Tayang: Sabtu, 13 Desember 2025 06:06 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – Bali kembali bergema dengan doa-doa suci setiap memasuki sasih kanem, bulan keenam dalam kalender tradisional Bali. Di pura-pura kahyangan subak yang berjejer di tepi pantai, di pekarangan banjar, hingga di merajan-merajan rumah, umat Hindu serentak melaksanakan upacara Nangluk Merana, ritual Bhuta Yadnya yang telah diwariskan sejak zaman Rsi Markandeya.

Upacara ini memiliki satu tujuan utama yang tegas: memohon keselamatan Pulau Bali dari segala bentuk bencana, wabah penyakit, hama tanaman, dan energi negatif yang biasanya menguat pada musim pancaroba. “Kami memohon agar Bali selalu dalam keadaan rahayu, selamat lahir dan batin, dijauhkan dari segala hal yang mengganggu harmoni sekala dan niskala,” demikian makna yang selalu diucapkan para sulinggih di setiap puncak upacara.

Sasih Kanem, Musim Panca Roba yang Rawan

Secara astronomis dan agraris, sasih kanem adalah masa peralihan dari kemarau ke penghujan. Hujan turun lebih lebat dibandingkan sasih kelima. Suhu berubah-ubah ekstrem, angin kencang, petir menyambar tanpa pola pasti. Kondisi ini memicu munculnya berbagai penyakit pada manusia (disebut gering agung atau sasab), pada hewan ternak, dan pada tanaman pertanian (disebut merana).

Ida Pandhita Mpu Parama Yoga Sala Simpati (93 tahun), sulinggih senior dari Griya Sala Simpati, Banjar Sala, Desa Abuan, Susut, Bangli, menjelaskan dengan lantang, “Inilah masanya gering sasab merana tumbuh subur. Jenis penyakit keracunan pun termasuk dalam kategori ini. Kalau menyerang manusia disebut kegeringan, kalau menyerang hewan dan tanaman disebut merana.”

Beliau melanjutkan, leluhur Bali tidak pernah berusaha melawan siklus alam yang sudah pasti itu. Mereka memilih jalan nunas ica, memohon dengan tulus. “Kami berkata: silakan bertumbuh, tetapi jangan sampai ngrubeda, jangan sampai menjadi wabah besar yang merusak segalanya.” Pendekatan inilah yang disebut kearifan lokal warisan leluhur Bali.

Akar Sejarah dan Landasan Kitab Suci

Ritual Nangluk Merana sudah ada sejak masa Rsi Markandeya membuka hutan Bali untuk dijadikan sawah dan pemukiman. Dalam Lontar Purwaka Bumi dan Lontar Cuda Mani disebutkan dengan jelas bahwa pergantian sasih harus disikapi dengan penuh lascarya, ngaturan bakti, dan persembahan banten agar tercipta penetralan dan keseimbangan alam semesta.

Sumber lain, Purana Bali Dwipa, mencatat petunjuk yang diterima Raja Sri Aji Jayakasunu dari Hyang Maha Kuasa: “Dan jangan lupa melaksanakan kurban (tawur) di laut amanca sanak, tingkat kecil, sedang, utama, tiap-tiap bulan Desember, Januari, Februari, salah satu di antaranya dapat dipilih untuk dilaksanakan sebagai penolak hama dan bencana. Bilamana sudah melaksanakan upacara Nangluk Merana, penolak hama dan penyakit di sawah, maka tikus, walang sangit, segala bentuk hama di tingkat desa maupun sawah tidak akan berbahaya lagi, karena sudah dibuatkan upacara. Segala wabah berasal dari laut sebagai sumbernya.”

Pelaksanaan di Pura Subak dan Pantai Seluruh Bali

Upacara Nangluk Merana terpusat di pura-pura yang berstatus Pura Subak atau Pura Segara, yang lokasinya berada di tepi pantai. Beberapa pura yang menjadi pusat pelaksanaan setiap tahun antara lain:

  • Pura Watu Klotok, Pantai Lebih, Klungkung
  • Pura Ulun Subak Bukit Jati
  • Pura Masceti, Gianyar
  • Pura Er Jeruk, Sukawati
  • Pura Petitenget, Badung
  • Pura Rambut Siwi, Jembrana
  • Pura Tanah Lot, Tabanan

Pelaksanaan disesuaikan dengan desa kala patra, tradisi setempat, sehingga waktu dan bentuk sarana bisa berbeda antar-wilayah.

Banjar Margatengah: Pembagian “Malang” untuk Setiap Krama

Di Banjar Margatengah, Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, misalnya, krama banjar bergotong-royong menyiapkan ratusan sesaji. Puncak upacara ditandai dengan pembagian sesaji kecil bernama “malang” kepada setiap kepala keluarga. Sesaji ini kemudian diletakkan di pekarangan rumah masing-masing sebagai simbol bahwa seluruh wilayah banjar telah dinetralkan dari energi negatif.

Di Desa Adat Sala, Bangli, warga memasang sungga poleng, gerbang bambu berhias janur runcing berwarna hitam-putih. “Maknanya tegas: jangan sampai merana atau wabah masuk ke wilayah desa, agar seluruh krama selalu dalam keadaan rahayu,” ungkap Bendesa Madya Majelis Desa Adat Kabupaten Bangli, I Ketut Kayana.

Makna Lingkungan dan Pelestarian Warisan Leluhur

Rektor Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, menegaskan bahwa Nangluk Merana bukan sekadar ritual spiritual, melainkan juga bentuk kesadaran ekologis yang tinggi. “Di daerah pesisir disebut Nangluk Merana, di daratan disebut Caru Sasih Kalima-Kanem. Tujuannya sama: mengendalikan wabah pada musim pancaroba. Setiap sasih sebenarnya memiliki pacaruannya masing-masing, tetapi yang paling dikenal adalah sasih kalima-kanem dan Tawur Agung Kesanga, karena memang masa panca roba paling rawan,” jelasnya.

I Ketut Kayana menambahkan, “Warisan ini bukan sekadar tradisi kosong. Leluhur mewariskan berdasarkan pengalaman ratusan tahun. Di dalamnya ada pesan respek dan tanggung jawab merawat lingkungan.”

Hingga hari ini, upacara Nangluk Merana tetap digelar dengan khidmat di seluruh penjuru Bali. Ritual ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Bali masih memegang teguh cara leluhur dalam menghadapi perubahan iklim, ancaman wabah, dan gangguan alam, cara yang terbukti efektif melindungi pulau ini selama berabad-abad.

***

Cek Usiamu Dulu Ya...

Anda harus sudah cukup umur untuk mengakses situs ini.

PERINGATAN: Situs web ini berisi konten yang dibatasi berdasarkan usia.

đź’¬ Tanya AI