📷Ilustrasi Penjor/ Flicker
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Suasana khusyuk dan tenang menyelimuti Desa Tenganan Pegeringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali. Ketika desa-desa lain di Pulau Dewata semarak dengan deretan penjor menjulang tinggi, desa Bali Aga ini justru menampilkan pemandangan yang kontras.
Tidak ada lambaian janur di pinggir jalan, tidak ada kepulan asap dupa yang pekat, dan tak tampak pula untaian kembang serta canang sari yang biasanya menjadi primadona sarana persembahyangan.
Bagi masyarakat luar, pemandangan ini tentu tidak biasa. Namun bagi warga setempat, inilah wujud pelestarian tradisi leluhur yang terjaga murni selama berabad-abad. Aktivitas warga Tenganan pada hari kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan) ini bergulir seperti hari-hari biasa.
Setelah menyelesaikan persembahyangan di pura, mereka langsung kembali pada rutinitas harian. Beberapa perajin tampak telaten mengukir daun lontar, para pedagang membuka warung mereka, dan sebagian warga mulai sibuk menyiapkan bahan untuk upacara ngusaba sambah.
Filosofi yang Sama dalam Balutan Tradisi Berbeda
Klian Pertama Desa Adat Tenganan Pegeringsingan, Wayan Sudiastika, menegaskan bahwa esensi perayaan Galungan di desanya tetap sama dengan umat Hindu lainnya di Karangasem. Perbedaan mendasar hanya terletak pada sarana upacara dan prosesi pelaksanaannya.
“Kita tetap menggelar perayaan Galungan. Filosofinya juga sama, yakni merayakan kemenangan dharma,” ujar Wayan Sudiastika saat ditemui langsung di kawasan Desa Tenganan Pegeringsingan.
Sudiastika menjelaskan, ketiadaan penjor Galungan bukanlah sebuah kelalaian, melainkan aturan adat yang telah diwariskan sejak zaman nenek moyang. Warga desa berkomitmen penuh untuk melestarikan aturan tersebut hingga saat ini. Dalam kalender adat Tenganan, penjor memiliki waktu khusus dan biasanya baru dibuat saat prosesi ritual ngusaba sambah.
Makna Mendalam di Balik Banten Uduan
Sebagai pengganti sarana yang umum digunakan di desa lain, krama Desa Tenganan menghaturkan sarana khusus bernama banten uduan. Sajian upacara ini sarat akan simbol rasa syukur atas berkah alam yang melimpah. Banten uduan berisi berbagai hasil pertanian lokal serta kudapan tradisional seperti:
- Tumpeng
- Iwel
- Uli
- Anggine
- Gegodoh
- Buah-buahan segar (pisang, jeruk, mangga, dan anggur)
Sudiastika menguraikan bahwa setiap elemen dalam banten uduan memiliki nilai spiritual yang tinggi. Tumpeng, misalnya, menjadi simbol keikhlasan yang mendalam atas anugerah besar yang telah diterima oleh warga desa dari Tuhan Yang Maha Esa.
Tradisi Makan Bersama di Bale Desa
Prosesi ritual ini berpusat di beberapa titik suci desa. Krama desa menghaturkan banten uduan ke Pura Puseh, Pura Ulun Swarga, dan Pura Bale Agung Tenganan. Uniknya, setelah seluruh rangkaian persembahyangan selesai, sarana upacara tersebut tidak langsung dibawa pulang ke rumah masing-masing.
Warga membawa kembali bantenan tersebut ke bale desa untuk menjalani tradisi dinyanerin, yaitu momen makan bersama seluruh krama desa. Tradisi ini mempererat rasa kebersamaan dan persaudaraan antardusun.
“Galungan di Tenganan digelar secara sederhana. Ini sudah warisan nenek moyang kita,” pungkas Sudiastika. Kesederhanaan inilah yang justru menjadi kekuatan magis Desa Tenganan Pegeringsingan, membuktikan bahwa kemeriahan hari raya tidak melulu diukur dari megahnya hiasan fisik, melainkan dari keteguhan menjaga warisan budaya.
***












