Tayang: Senin, 29 September 2025 07:46 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – Hari Raya Galungan adalah salah satu hari suci terpenting bagi umat Hindu di Bali. Dirayakan setiap 210 hari sekali, yaitu pada hari Rabu Kliwon Wuku Dungulan, perayaan ini memiliki makna mendalam sebagai kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan).

Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa akar sejarah Galungan terukir dalam naskah-naskah kuno berupa lontar, yang menyimpan kisah heroik dan filosofis dari masa lalu Bali.

Jejak Sejarah dalam Lontar Purana Bali Dwipa

Sumber utama yang mencatat sejarah awal Galungan adalah Lontar Purana Bali Dwipa.

Berdasarkan lontar ini, perayaan Galungan pertama kali dilangsungkan pada tahun 804 Saka atau 882 Masehi. Lontar tersebut menyebutkan: “Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya”.

Artinya: “Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih keempat (kacatur) tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali seperti Indra Loka (surga)”.

Kutipan ini menunjukkan bahwa sejak awal, Galungan dimaknai sebagai momen spiritual yang menghadirkan kebahagiaan dan kemuliaan layaknya di surga (Indra Loka). Keadaan ini terwujud setelah kemenangan Dharma atas Adharma berhasil diraih, membawa kedamaian bagi seluruh alam.

Kisah Kemenangan Dharma atas Adharma

Cerita utama yang melatarbelakangi perayaan Galungan adalah pertempuran antara kebaikan dan kejahatan yang termuat dalam Lontar Usana Bali. Kisah ini berpusat pada sosok Raja Mayadenawa, seorang penguasa lalim yang memiliki kekuatan sakti, namun bersifat Adharma. Mayadenawa melarang rakyatnya menyembah para dewa dan merusak tempat-tempat suci, sehingga menimbulkan penderitaan bagi banyak orang.

Melihat penderitaan tersebut, para dewa turun ke dunia untuk melawan Mayadenawa. Puncaknya, pertempuran besar terjadi antara pasukan Raja Mayadenawa dan pasukan Dewa Indra. Dengan kekuatan dan kebijaksanaan yang dimiliki, Dewa Indra berhasil mengalahkan Mayadenawa, mengembalikan kedamaian di dunia. Kemenangan ini menjadi tonggak sejarah yang kemudian diperingati sebagai Hari Raya Galungan.

Makna Spiritual dalam Lontar Sundarigama

Selain catatan historis, lontar lain seperti Sundarigama memberikan penjelasan filosofis yang lebih mendalam mengenai makna Galungan. Menurut lontar ini, Galungan adalah momentum untuk mencapai terang pikiran (manah). Perayaan ini mengajak umat Hindu untuk menepis segala kekacauan batin, menyatukan kekuatan rohani, dan kembali fokus pada hal-hal yang baik dan benar.

Lontar Sundarigama juga menjelaskan makna yang terkandung dalam setiap rangkaian upacara, termasuk hari-hari menjelang Galungan. Misalnya, upacara Penampahan Galungan dimaknai sebagai momen untuk menyembelih nafsu kebinatangan dalam diri manusia dan menyiapkan diri secara lahir batin untuk menyambut kemenangan Dharma.

Galungan dan Filosofi Penjor

Simbol paling ikonik dari Galungan adalah penjor, tiang bambu melengkung yang dihias dengan janur, buah, dan hasil bumi. Lontar juga mengisyaratkan makna penjor sebagai persembahan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa yang berstana di puncak Gunung Agung, sebagai wujud syukur atas kemakmuran yang dilimpahkan. Pemasangan penjor di setiap rumah menjadi penanda bahwa umat telah menjalankan dharma dan menyambut kemenangan spiritual.

Kesimpulan

Galungan, dengan segala kemeriahannya, bukanlah sekadar perayaan seremonial. Di balik pemasangan penjor yang indah dan berbagai ritual lainnya, tersimpan sejarah panjang dan filosofi mendalam yang diwariskan melalui lontar-lontar kuno Bali.

Dari Lontar Purana Bali Dwipa yang mencatat awal mula perayaan hingga Lontar Sundarigama yang menjelaskan makna spiritual, setiap detail Galungan adalah pengingat bahwa kebaikan akan selalu menang atas kejahatan, dan manusia harus terus berjuang untuk mencapai ketenangan batin. Hal ini menjadikan Galungan sebagai tradisi yang tidak lekang oleh waktu, sekaligus warisan budaya yang tak ternilai bagi umat Hindu di Bali.

***

Tanya AI