Tayang: Minggu, 7 September 2025 20:04 WITA
Penulis: Sumiati Wayan | Editor: Bram Subali

ORTIBALI.COM – Sehari usai melaksanakan Banyu Pinaruh, umat Hindu melanjutkan yadnya dengan Soma Ribek yakni sebuah momen sakral yang dirayakan setiap hari Soma (Senin) pada Wuku Sinta dalam kalender Bali.

Nama Soma Ribek sendiri berasal dari kata Soma yang berarti Senin, dan Ribek dari kata Ri (hari) serta Bek (penuh), menggambarkan hari penuh berkah dan kelimpahan, khususnya dalam wujud pangan.

Dalam tradisi Bali, hari ini menjadi simbol penghormatan terhadap karunia pangan yang menopang kehidupan manusia.

Makna Spiritual Soma Ribek

Menurut lontar kuno Sundarigama, Soma Ribek memiliki kaitan erat dengan Dewi Sri, dewi kemakmuran dan padi dalam kepercayaan Hindu Bali. Hari ini menggabungkan tiga elemen suci yang menjadi sumber kehidupan:

  • Hari Soma, dengan Dewa Wisnu sebagai perwujudan udaka (air), menghadirkan amertha pawitra, air suci yang menyucikan.

  • Hari Pon, dengan Sang Hyang Mahadewa sebagai perwujudan apah (angin), menyumbangkan amertha kundalini, energi spiritual yang membangkitkan kesadaran.

  • Wuku Sinta, dengan Sang Hyang Yama sebagai perwujudan agni (api), melengkapi dengan amertha kundalini yang menghidupkan semangat.

Ketiga elemen ini—air, angin, dan api—menjadi amertha (cairan kehidupan) yang esensial bagi kelangsungan hidup semua makhluk, terutama manusia. Dalam tradisi Bali, amertha ini disimbolkan melalui beras, yang dianggap sebagai wujud nyata dari karunia Dewi Sri.

Tradisi dan Pantangan di Hari Soma Ribek

Soma Ribek sering disebut sebagai hari penegdegan Batara Sri atau perayaan padi dan beras. Upacara pada hari ini biasanya dilakukan di lumbung (tempat penyimpanan padi) dan pulu (tempat menyimpan beras). Sarana upacara mencakup nyanyah geti-geti, kain gringsing, raka-raka (sesaji buah-buahan), pisang emas, serta bunga-bunga harum yang melambangkan kesucian dan kelimpahan.

Yang unik, ada tradisi pantangan yang kuat pada hari ini. Umat Hindu Bali dilarang menumbuk padi, menjual beras, bahkan memanen padi, menyosoh gabah, memetik buah-buahan, atau menjual hasil pertanian seperti bahan pangan. Di beberapa daerah, pantangan ini diperluas hingga tidak boleh meminta atau memberi bahan pangan kepada orang lain. Lontar Sundarigama dengan tegas menyatakan:

“Ikang wang tan wenang anumbuk pari, angadol beras, katemah dening Bhatara Sri. Pakenania wenang ngastuti Sang Hyang Tri Pramana. Angisep sari tatwa adnyana, aje aturu ring rahinane.”

Artinya, manusia dilarang menumbuk padi atau menjual beras karena tindakan tersebut dianggap tidak menghormati anugerah Dewi Sri. Sebaliknya, umat dianjurkan memuja Sang Hyang Tripramana, dewa penguasa tiga aspek dunia: kenyataan, tanda-tanda, dan falsafah agama (tatwa). Selain itu, umat diajak untuk tetap aktif dan tidak bermalas-malasan di siang hari, sebagai wujud semangat kerja dan penghargaan terhadap hidup.

Filosofi di Balik Soma Ribek

Lebih dari sekadar ritual, Soma Ribek adalah pengingat akan pentingnya pangan dalam kehidupan. Pangan bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga simbol kelimpahan dan rahmat dari Sang Pencipta. Pantangan menumbuk padi atau menjual beras mencerminkan bentuk penghormatan sederhana terhadap karunia Ibu Pertiwi. Tradisi ini mirip dengan pantangan menebang pohon pada hari Tumpek Wariga, yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Hari suci ini juga menjadi cerminan gaya hidup agraris Bali yang menghargai alam sebagai sumber kehidupan. Menanam padi, menjaga kesuburan tanah, dan merawat lingkungan adalah cara nyata untuk mensyukuri karunia pangan. Namun, tantangan modern kini mengemuka. Sawah-sawah di Bali semakin menyusut, hutan-hutan di wilayah utara sering ditebang, dan minat generasi muda untuk bertani terus menurun. Akibatnya, keamanan pangan Bali terancam, sementara banjir dan kerusakan lingkungan kian sering terjadi.

Relevansi Soma Ribek di Era Modern

Soma Ribek bukan sekadar tradisi kuno, tetapi juga panggilan untuk refleksi. Di tengah gempuran modernisasi, hari suci ini mengajak masyarakat Bali—dan dunia secara luas—untuk kembali menghargai pangan dan menjaga harmoni dengan alam. Menanam kembali, merawat bumi, dan mengurangi eksploitasi sumber daya alam adalah langkah nyata untuk memastikan kelimpahan pangan di masa depan.

Melalui Soma Ribek, Bali mengajarkan bahwa rasa syukur tidak hanya diucapkan, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan. Dengan menjaga tradisi ini, kita tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memastikan bahwa karunia pangan tetap menjadi anugerah yang terus mengalir, seperti amertha yang menyegarkan kehidupan.

***

Cek Usiamu Dulu Ya...

Anda harus sudah cukup umur untuk mengakses situs ini.

PERINGATAN: Situs web ini berisi konten yang dibatasi berdasarkan usia.

đź’¬ Tanya AI