📷Tumpek Uye/ Foto oleh forum studi majapahit
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM –Â Masyarakat Bali kembali merayakan Tumpek Kandang atau yang akrab disebut Tumpek Uye. Perayaan yang jatuh setiap 210 hari sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Uye ini, menjadi momentum krusial bagi umat Hindu untuk merefleksikan hubungan mereka dengan semesta, khususnya dunia fauna.
Jauh dari kesan sekadar memberi sesaji kepada ternak, Tumpek Kandang adalah manifestasi nyata dari ajaran Tri Hita Karana. Ini adalah sebuah komitmen spiritual untuk menjaga harmoni antara manusia dengan alam lingkungan.
Pemujaan kepada Sang Pelindung Makhluk
Secara teologis, perayaan ini merupakan bentuk pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa Pasupati. Beliau dikenal pula sebagai Rare Angon, sosok penggembala suci yang melindungi seluruh makhluk hidup di alam semesta. Melalui ritual ini, manusia memohon keselamatan dan produktivitas bagi hewan-hewan yang telah menyokong kehidupan mereka.
Etika dan Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare)
Dalam kacamata jurnalistik lingkungan, Tumpek Kandang adalah bentuk etika terhadap binatang yang sangat progresif. Masyarakat menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada hewan ternak dan peliharaan yang telah membantu pekerjaan sehari-hari maupun menjadi sumber pangan.
Penghormatan ini secara otomatis menolak perilaku eksploitatif. Tradisi ini menuntut manusia untuk mengedepankan hak hidup hewan, merawat mereka dengan layak, memberikan pakan yang cukup, serta menjauhkan mereka dari penyiksaan.
Mengandang Sifat Liar dalam Diri
Secara filosofis, kata “Kandang” memiliki makna yang sangat personal bagi manusia. Para tetua dan pemuka agama sering menekankan bahwa perayaan ini adalah simbol pengendalian diri. “Kandang” berarti upaya manusia untuk mengurung dan mengendalikan sifat-sifat buruk, seperti:
- Tamas: Sifat malas dan abai.
- Sifat Liar: Perilaku tidak terkendali yang merugikan sesama makhluk.
Dengan mengendalikan “kebinatangan” dalam diri sendiri, manusia diharapkan mampu hidup lebih tertata dan penuh empati.
Komitmen Pelestarian Alam
Tumpek Kandang mengajarkan keseimbangan yang mutlak. Kita diingatkan untuk tidak hanya mengambil hasil dari alam, tetapi wajib menjaga kelestariannya. Menelantarkan hewan dianggap sebagai pelanggaran spiritual karena memutus rantai harmoni Palemahan.
Perayaan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa keberlangsungan hidup manusia sangat bergantung pada kesejahteraan makhluk lain. Merawat hewan bukan sekadar hobi atau tuntutan ekonomi, melainkan sebuah bentuk kesadaran spiritual yang luhur.
***












