
📷Sejarah Pura Petitenget/ google maps/ ortibali
Penulis: Sumiati Wayan | Editor: Bram Subali
ORTIBALI.COM – Di pesisir Bali yang memesona, tersimpan cerita kuno tentang Pura Petitenget, sebuah tempat suci yang menyimpan sejarah dan makna spiritual mendalam. Berlokasi di kawasan Pantai Petitenget, pura ini bukan hanya destinasi wisata spiritual, tetapi juga saksi bisu perjalanan mistis yang melibatkan tokoh suci dan makhluk gaib. Berikut kisahnya yang kaya akan nilai budaya dan sejarah Bali.
Asal-Usul Pura Petitenget
Konon, dahulu kala, hutan lebat di tepi Pantai Petitenget dihuni oleh sosok raksasa bernama I Bhuta Ijo. Makhluk ini bukan sembarang raksasa, melainkan pengawal setia Ida Bhatara Labuhan Masceti. Kisah bermula ketika Dang Hyang Dwijendra, seorang pendeta suci yang dikenal sebagai Dhang Hyang Nirartha, melintasi wilayah ini dalam perjalanan menuju Pura Luhur Uluwatu untuk mencapai moksa, yaitu pembebasan spiritual.
Dalam perjalanannya, Dang Hyang Dwijendra bertemu dengan I Bhuta Ijo. Ia mempercayakan pecanangan—tempat sirih yang dianggap suci—kepada raksasa tersebut untuk dijaga. Dengan kekuatan spiritual yang diberikan oleh sang pendeta, I Bhuta Ijo menjalankan tugasnya dengan penuh kesetiaan. Namun, kehadiran raksasa ini justru menimbulkan keresahan di kalangan warga setempat.
Konflik dan Wabah Misterius
I Bhuta Ijo, dengan kesaktiannya, menjaga pecanangan dengan sangat ketat. Ia menganggap setiap orang yang memasuki wilayahnya berniat mencuri benda suci tersebut. Akibatnya, ia menyebarkan gerubug atau wabah penyakit yang menyerang siapa saja yang berani mendekati area itu. Ketakutan melanda masyarakat, dan mereka pun mencari solusi untuk mengatasi gangguan ini.
Warga kemudian memohon petunjuk kepada Dang Hyang Dwijendra, yang saat itu tengah bersemedi di Pura Luhur Uluwatu. Mendengar keluhan mereka, sang pendeta memberikan arahan bijak: membangun sebuah tempat suci untuk menenangkan I Bhuta Ijo dan menghormati Ida Bhatara Labuhan Masceti. Masyarakat diminta mendirikan Palinggih Pasimpangan sebagai stana Ida Bhatara Labuhan Masceti dan Pagedongan untuk I Bhuta Ijo. Pura yang dibangun ini kemudian diberi nama Pura Petitenget.
Ritual dan Persembahan
Untuk menjaga kesucian dan keseimbangan spiritual, warga juga diminta memberikan persembahan berupa lelaban setiap Tilem Kawulu. Persembahan ini terdiri dari seekor sapi hitam batu, lengkap dengan ajeng-ajengan cacahan, sebagai wujud penghormatan kepada kekuatan spiritual yang berdiam di pura. Sejak saat itu, suasana di kawasan Petitenget berubah. Wabah penyakit menghilang, dan ketakutan akan raksasa pun sirna, karena I Bhuta Ijo telah distanakan di pura tersebut.
Struktur dan Keunikan Pura Petitenget
Memasuki area Pura Petitenget, pengunjung akan disambut oleh sejumlah bangunan suci yang sarat makna. Di dalamnya terdapat Palinggih Gedong sebagai stana Dang Hyang Dwijendra, serta Meru Tumpang Lima yang menjadi tempat pemujaan Ida Luhuring Dalem Solo, Majapahit, dan Mekah. Selain itu, terdapat pula Palinggih Catu Meres, Catu Mujung, Padma Capah, Naga Gombang, dan Padmasana, yang semuanya mencerminkan kekayaan tradisi spiritual Bali.
Makna Nama Petitenget
Nama “Petitenget” sendiri berasal dari dua kata: peti yang berarti kotak, merujuk pada pecanangan milik Dang Hyang Dwijendra, dan tenget yang berarti angker atau keramat. Dengan demikian, Pura Petitenget dapat diartikan sebagai “peti yang angker,” mencerminkan kisah mistis di balik pendiriannya. Nama ini juga diadopsi oleh kawasan pantai di sekitarnya, yang kini dikenal sebagai Pantai Petitenget, salah satu destinasi populer di Bali.
Warisan Spiritual dan Budaya
Hingga kini, Pura Petitenget tetap menjadi pusat kegiatan spiritual bagi masyarakat Bali, sekaligus daya tarik bagi wisatawan yang ingin menyelami kekayaan budaya pulau ini. Keberadaannya tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga mengingatkan kita akan keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan gaib yang dihormati dalam kebudayaan Bali.
Dengan cerita yang kaya dan suasana yang penuh khidmat, Pura Petitenget terus berdiri sebagai simbol spiritualitas dan sejarah, mengundang siapa saja untuk menghormati warisan leluhur di tepi pantai yang memukau.
***












