đź“·Waspadai Godaan Sang Hyang Kala Tiga Jelang Galungan, Begini Cara Menang dari Adharma/ ortibali
Penulis: Putu Wisnu | Editor: Bram Subali
ORTIBALI.COM – Menjelang Hari Raya Galungan, umat Hindu diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan spiritual. Dalam ajaran yang tertuang pada Lontar Sundarigama, disebutkan bahwa beberapa hari sebelum Galungan, turunlah kekuatan negatif tak kasat mata yang dikenal sebagai Sang Hyang Kala Tiga. Mereka adalah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan, dan Sang Bhuta Amengkurat—tiga manifestasi Bhuta yang menguji keteguhan iman manusia.
Makna Galungan: Kemenangan Dharma atas Adharma
Galungan bukan sekadar hari libur keagamaan. Bagi umat Hindu, hari ini merupakan momen sakral untuk merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan). Namun, kemenangan ini bukanlah sesuatu yang instan. Ia harus diawali dari dalam diri, dengan menundukkan berbagai sifat negatif seperti amarah, keserakahan, iri hati, nafsu duniawi, dan keangkuhan.
Jika umat berhasil mengendalikan sifat-sifat buruk itu, barulah kemenangan Dharma benar-benar dirasakan. Sebaliknya, jika masih dikuasai oleh Adharma, maka perayaan Galungan hanya menjadi simbol tanpa makna sejati.
Siapa Itu Sang Hyang Kala Tiga?
Sesuai yang dijelaskan dalam Lontar Sri Jaya Kesunu, ketiga Bhuta ini turun pada hari-hari tertentu di pekan Galungan:
-
Redite Paing Wuku Dungulan: Turunnya Sang Bhuta Galungan
-
Soma Pon Wuku Dungulan: Turunnya Sang Bhuta Dungulan
-
Anggara Wage Wuku Dungulan: Turunnya Sang Bhuta Amengkurat
Ketiganya disebut sebagai penggoda utama manusia menjelang Galungan. Mereka merusak ketenangan batin dan menggoda umat agar terjerumus ke dalam pertengkaran, amarah, atau tindakan negatif lainnya.
Redite Paing: Hari Panyekeban dan Simbol Penahanan Diri
Hari Minggu (Redite) sebelum Galungan disebut sebagai Hari Panyekeban. Pada hari ini, umat Hindu mulai mengerem gejolak batin dan menjaga diri dari emosi negatif. Simbolisasi hari ini dilakukan dengan menyekeb pisang, sebagai tanda kesiapan menyambut kesucian Galungan.
Dalam tradisi turun-temurun, sangat tidak dianjurkan untuk bertengkar atau melakukan tindakan negatif dari Redite Paing hingga Umanis Galungan. Konon, mereka yang melanggar akan terus mengulang pertengkaran serupa di Galungan berikutnya.
Penampahan Galungan: Membunuh Sifat Kebinatangan dalam Diri
Hari Selasa Wage atau Penampahan Galungan menjadi momentum untuk “menyembelih” segala sifat kebinatangan dalam diri. Umat biasanya melakukan penyembelihan hewan sembari memberikan persembahan berupa daging jejeron di natar rumah dan merajan. Persembahan ini ditujukan kepada Sang Bhuta Amengkurat, agar tidak mengganggu ketenangan menjelang Galungan.
Selain itu, juga dilakukan upacara di palinggih penunggu karang untuk Sang Kala Maya, sebuah entitas niskala yang dipercaya menjaga pekarangan rumah. Persembahan nasi roongan dan ulam karangan menjadi simbol permohonan perlindungan spiritual dari gangguan makhluk halus.
Puncak Hari Suci: Rabu Kliwon Wuku Dungulan
Hari Rabu Kliwon dalam wuku Dungulan adalah puncak Hari Raya Galungan. Pada hari suci ini, umat Hindu merayakan kejayaan Dharma. Namun perayaan itu baru sah apabila sebelumnya telah berhasil melewati ujian spiritual berupa godaan dari Sang Hyang Kala Tiga dan mengendalikan sifat Adharma dalam diri.
Jika umat masih dikuasai oleh kemarahan, kesombongan, iri hati, atau nafsu duniawi, maka belum bisa dikatakan meraih kemenangan sejati.
Ajakan untuk Introspeksi Diri
Galungan sejatinya adalah perayaan batin. Ia bukan semata-mata ritual, melainkan bentuk introspeksi mendalam terhadap diri sendiri sebagai medan perang antara Dharma dan Adharma. Musuh terbesar bukan di luar sana, tapi dalam diri kita sendiri.
Karena itulah, umat Hindu diajak untuk selalu mawas diri, menjaga kebersihan pikiran dan perilaku, serta waspada terhadap godaan tak kasat mata yang muncul menjelang Galungan.
Dengan memahami esensi Galungan dan menghindari bisikan Sang Hyang Kala Tiga, umat diharapkan benar-benar bisa merayakan kemenangan spiritual yang hakiki—kemenangan Dharma yang lahir dari jiwa yang bersih dan damai.
***












