đź“·6 Ingkel dalam Kalender Bali/ ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Ada satu waktu yang dianggap penuh risiko: sasih anglawean. Bulan ini, menurut kepercayaan Hindu Bali, dianggap sebagai periode ala dahat—sangat buruk—dan sarat dengan pantangan. Dalam budaya Bali, sasih anglawean bukan sekadar waktu dalam kalender, melainkan simbol kehati-hatian yang mengakar dalam kearifan lokal. Artikel ini menyelami makna, mitos, dan aturan yang menyertai bulan ini, sembari mengungkap relevansinya dalam kehidupan modern.
Mitos Sasih Anglawean: Bulan Berkepala Bhuta
Menurut kitab Wariga Dewasa karya Sri Reshi Anandakusuma (1979), sasih anglawean disebut materas bhuta, atau bulan yang “berkepala bhuta”. Istilah ini merujuk pada sifatnya yang dianggap membawa energi negatif. Masyarakat Bali mempercayai bahwa selama periode ini, berbagai aktivitas penting seperti membangun rumah, memasuki pekarangan baru, atau menggelar pernikahan sebaiknya dihindari. Konsekuensinya diyakini berat: kegagalan dalam pekerjaan, keturunan yang bermasalah, hingga risiko menjadi janda atau duda. Bahkan, anak yang lahir dari pernikahan di bulan ini disebut berpotensi mengalami pertumbuhan tidak normal atau hidup dalam stigma sosial.
“Sasih anglawean ala dahat apan materas bhuta. Tan wenang amangun graha, ngulihin pakarangan,” tulis Anandakusuma. Artinya, segala bentuk pekerjaan besar dilarang karena dianggap tidak akan berhasil. Keyakinan ini bukan sekadar mitos, melainkan panduan spiritual yang masih dipegang teguh oleh sebagian masyarakat Bali.
Memahami Penghitungan Sasih Anglawean
Apa itu sasih anglawean secara teknis? Dalam sistem kalender Bali, bulan ini terjadi ketika ada pergeseran atau pangalihan dalam penghitungan tanggal. Anandakusuma menjelaskan bahwa sasih anglawean ditandai saat tilem (bulan gelap, tanggal 15) bergeser menjadi pananggal pisan (tanggal 1) atau purnama (bulan purnama, tanggal 15) menjadi panglong pisan (tanggal 1). Dengan kata lain, tilem dan purnama “hilang” dari siklus normalnya, menciptakan periode yang dianggap tidak stabil.
Fenomena ini dijelaskan dalam sloka nguna latri, yang menyebutkan istilah prati padentu. Istilah ini merujuk pada perubahan tanggal 15 (purnama atau tilem) menjadi tanggal 1 (pananggal atau panglong). Pergeseran ini membuat sasih anglawean dianggap sebagai waktu yang tidak ideal untuk memulai sesuatu yang baru. Untuk memahami kapan periode ini terjadi, seseorang perlu mendalami sistem padewasan—penentuan hari baik dan buruk—yang berbasis pada kalender Bali.
Relevansi di Era Modern
Meski berakar pada tradisi kuno, sasih anglawean masih relevan bagi masyarakat Bali yang menjalankan ritual dan upacara adat. Banyak keluarga yang berkonsultasi dengan wariga atau pemangku untuk menentukan hari baik sebelum menggelar acara penting, seperti pernikahan atau pembangunan rumah. Namun, di tengah modernisasi, sebagian generasi muda mulai mempertanyakan urgensi pantangan ini. Apakah sasih anglawean benar-benar membawa nasib buruk, atau hanya warisan budaya yang perlu dikontekstualisasi ulang?
Bagi mereka yang tetap memegang tradisi, sasih anglawean adalah pengingat untuk hidup selaras dengan alam dan keseimbangan spiritual. Menghindari aktivitas besar di bulan ini bukan sekadar takut pada mitos, melainkan wujud penghormatan terhadap kearifan leluhur. Sementara itu, bagi yang lebih pragmatis, periode ini mungkin hanya dianggap sebagai waktu untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan besar.
Mengapa Sasih Anglawean Penting Dipahami?
Memahami sasih anglawean bukan hanya soal mengetahui kapan waktu buruk terjadi, tetapi juga tentang menghargai kompleksitas budaya Bali. Sistem padewasan mencerminkan cara pandang masyarakat Bali terhadap harmoni antara manusia, alam, dan alam gaib. Dengan mempelajari wariga dan penghitungan kalender Bali, kita bisa melihat betapa detail dan terstruktur kearifan lokal ini.
Bagi wisatawan atau peneliti budaya, sasih anglawean menawarkan wawasan tentang bagaimana masyarakat Bali menjaga tradisi di tengah arus modernisasi. Ini juga menjadi pengingat bahwa setiap budaya memiliki cara unik dalam memandang waktu dan kehidupan.
Penutup
Sasih anglawean bukan sekadar mitos kuno, melainkan cerminan kearifan Bali yang masih hidup hingga kini. Dengan memahami makna dan penghitungannya, kita bisa lebih menghargai kekayaan budaya yang mengajarkan keseimbangan dan kehati-hatian. Meski zaman terus berubah, nilai-nilai yang terkandung dalam sasih anglawean tetap relevan sebagai pengingat untuk hidup selaras dengan alam dan tradisi.
***
Sumber Artikel:
Lihat Sumber
- Anandakusuma, Sri Reshi. Wariga Dewasa. Satya Hindu Dharma Klungkung, Bali, 1979.










