📷ilustrasi/ pixabay/ orti bali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Umat Hindu hari ini merayakan Hari Raya Buda Kliwon Ugu. Siklus pertemuan antara hari Rabu (Saptawara), Kliwon (Pancawara), dan wuku Ugu ini terjadi setiap 210 hari atau enam bulan sekali dalam kalender Bali. Secara teologis, momen ini merupakan hari khusus untuk penyucian Sang Hyang Ayu atau Sang Hyang Nirmala Jati.
Berdasarkan tuntunan dalam Lontar Sundarigama, hari suci ini memegang peranan krusial dalam menjaga keseimbangan spiritual dan kemasyarakatan.
Buda Kliwon pasucian Sang Hyang Ayu, kalingania astiti Hyang Mami Nirmala, prakertinia canang yasa wangi-wangi, kembang payas, ring luuring aturu, muang ring sanggar.
Buda Kliwon merupakan hari pesucian Sang Hyang Ayu, yakni ngastuti Hyang Nirmala Jati.
Persembahan dan Upakara yang Dihaturkan
Tradisi ini menekankan pada ketulusan melalui simbol-simbol upakara yang spesifik. Masyarakat menghaturkan canang yasa dan wangi-wangi sebagai bentuk penghormatan. Selain itu, terdapat instruksi khusus untuk meletakkan kembang payas di dua titik utama, yakni di atas tempat tidur (peraduan) dan di area Sanggah atau tempat suci keluarga.
Penyajian sarana ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk nyata dari usaha manusia dalam menyucikan diri dan lingkungan terdekatnya.
Fokus Keselamatan pada Tiga Ranah (Tri Mandala)
Pelaksanaan Buda Kliwon Ugu memiliki orientasi yang jelas terhadap keselamatan universal yang terbagi dalam konsep Tri Mandala. Pemujaan yang dilakukan hari ini bertujuan untuk meraih kesejahteraan pada tiga tingkatan utama:
- Keselamatan Diri Sendiri (Ayuning Sarira): Upaya untuk menjaga keharmonisan batin dan fisik individu agar tetap suci.
- Keselamatan Keluarga (Ayuning Sang Sanak): Doa yang dipanjatkan demi kesejahteraan sanak saudara dan seluruh garis keturunan.
- Keselamatan Negara (Ayuning Praja Mandala): Lingkup yang lebih luas untuk memohon kedamaian serta stabilitas bagi bangsa dan negara.
Melalui pemahaman yang tertuang dalam Lontar Sundarigama, Buda Kliwon Ugu menegaskan bahwa spiritualitas Hindu tidak hanya berhenti pada urusan individu, namun meluas hingga tanggung jawab sosial dan kenegaraan.
***













