📷ilustrasi/ pixabay/ orti bali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Hari Suci Purnama Kapitu memiliki kedudukan penting dalam kalender Bali. Purnama ini jatuh pada sasih ketujuh dan diperingati setiap bulan saat fase bulan penuh atau sukla paksa. Dalam tradisi Hindu Bali, Purnama Kapitu dipahami sebagai momentum utama untuk melakukan penyucian diri lahir dan batin, sekaligus memperkuat kesadaran spiritual umat.
Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa Purnama merupakan payogan Sang Hyang Candra. Hal ini ditegaskan dalam kutipan berikut:
Mwah hana pareresiknira sang hyang rwa bhineda, makadi sang hyang surya candra, yatika nengken purnama mwang tilem, ring purnama sang hyang ulan mayoga, yan ring tilem sang hyang surya mayoga.
Petikan tersebut menjelaskan bahwa terdapat hari penyucian bagi Dewa Matahari dan Dewa Bulan, yang disebut Sang Hyang Rwa Bhineda, yakni pada saat tilem dan purnama. Pada hari Purnama, Sang Hyang Wulan atau Candra menjalankan yoga, sedangkan pada tilem Sang Hyang Surya yang melakukannya. Purnama dan tilem dengan demikian dipandang sebagai waktu suci yang menandai keseimbangan kosmis.
Masih dalam lontar Sundarigama disebutkan pula:
Samana ika sang purohita, tkeng janma pada sakawanganya, wnang mahening ajnana, aturakna wangi-wangi, canang nyasa maring sarwa dewa, pamalakunya, ring sanggat parhyangan, laju matirta gocara, puspa wangi.
Makna dari ajaran tersebut menekankan bahwa pada hari Purnama, para sulinggih dan umat dianjurkan menenangkan pikiran, mempersembahkan wangi-wangian, canang nyasa kepada para dewa, melaksanakan pemujaan di sanggah dan parahyangan, lalu memohon tirtha sebagai sarana penyucian diri.
Hari Penyucian Lahir dan Batin
Purnama Kapitu diyakini sebagai hari penyucian diri lahir dan batin. Umat Hindu di Bali melakukan persembahan berupa canang wangi-wangian dan canang yasa sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya. Rangkaian upacara ini dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dari pengaruh negatif, baik secara fisik maupun spiritual.
Selain pemujaan, Purnama juga dikenal sebagai hari yang baik untuk melaksanakan dana punia. Dalam kitab Sarasamuscaya sloka 170 dijelaskan:
Amatsaryam buddhiḥ prahur dānam dharmaś ca saṁyamaḥ,
wasthitena nityaṁ hi tyāge tyasādyate śubham.
Nihan tang dana ling sang pandita, ikang si haywa kimburu, ikang si jenek ri kagawayaning dharmasādhana, apan yan langgeng ika, nitya katemwaning hayu, pada lawan phalaning tyāgadāna.
Ajaran tersebut menerangkan bahwa dana atau sedekah menurut para pandita bersumber dari pikiran yang bebas dari iri hati, dilandasi keteguhan dalam kebajikan dan pengendalian diri. Jika dilakukan secara berkelanjutan, sedekah akan mendatangkan keselamatan dan pahala kebajikan yang besar.
Ajaran serupa juga tercantum dalam Bhagawad Gita XVII.25:
Tat ity anabhisaṅśaya
phalaṁ yajña-tapaḥ-kriyāḥ,
dāna-kriyāś ca vividhāḥ
kriyante mokṣa-kāṅkṣibhiḥ.
Sloka ini menjelaskan bahwa dengan mengucapkan “Tat” dan tanpa mengharapkan hasil, pelaksanaan yadnya, tapa brata, serta dana punia dilakukan oleh mereka yang menapaki jalan pembebasan rohani atau moksa.
Sedekah dan Keseimbangan Persembahan
Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Kertha Bhuana dari Griya Batur Giri Murti, Glogor, Denpasar, menyampaikan bahwa Purnama kerap menjadi waktu yang tepat untuk bersedekah. Menurutnya, suasana batin manusia yang cenderung tenang dan bahagia saat menyaksikan bulan purnama mendukung lahirnya niat tulus untuk berbagi.
Bantuan kepada orang yang membutuhkan dinilai selaras dilakukan ketika pemberi berada dalam kondisi batin yang baik. Selain sedekah kepada sesama, umat juga diingatkan untuk menjaga keseimbangan persembahan. Persembahan kepada Bhuta Kala dilaksanakan melalui segehan, sedangkan persembahan kepada Tuhan dilakukan dengan bunga dan doa.
Makna Spiritual Purnama Sasih Kapitu
Hari Suci Purnama Sasih Kapitu memiliki makna mendalam dalam konteks kesadaran kosmis. Momentum ini mengingatkan kesatuan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit, atau antara alam semesta dan diri manusia. Konsep ini sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana, yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Ajaran tersebut didukung oleh sloka Upanishad:
Yathā piṇḍe tathā brahmāṇḍe.
Maknanya, apa yang ada dalam diri manusia sejatinya juga ada di alam semesta.
Purnama juga dipahami sebagai waktu yang ideal untuk penyucian diri (pavitram dan śuddhi). Praktik melukat dan tirthayatra pada Sasih Kapitu diyakini membantu membersihkan sarwa pāpa dan kleśa atau kotoran pikiran. Hal ini sejalan dengan sloka Manusmṛti 5.109:
Apavitraḥ pavitro vā sarvāvasthāṁ gato ’pi vā,
yaḥ smaret puṇḍarīkākṣaṁ sa bāhyābhyantaraḥ śuciḥ.
Sloka ini mengajarkan bahwa siapa pun yang mengingat Tuhan dengan ketulusan akan menjadi suci, baik secara lahir maupun batin, apa pun keadaannya.
Bulan purnama juga melambangkan kesadaran jiwa yang murni dan tenang. Dalam Rig Veda 10.90.13 disebutkan:
Chandramā manaso jātaḥ.
Artinya, bulan lahir dari pikiran Tuhan. Oleh karena itu, meditasi pada malam Purnama dipandang mendukung tercapainya ketenangan dan kejernihan batin.
Implementasi Nilai Purnama Kapitu
Nilai spiritual Purnama Sasih Kapitu dapat diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Meditasi dan yoga membantu menenangkan pikiran. Melukat dan tirthayatra menjadi sarana penyucian diri. Refleksi diri, saling memaafkan, serta pelaksanaan swadharma secara tulus menjadi bagian dari pengamalan ajaran Hindu.
Hari Suci Purnama Kapitu di Bali dipahami sebagai pengingat akan hakikat perjalanan hidup manusia. Melalui bhakti, penyucian diri, dan kepedulian sosial, umat diajak menjaga keseimbangan antara kehidupan duniawi dan spiritual. Nilai ini sejalan dengan ajaran Tat Twam Asi, yang menegaskan kesatuan seluruh makhluk hidup dalam harmoni alam semesta.
***











