Tayang: Selasa, 24 Februari 2026 12:10 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – Kearifan lokal Bali dalam dunia medis tidak hanya sekadar ramuan, tetapi juga mencakup kemampuan diagnostik yang tajam melalui pengamatan fisik dan spiritual. Melalui buku bertajuk Berbagai Cara Pengobatan Menurut Lontar Usada yang disusun oleh I Ketut Suwidja, terungkap bagaimana praktisi pengobatan tradisional Bali menentukan harapan hidup seorang pasien serta cara menangani berbagai penyakit dalam.

Diagnosa Vital: Antara Harapan dan Ajal

Dalam pakem Usada, terdapat garis tegas yang memisahkan kondisi pati (mati) dan urip (hidup). Para praktisi tradisional menggunakan indikator fisik untuk menentukan apakah sebuah penyakit masih layak diobati atau pasien sudah mendekati ajalnya.

Salah satu tanda krusial adalah kondisi ubun-ubun. Jika ubun-ubun mengeluarkan keringat, hal ini diibaratkan sebagai “asap di atas gunung” yang menandakan Sang Hyang Iswara mulai meninggalkan raga. Dalam kondisi ini, pasien diprediksi memiliki waktu tujuh hari; jika melewati masa kritis tersebut, pengobatan masih mungkin dilakukan.

Sebaliknya, terdapat tanda-tanda yang dianggap sebagai isyarat mutlak untuk menghentikan pengobatan karena Sang Hyang Pramana atau Sang Hyang Yama telah meninggalkan tubuh, di antaranya:

  • Kehilangan Pendengaran: Jika lubang telinga ditutup namun pasien tidak mendengar suara sama sekali, kematian diprediksi tiba dalam empat hari.
  • Kelainan Fisik Wajah: Mulut yang terbuka dan mencong serta telinga yang berkeringat menandakan hilangnya tenaga vital secara total.
  • Hilangnya Sensitivitas: Lambung yang ditekan namun tidak lagi terasa geli menjadi indikator kuat bahwa raga sudah kehilangan respons kehidupan.

Mengidentifikasi Serangan Roh Halus dan Pamali

Gejala fisik yang tidak lazim sering kali dikaitkan dengan gangguan non-medis. Tubuh yang mengalami fluktuasi suhu panas-dingin secara ekstrem, terutama jika ujung tangan dan kaki terasa dingin, dipercaya sebagai akibat dari gangguan pamali. Sementara itu, sakit kepala yang disertai bibir kering dan mulut terkunci rapat merupakan ciri seseorang sedang diganggu oleh roh halus.

Untuk gejala demam internal, Lontar Usada menyarankan penggunaan bahan alami yang bersifat mendinginkan. Ramuan yang terdiri dari inti lengkuas (Alpinia galanga), bawang merah mentah (Allium ascalonicum), dan beras putih dapat diaplikasikan sebagai bedak. Jika pasien menunjukkan kegelisahan, memandikannya adalah langkah segera untuk mengeluarkan hawa panas dari dalam tubuh.

Penyakit Bokan dan Tiwang Upas Bangke

Lontar Usada juga mendefinisikan penyakit spesifik seperti Bokan. Penyakit ini ditandai dengan perubahan pada putih mata, tubuh yang menguncup, serta rasa panas yang menusuk di area antara jantung dan paru-paru.

Solusi untuk Bokan melibatkan pengolahan bahan-bahan herbal yang dimasak:

  1. Asaban kayu cendana.
  2. Rempah-rempah pilihan.
  3. Kemiri mentah (Aleurites moluccana).
  4. Santan murni.

Kondisi yang lebih berbahaya terdeteksi melalui denyut nadi atau gamelan bayu. Jika nadi terasa sangat kecil seperti rambut disertai hidung yang mengempis, itu menandakan panas sudah menyerang paru-paru. Ketidakseimbangan denyut nadi—di mana nadi tangan kiri lebih kuat dari kanan, namun nadi kaki kanan mengecil—merupakan indikasi tiwang upas bangke atau keracunan yang sangat berbahaya bagi keselamatan nyawa.

Pemulihan melalui Tanaman Obat (Husada)

Bagi pasien dengan kondisi rambut kaku (akas), kulit layu, dan sering mengigau akibat panas dalam, Lontar Usada memberikan resep penawar. Campuran temu tis (Curcuma purpurascens), santan, dan daringo yang dimasak merupakan ramuan utama untuk meredakan gejala tersebut dan menghentikan produksi air mata yang berlebihan akibat suhu tubuh yang tinggi.

Karya I Ketut Suwidja ini menegaskan bahwa pengobatan tradisional Bali adalah sebuah sistematisasi logika yang menggabungkan pengamatan biologis dengan keyakinan spiritual yang mendalam.

***

Tanya AI