari banyak dimanfaatkan sebagai sayuran. Di dalam pengetahuan Usadha Bali, tanaman tersebut memiliki pemanfaatan lain sebagai bahan ramuan tradisional.

Salah satu bentuk ramuan yang dikenal adalah loloh. Secara sederhana, loloh merupakan ramuan berbentuk cair yang dikonsumsi dengan cara diminum. Bahan pembuatannya dapat berasal dari berbagai bagian tumbuhan yang telah dikenal dalam pengobatan tradisional masyarakat Bali.

Hubungan antara tumbuhan dan pengobatan tradisional tersebut terlihat jelas dalam Lontar Taru Pramana. Naskah ini menjadi salah satu sumber penting dalam pengetahuan mengenai tanaman obat di Bali. Isinya mencatat berbagai tumbuhan beserta keterangan mengenai bagian yang digunakan, sifat tanaman, cara pengolahan, dan tujuan pemanfaatannya.

Pengetahuan itu menunjukkan bahwa masyarakat pada masa lalu telah membangun pemahaman yang cukup rinci mengenai tumbuhan di lingkungan mereka. Akar, batang atau babakan, daun, bunga, buah, hingga getah dapat digunakan sebagai bahan ramuan dengan bentuk pengolahan yang berbeda.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng menjelaskan bahwa ramuan dalam tradisi pengobatan Bali dapat diolah menjadi beberapa bentuk. Di antaranya loloh, sembar atau simbuh, boreh, tutuh, tempel, serta bentuk ramuan lainnya.

Loloh menjadi salah satu bentuk yang masih cukup dikenal hingga sekarang. Ramuan ini memiliki bentuk cair dan digunakan dengan cara diminum.

Jejak Don Kayu Manis dalam Lontar Taru Pramana

Salah satu tanaman yang tercatat dalam kajian mengenai Taru Pramana adalah Taru Manis. Tanaman tersebut diidentifikasi sebagai Sauropus androgynus (L.) Merr., yang dikenal luas sebagai daun katuk. Dalam masyarakat Bali, tanaman ini juga dikenal dengan sebutan don kayu manis.

Keterangan mengenai pemanfaatannya untuk keluhan sakit tenggorokan dapat ditemukan dalam salinan Lontar Usada Taru Pramana yang terdokumentasi di Repository Universitas Pendidikan Ganesha.

Dalam naskah tersebut tertulis:

“Tityang mawasta taru manis, akah rawuh ring dawun tis, yan ana wong rare sakit seret, ambil tityang anggen loloh, ra., santen bawang.”

Terjemahan yang tercantum dalam sumber tersebut berbunyi:

“Saya bernama pohon daun katuk, akar sampai dengan daun bersifat sejuk, jikalau ada orang sakit tenggorokan, ambillah saya jadikan loloh, campurkan dengan santen dan bawang.”

Keterangan tersebut memberikan jejak tertulis mengenai hubungan antara Taru Manis, loloh, dan sakit tenggorokan dalam pengetahuan Usadha Bali.

Catatan dalam lontar juga memperlihatkan cara masyarakat tradisional memahami tumbuhan melalui sifat dan kegunaannya. Dalam keterangan tersebut, bagian akar hingga daun disebut memiliki sifat sejuk. Tanaman kemudian diarahkan untuk diolah menjadi loloh ketika digunakan untuk orang yang mengalami sakit tenggorokan.

Dengan adanya catatan tersebut, pemanfaatan don kayu manis untuk sakit tenggorokan memiliki sumber pengetahuan tertulis yang dapat ditelusuri. Informasi itu tidak berdiri semata-mata sebagai cerita yang berkembang dari mulut ke mulut, tetapi memiliki kaitan dengan naskah pengobatan tradisional Bali yang mendokumentasikan pemanfaatan berbagai jenis tumbuhan.

Resep Loloh Don Kayu Manis yang Dikenal Masyarakat

Pengetahuan mengenai tanaman tersebut tidak berhenti pada catatan dalam lontar. Berdasarkan hasil wawancara, masyarakat masih mengenal cara membuat loloh dari daun katuk atau don kayu manis.

Resep yang dikenal dalam praktik masyarakat menggunakan bahan-bahan sederhana. Sebagian besar bahan dapat ditemukan dengan mudah di lingkungan sekitar rumah.

Bahan-bahan

  • Daun katuk atau don kayu manis secukupnya
  • Bawang merah
  • Air matang
  • Garam secukupnya

Cara Membuat

Pertama, daun katuk dipisahkan dari batangnya. Apabila terdapat bunga pada tanaman, bagian tersebut dibuang. Daun kemudian dicuci hingga bersih menggunakan air matang.

Daun yang sudah bersih diremas dan diuleni dengan tangan. Proses tersebut dilakukan hingga daun mengeluarkan sari berwarna hijau.

Setelah sari mulai keluar, bawang merah mentah dan sedikit garam ditambahkan. Daun kembali diremas hingga sari daun bercampur dengan bahan yang telah dimasukkan.

Campuran tersebut kemudian disaring untuk memisahkan cairan dari ampas daun. Cairan berwarna hijau yang diperoleh dari proses penyaringan menjadi loloh don kayu manis yang dikenal dalam praktik masyarakat.

Cara pembuatannya memperlihatkan bentuk pengolahan yang sederhana. Tidak diperlukan peralatan khusus atau proses perebusan dalam waktu lama. Pengetahuan tersebut dapat diterapkan melalui praktik langsung dengan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Di titik inilah pengetahuan mengenai tumbuhan obat terlihat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tidak selalu disampaikan dalam bentuk teori atau catatan tertulis. Cara memilih bahan, mengolahnya, dan mengenali kegunaannya dapat dipelajari melalui pengalaman serta kebiasaan yang diwariskan dalam keluarga dan masyarakat.

Resep dalam Lontar dan Praktik Masyarakat Memiliki Perbedaan

Ada perbedaan antara cara pengolahan yang tercatat dalam Lontar Taru Pramana dan resep yang dikenal masyarakat berdasarkan hasil wawancara.

Dalam lontar, Taru Manis disebut digunakan sebagai loloh dengan campuran santan dan bawang. Sementara itu, resep yang diperoleh melalui wawancara menggunakan air matang, bawang merah, dan garam.

Perbedaan tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan pengetahuan pengobatan tradisional Bali. Sebuah pengetahuan yang diwariskan dalam masyarakat dapat mengalami penyesuaian ketika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahan tambahan dan teknik pengolahannya dapat berubah mengikuti kebiasaan yang berkembang di suatu lingkungan.

Tanaman utama yang digunakan tetap menjadi bagian penting dari ramuan. Sementara itu, bahan pendamping serta cara pengolahannya dapat menyesuaikan pengalaman masyarakat yang mempraktikkannya.

Karena itu, resep yang dikenal saat ini tidak perlu dipandang sebagai salinan persis dari resep yang tercatat dalam lontar. Keduanya dapat dibaca sebagai dua bentuk jejak pengetahuan mengenai pemanfaatan don kayu manis sebagai loloh.

Lontar memberikan bukti tertulis mengenai pengetahuan tersebut. Praktik masyarakat memberikan gambaran mengenai bagaimana pengetahuan itu diterapkan dan diwariskan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengetahuan Tradisional yang Bertahan Melalui Praktik

Keberadaan loloh don kayu manis memperlihatkan hubungan yang erat antara tumbuhan, pengalaman masyarakat, dan tradisi pengobatan Bali. Daun katuk yang dikenal sebagai bahan pangan ternyata memiliki catatan pemanfaatan dalam pengetahuan Usadha.

Lontar Taru Pramana menjadi salah satu sumber yang memperlihatkan bagaimana tumbuhan dikenali dan dimanfaatkan dalam tradisi tersebut. Catatan mengenai Taru Manis memberikan keterangan mengenai sifat tanaman sekaligus penggunaannya sebagai loloh untuk orang yang mengalami sakit tenggorokan.

Pada saat yang sama, pengetahuan yang berkembang di masyarakat menunjukkan adanya dinamika dalam pewarisan tradisi. Resep yang diperoleh melalui wawancara memiliki komposisi berbeda dari keterangan dalam lontar, tetapi tetap mempertahankan don kayu manis sebagai bahan utama.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan tradisional dapat bertahan melalui dua jalur sekaligus. Sebagiannya tersimpan dalam naskah, sementara sebagian lainnya hidup melalui praktik, ingatan, pengalaman, dan pewarisan secara lisan.

Loloh don kayu manis pada akhirnya menjadi salah satu contoh bagaimana pengetahuan mengenai tanaman obat terus memiliki jejak di Bali. Catatan dalam lontar dan praktik masyarakat memberikan dua sumber penting untuk memahami perjalanan pemanfaatan daun katuk dalam Usadha Bali.

Dalam konteks pengobatan tradisional, informasi mengenai loloh ini merupakan bagian dari pengetahuan budaya. Penggunaannya untuk keluhan kesehatan sebaiknya ditempatkan dalam konteks tradisi tersebut. Untuk keluhan sakit tenggorokan yang berat, menetap, atau disertai gejala lain, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap diperlukan.

***

Tanya AI