📷ilustrasi/ pixabay/ orti bali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM –
Umat Hindu di Bali akan memperingati Anggara Kasih Prangbakat pada Selasa, 15 September 2026. Hari suci ini menjadi salah satu rerahinan yang hadir setiap 210 hari sekali berdasarkan pertemuan Saptawara Anggara (Selasa), Pancawara Kliwon, dan Wuku Prangbakat.
Dalam kehidupan keagamaan masyarakat Hindu Bali, Anggara Kasih memiliki makna yang erat dengan pengendalian diri, penyucian, dan kasih. Hari ini menjadi waktu bagi umat untuk membersihkan berbagai kecemaran dalam diri sekaligus menumbuhkan rasa kasih kepada diri sendiri dan seluruh makhluk hidup.
Anggara Kasih juga menjadi momentum untuk berhenti sejenak dari rutinitas, melihat kembali pikiran, perkataan, dan perbuatan yang telah dilakukan. Melalui introspeksi dan renungan suci, umat memohon agar berbagai hal buruk serta kecemaran yang melekat dalam diri dapat dilebur sehingga kehidupan dapat dijalani dengan kesadaran yang lebih baik.
Makna Anggara Kasih dalam Lontar Sundarigama
Makna Anggara Kasih disebutkan dalam Lontar Sundarigama. Salah satu bagian yang menjelaskan mengenai hari tersebut berbunyi:
“Nahanta waneh, rengen denta, Anggara Keliyon ngarania Anggara Kasih, pekenania pengasianing raga sarira. Sadekala samana yogia wang amugpug angelakat sealaning sarira, wigenaning awak, dena ayoga wang apan ika yoganira, Betara Ludra, merelina alaning jagat teraya, pakertinia aturakna wangi-wangi, puspa wangi, asep astanggi muang tirta gocara.”
Dalam terjemahannya dijelaskan bahwa ketika Anggara bertemu dengan Kliwon, hari tersebut disebut Anggara Kasih. Maknanya berkaitan dengan upaya mewujudkan kasih terhadap raga atau diri sendiri.
Kasih tersebut kemudian diperluas kepada seluruh makhluk hidup. Anggara Kasih menjadi kesempatan bagi umat untuk melakukan penyucian diri serta melebur berbagai hal buruk dan kecemaran yang terdapat dalam kehidupan.
Pesan tersebut menempatkan pengendalian diri sebagai bagian penting dalam pelaksanaan Anggara Kasih. Penyucian tidak berhenti pada kegiatan ritual, tetapi juga menyentuh kesadaran manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Anggara Kasih Menjadi Waktu untuk Membersihkan Pikiran
Kecemaran dalam diri manusia tidak selalu berbentuk sesuatu yang dapat dilihat secara fisik. Pikiran menjadi salah satu bagian yang perlu mendapat perhatian karena memengaruhi perkataan dan tindakan seseorang.
Pikiran yang tidak terkendali dapat membawa seseorang pada perkataan atau perbuatan yang kurang baik. Karena itu, Anggara Kasih dapat digunakan sebagai momentum untuk melakukan renungan suci dan introspeksi terhadap diri sendiri.
Umat Hindu dapat menggunakan waktu tersebut untuk melihat kembali berbagai tindakan yang telah dilakukan. Kesalahan yang pernah terjadi dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sikap dan perilaku pada kehidupan berikutnya.
Renungan juga memberikan ruang bagi seseorang untuk menenangkan pikiran, mengendalikan indria, serta meningkatkan kesadaran terhadap dirinya. Upaya tersebut menjadi bagian dari proses membersihkan kecemaran batin agar seseorang mampu menjalani kehidupan dengan pikiran dan hati yang lebih jernih.
Anggara Kasih Prangbakat dan Yoga Sang Hyang Ludra
Lontar Sundarigama menyebutkan bahwa pada keadaan tersebut Sang Hyang Ludra melakukan yoga. Yoga yang dilakukan bertujuan untuk memusnahkan atau melebur berbagai kecemaran yang terdapat di dunia.
Keterangan tersebut menjadi salah satu dasar bagi umat Hindu untuk melakukan yoga, renungan, atau hening ketika Anggara Kasih. Kegiatan tersebut dapat diarahkan untuk menenangkan pikiran sekaligus meningkatkan kemampuan dalam mengendalikan indria.
Anggara Kasih Prangbakat 2026 yang jatuh pada Selasa, 15 September, dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk memperkuat kesadaran tersebut. Umat diajak melihat keadaan diri secara lebih mendalam, kemudian melakukan perbaikan terhadap hal-hal yang masih perlu dibenahi.
Proses tersebut memiliki hubungan erat dengan pengendalian diri. Ketika pikiran lebih tenang dan kesadaran semakin terarah, seseorang memiliki ruang yang lebih besar untuk menjaga perkataan dan perbuatannya.
Persembahan pada Anggara Kasih Prangbakat
Pelaksanaan Anggara Kasih Prangbakat pada 15 September 2026 dapat dilengkapi dengan sejumlah sarana upakara. Dalam Lontar Sundarigama disebutkan beberapa sarana yang dipersembahkan, yaitu:
- Wangi-wangi
- Puspa atau bunga yang harum
- Dupa astangi
- Tirta pembersihan
Sarana tersebut menjadi bagian dari rangkaian pemujaan dan permohonan penyucian diri. Wangi-wangi dan puspa yang harum digunakan dalam persembahan, sedangkan dupa astangi serta tirta menjadi bagian dari rangkaian penyucian dalam pelaksanaan keagamaan.
Setelah menghaturkan persembahan, umat dapat melanjutkan dengan matirtha pembersihan. Prosesi tersebut menjadi simbol penyucian lahir dan batin, sekaligus bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Tuhan.
Pelaksanaan persembahan juga dapat menjadi pengingat bahwa kegiatan keagamaan memiliki dimensi batin. Sarana yang dihaturkan menjadi bagian dari ritual, sedangkan pengendalian pikiran dan perilaku menjadi bagian dari penerapan nilai Anggara Kasih dalam kehidupan.
Makna Anggara Kasih Prangbakat 2026 bagi Kehidupan
Peringatan Anggara Kasih Prangbakat tidak terlepas dari ritual dan persembahan. Hari suci ini juga membawa pesan mengenai kasih yang perlu diwujudkan dalam kehidupan.
Kasih kepada diri sendiri dapat diwujudkan dengan menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan. Menjaga ketiganya menjadi bagian dari usaha seseorang untuk mengendalikan diri dan menghindari tindakan yang dapat membawa dampak buruk bagi dirinya maupun orang lain.
Kasih kepada sesama dan makhluk hidup dapat diwujudkan melalui sikap saling menghormati, tidak menyakiti, serta menjaga keharmonisan dalam kehidupan. Nilai tersebut membuat peringatan Anggara Kasih memiliki makna yang dapat diterapkan dalam hubungan manusia dengan lingkungan dan seluruh ciptaan Tuhan.
Anggara Kasih Prangbakat yang jatuh pada Selasa, 15 September 2026, menjadi momentum bagi umat Hindu untuk berhenti sejenak dari kesibukan, melakukan introspeksi, dan membersihkan berbagai kecemaran dalam diri.
Melalui renungan suci, persembahan wangi-wangi, puspa, dupa astangi, dan tirta pembersihan, umat diharapkan memperoleh ketenangan sekaligus meningkatkan kesadaran dalam menjalani kehidupan.
Nilai utama yang dibawa Anggara Kasih terletak pada upaya menjaga kejernihan pikiran, kebersihan hati, pengendalian diri, serta menumbuhkan kasih kepada seluruh makhluk. Dengan kesadaran tersebut, peringatan Anggara Kasih Prangbakat dapat menjadi ruang bagi umat untuk memperbaiki diri dan menjalani kehidupan dengan sikap yang lebih baik.
***














