Tayang: Rabu, 3 Desember 2025 07:05 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – Umat Hindu di Bali selalu setia menjalankan berbagai ritual dan upacara keagamaan sepanjang tahun. Salah satu yang istimewa adalah Buda Wage Langkir, hari raya yang jatuh setiap 210 hari atau sekitar enam bulan sekali, tepat pada pertemuan hari Buda (Rabu) dalam saptawara, Wage dalam pancawara, dan wuku Langkir.

Hari ini juga dikenal dengan sebutan Buda Cemeng Langkir. Bagi masyarakat Hindu Bali, momen ini menjadi waktu khusus untuk memuja Bhatara Rambut Sedana—manifestasi Tuhan sebagai penguasa kekayaan dan kemakmuran—serta Sang Hyang Sri Nini atau Dewa Sadhana yang bertugas menjaga harta benda.

Sarana dan Tempat Persembahan di Hari Buda Wage Langkir

Persembahan atau banten pada hari Buda Wage Langkir biasanya dihaturkan di beberapa tempat sakral, antara lain:

  • Merajan (sanggah) keluarga
  • Tempat penyimpanan uang atau brankas di rumah/toko
  • Pura Khayangan Tiga di desa pakraman
  • Pura Khayangan Jagat besar di Bali

Banyak umat yang secara khusus menghaturkan banten kecil di laci uang, dompet, atau langsung di atas tumpukan uang sebagai simbol penghormatan kepada Dewi Kekayaan.

Larangan Transaksi Uang yang Masih Dipegang Kuat

Salah satu pantangan utama pada hari Buda Wage Langkir adalah segala bentuk transaksi uang. Umat dilarang:

  • Membayar utang
  • Menagih utang
  • Menabung atau menyimpan uang baru
  • Melakukan jual-beli besar

Meski di era modern larangan ini terasa sulit dipraktikkan sepenuhnya, ajaran ini tetap mengandung makna mendalam: melatih pengendalian diri terhadap hawa nafsu materi dan mengingatkan bahwa kekayaan duniawi bukanlah segala-galanya, karena di atas itu semua ada kuasa Sang Hyang Widhi Wasa.

Makna Mendalam Menurut Lontar Sundarigama

Dalam naskah kuno Lontar Sundarigama, Buda Wage disebut juga Buda Cemeng karena sifatnya yang suci dan “cemeng” (hitam) melambangkan kegelapan nafsu yang harus dikendalikan. Terjemahan dari edisi Parisada Hindu Dharma Kabupaten Tabanan tahun 1976 menyebutkan:

“Buda Wage, dinamakan Buda Cemeng, artinya mewujudkan inti kesucian pikiran dengan memutus sifat-sifat kenafsuan. Itulah yoga Bhatari Manik Galih, yakni menurunkan Sang Hyang Ongkara Amerta di luar batas dunia skala (materi).”

Karena itu, umat dianjurkan menghaturkan wangi-wangian, memuja di sanggah dan di atas tempat tidur, mempersembahkan kepada Sang Hyang Sri Nini, serta melakukan semadi atau renungan suci di malam harinya.

Tradisi yang Tetap Hidup di Tengah Zaman Modern

Meski tantangan zaman membuat sebagian larangan transaksi sulit dilaksanakan 100%, esensi Buda Wage Langkir tetap relevan: mengajarkan keseimbangan hidup, rasa syukur atas rezeki, serta pengendalian diri dari keserakahan.

Bagi Anda yang berada di Bali atau ingin memahami lebih dalam hari raya Hindu Bali, upacara Buda Wage Langkir ini menjadi pengingat indah bahwa kekayaan sejati bukan hanya soal uang, tapi juga ketenangan batin dan kedekatan dengan Tuhan.

Semoga hari Buda Wage Langkir kali ini membawa berkah kemakmuran lahir batin bagi seluruh umat Hindu, khususnya di Pulau Dewata.

***

Tanya AI