Tayang: Jumat, 18 April 2025 06:09 WITA
Penulis: Sumiati Wayan | Editor: Febrianti Saraswati

ORTIBALI.COM – Sehari usai melaksanakan Sugihan Jawa tepatnya pada Sukra Kliwon Wuku Sungsang, umat Hindu melaksanakan rahinan Sugihan Bali.

Jika Sugihan Jawa dimaknai sebagai penyucian alam semesta atau bhuana agung, maka Sugihan Bali lebih mengarah pada penyucian diri sendiri—alam mikrokosmos atau bhuana alit.

Secara etimologis, Sugihan Bali berasal dari dua kata dalam bahasa Sansekerta: sugi, yang berarti membersihkan, dan Bali, yang bermakna kekuatan atau potensi dalam diri.

Jadi, Sugihan Bali merupakan momen penting untuk membersihkan kekuatan batin, baik secara lahiriah maupun rohaniah.

Proses Sekala-Niskala dan Pentingnya Penglukatan

Menjelang Galungan, umat Hindu melakukan pembersihan secara sekala (nyata) dan niskala (spiritual). Salah satu bentuk ritual yang umum dilakukan adalah penglukatan, atau proses penyucian diri dengan menggunakan tirtha (air suci).

Media penglukatan yang sering digunakan adalah bungkak nyuh gading, yaitu kelapa gading muda yang dipercaya memiliki energi pemurnian.

Menurut lontar Sundarigama, Sugihan Bali disebut sebagai kalinggania amrestista raga tawulan, yang berarti penyucian tubuh dan jiwa. Prosesi ini bertujuan untuk mengharmoniskan kembali bhuana alit agar selaras dengan kehendak spiritual menjelang Hari Suci Galungan.

Pelaksanaan dan Spiritualitas

Mengutip penjelasan Dra. Ni Made Sri Arwati dalam bukunya Hari Raya Galungan (1992), Sugihan Bali tidak memiliki upacara besar yang bersifat wajib.

Umat biasanya cukup melakukan persembahyangan dan memohon tirtha pengelukatan kepada Sulinggih atau Sadaka. Meskipun sederhana, nilai spiritual dalam pelaksanaannya sangat mendalam.

Selain bersembahyang, Sugihan Bali juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan yoga semadi, sebagai bentuk mulat sarira atau refleksi dan pengendalian diri.

Praktik ini dipercaya dapat memperkuat ketahanan batin terhadap berbagai godaan duniawi, menjadikan tubuh dan pikiran lebih siap menyambut vibrasi suci Galungan.

Menghormati Desa Kala Patra

Sebagaimana ajaran Hindu di Bali yang selalu menghormati prinsip desa, kala, patra (tempat, waktu, dan situasi), pelaksanaan Sugihan Bali pun bisa berbeda-beda di tiap wilayah. Tradisi lokal, adat istiadat, serta kondisi masyarakat setempat turut memengaruhi bentuk prosesi yang dijalankan. Termasuk juga dengan banten dan tata cara melaksanakannya.

Sugihan Bali bukan sekadar ritual, tetapi juga panggilan batin untuk menyucikan diri dan menumbuhkan kesadaran spiritual. Dalam suasana yang penuh kekhusyukan ini, umat Hindu di Bali diajak untuk kembali menata hati, membersihkan pikiran, dan mempersiapkan diri menyambut datangnya Galungan dengan penuh keseimbangan antara dunia sekala dan niskala.

***

Tanya AI