📷ilustrasi umat Hindu sedang menghaturkan canang/ ortibali
Penulis: Bram Subali | Editor: Febrianti Saraswati
ORTIBALI.COM – Budha Urip Kalantas mungkin tidak seperti rangkaian rahina Saraswati lainnya namun perlu diketahui bahwa ini juga tercatat dalam lontar. Di kalangan masyarakat Bali, hari Rabu Pon Wuku Watugunung dikenal sebagai Budha Urip atau Dina Urip Kalantas, sebuah momen yang sarat makna spiritual.
Nama ini merujuk pada kisah epik I Watugunung, tokoh dalam lontar Bhagawan Garga, yang menempuh perjalanan panjang menuju pencerahan. Kisah ini bukan sekadar cerita, melainkan cerminan perjuangan manusia melawan keraguan dan keputusasaan demi menemukan kembali esensi hidup.
I Watugunung, dalam perjalanannya, menghadapi fase kelam yang disebut Candung Watang. Masa ini penuh kebingungan dan keraguan yang menggoyahkan langkahnya. Namun, ia tak menyerah. Dengan tekad kuat, ia mendekatkan diri pada keluarga, sahabat, dan gurunya melalui proses Paid-Paidan. Langkah ini membantunya menemukan ritme hidup yang sempat hilang, bagaikan seseorang yang bangkit dari kegelapan menuju cahaya.
Kini, I Watugunung berdiri tegak dengan semangat baru. Bagai mentari yang muncul dari balik awan kelabu, ia penuh percaya diri. Hatinya dipenuhi harapan, dan raganya kembali bugar untuk melanjutkan perjalanan menuju Cahaya Agung Sarining Jnana, simbol kebijaksanaan dan pencerahan sejati.
Kisah ini menyimpan pelajaran berharga bagi kita semua. Ketika kita berhasil mengatasi keraguan dengan dukungan orang-orang terpercaya, semangat baru yang lebih segar dan murni akan lahir. Ketidakpercayaan diri, yang sering menjadi penghalang terbesar, akan sirna dengan sendirinya. Inilah esensi Budha Urip Kalantas: sebuah panggilan untuk tetap bersungguh-sungguh, mencintai hidup, dan menjaga dedikasi serta disiplin.
Mereka yang berkomitmen, pantang menyerah, dan setia pada tujuan hidupnya akan menjadi pemenang. Bukan hanya pemenang atas tantangan hidup, tetapi juga pemenang atas kebenaran diri dan anugerah kebijaksanaan sejati. Hari Budha Pon Watugunung mengingatkan kita bahwa perjuangan menuju pencerahan adalah perjalanan yang layak diperjuangkan.
***














