📷Ilustrasi umat Hindu sedang melaksanakan persembahyangan/ ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Masyarakat Hindu di Bali kembali memasuki momentum sakral Tilem Sasih Kawulu. Siklus bulan mati kedelapan dalam kalender Bali ini bukan sekadar pergantian waktu, melainkan ruang bagi umat untuk melakukan rekonsiliasi batin dan pembersihan diri dari segala kekotoran spiritual.
Berbeda dengan pandangan umum yang sering mengasosiasikan gelap dengan hal negatif, tradisi Bali justru menempatkan kegelapan pada posisi yang sangat mulia. Tilem Kawulu menjadi pembuktian bahwa cahaya dan gelap adalah dua sisi koin yang setara dalam perjalanan spiritual.
Siwa dalam Gelap yang Paling Gelap
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Putu Eka Guna Yasa, menjelaskan bahwa pemujaan pada saat Tilem ditujukan langsung kepada Dewa Siwa. Dasar teologis ini tertuang dalam kitab Jnyana Sidantha.
“Di dalam matahari ada suci, di dalam suci ada Siwa, dan di dalam Siwa ada gelap yang paling gelap,” ujar Guna Yasa.
Eksistensi pemuliaan terhadap kegelapan ini diperkuat dengan bukti arkeologis di Pura Penileman, Bangli. Di sana, masyarakat melakukan pemujaan kepada Siwa untuk memohon pengidep pati atau inti dari taksu. Adanya arca Dewa Gana (Ganesha), putra Siwa, di lokasi tersebut menjadi bukti otentik bahwa titik tergelap bulan adalah waktu utama untuk berkomunikasi dengan energi ketuhanan.
Melawan Gelap dengan Memasukinya
Perspektif menarik mengenai makna filosofis Tilem juga tertuang dalam buku Sekarura karya IBM Dharma Palguna. Mengutip pembelaan Mpu Tan Akung, gelap tidak seharusnya diusir menggunakan cahaya buatan. Cara terbaik menghadapi kegelapan adalah dengan memasukinya, menyusupinya, dan meleburkan diri di dalamnya.
Sikap ini menuntut keberanian spiritual untuk melihat ke dalam diri sendiri tanpa distraksi. Umat diajak untuk tidak hanya menghormati terang bulan purnama, tetapi memberikan penghormatan yang sama besarnya kepada senyapnya Tilem.
Tata Cara Persembahan dan Ritual Pemurnian
Berdasarkan instruksi dalam Lontar Sundarigama, Tilem Kawulu adalah momentum wajib untuk mengenyahkan lara roga wighna (penyakit dan rintangan) dari dalam tubuh. Berikut adalah panduan ritual yang perlu dilakukan:
- Wangi-wangian: Menghaturkan sarana wangi-wangian di sanggar (tempat suci keluarga), parahyangan, hingga di atas tempat tidur.
- Sesayut Widyadari: Disarankan mempersembahkan satu buah Sesayut Widyadari sebagai bentuk permohonan anugerah agar terampil dalam menjalankan swadharma atau aktivitas sehari-hari.
- Yoga Meneng: Puncak ritual dilakukan pada tengah malam melalui meditasi atau keheningan total.
Guna Yasa menegaskan bahwa pelaksanaan yoga di tengah malam saat Tilem memiliki pahala yang besar. Seluruh noda, dosa, dan kekotoran batin (papa pataka letuh) akan teruwat atau dilebur. Melalui keheningan ini, manusia diharapkan lahir kembali dalam keadaan suci sebelum memasuki siklus bulan berikutnya.
***












