Tayang: Kamis, 17 April 2025 07:03 WITA
Penulis: Putu Wisnu | Editor: Febrianti Saraswati

 

DENPASAR, ORTIBALI.COM – Dalam tradisi Hindu Bali, perayaan Galungan dan Kuningan menjadi momen sakral yang dirayakan dengan penuh makna.

Salah satu rangkaian penting dalam menyambut hari suci ini adalah Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, dua upacara penyucian yang memiliki peran besar dalam mempersiapkan umat menghadapi kemenangan Dharma atas Adharma.

Keduanya berlangsung sebelum puncak perayaan, tepatnya dimulai pada Saniscara Kliwon Wuku Wariga atau dikenal sebagai Tumpek Wariga (25 hari sebelum Galungan).

Sugihan Jawa diperingati pada Kamis Wage Wuku Sungsang, sementara Sugihan Bali jatuh sehari setelahnya, pada Jumat Kliwon Wuku Sungsang. Meski saling melengkapi, kedua upacara ini memiliki fokus penyucian yang berbeda, namun sama-sama bertujuan menjaga keseimbangan spiritual umat Hindu.

Makna dan Perbedaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali

Kata “Sugihan” berasal dari filosofi penyucian, sebagaimana dijelaskan dalam Lontar Sundarigama, sebuah naskah kuno yang menjadi rujukan umat Hindu Bali. Sugihan Jawa dan Sugihan Bali mewakili dua dimensi penyucian, yaitu makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (diri manusia). Berikut penjelasan lebih lanjut tentang makna dan pelaksanaan keduanya:

Sugihan Jawa: Menyucikan Alam Semesta

Sugihan Jawa berfokus pada penyucian Bhuana Agung atau makrokosmos, yang mencakup alam semesta sebagai tempat kehidupan. Upacara ini dilakukan dalam dua aspek, yaitu:

Sekala (fisik): Umat membersihkan palinggih (tempat suci) atau pura dengan merabas rumput liar dan merapikan lingkungan sekitar. Kegiatan ini dikenal sebagai ngererata atau mabulung dalam istilah Bali.

Niskala (spiritual): Dilakukan melalui persembahan banten pengerebuan dan prayasita sebagai wujud penyucian. Persembahan ini ditujukan kepada Ida Batara, para leluhur, dan dewa-dewi yang bersemayam di masing-masing palinggih. Dalam kepercayaan Hindu Bali, saat Sugihan Jawa, para dewa turun ke bumi bersama leluhur untuk menerima persembahan umat.

Sugihan Bali: Menyucikan Diri

Berbeda dengan Sugihan Jawa, Sugihan Bali menitikberatkan pada penyucian Bhuana Alit atau mikrokosmos, yaitu diri manusia itu sendiri. Penyucian ini dilakukan melalui:

Sekala (fisik): Membersihkan tubuh dari kotoran duniawi agar layak menjadi tempat bagi Sang Jiwa Suci (Brahma Pura). Umat memohon tirta penglukatan, air suci yang digunakan untuk penyucian fisik.

Niskala (spiritual): Membersihkan jiwa dan batin melalui yoga semadi untuk mencapai mulat sarira, yaitu kesadaran batin yang murni. Pada momen ini, umat diharapkan mampu menahan godaan indria (panca indera) demi mencapai kesucian lahir dan batin.

Mitos dan Salah Paham di Masyarakat

Di kalangan masyarakat Bali, sering muncul anggapan keliru bahwa Sugihan Jawa hanya dirayakan oleh keturunan Majapahit, sementara Sugihan Bali diperuntukkan bagi warga Bali asli. Padahal, menurut Lontar Sundarigama, pembagian ini tidak berkaitan dengan asal-usul etnis, melainkan pada fokus penyucian: makrokosmos untuk Sugihan Jawa dan mikrokosmos untuk Sugihan Bali.

Wakil Ketua I Parisada Bali, Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., yang juga dosen di STAHN Denpasar, menegaskan bahwa kedua sugihan ini adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam rangkaian Galungan dan Kuningan. “Keduanya berfungsi untuk mempersiapkan umat Hindu menghadapi godaan duniawi menjelang perayaan kemenangan Dharma,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari sumber terpercaya.

Sudiana menambahkan, perbedaan pelaksanaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali sering kali dipengaruhi oleh tradisi turun-temurun dan faktor historis, seperti kedatangan tokoh spiritual Dhanghyang Astapaka dan Dhanghyang Nirarta ke Bali. Meski begitu, ia menekankan pentingnya memahami esensi sejati dari sugihan, yaitu penyucian menyeluruh, baik alam semesta maupun diri sendiri.

Fleksibilitas Hindu dan Penghormatan terhadap Tradisi

Menariknya, perbedaan dalam pelaksanaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali mencerminkan keluwesan ajaran Hindu. Menurut Sudiana, perbedaan ini adalah bentuk penghargaan terhadap tradisi yang telah mengakar di masyarakat, sekaligus menyesuaikan dengan prinsip desa kala patra (konteks tempat, waktu, dan keadaan). Misalnya, umat yang terbiasa merayakan Sugihan Jawa dengan banten pengerebuan tetap melaksanakannya sesuai tradisi, begitu pula dengan Sugihan Bali yang menekankan penyucian batin.

Namun, Sudiana mendorong umat Hindu untuk melaksanakan kedua sugihan ini demi keseimbangan spiritual. Dalam kepercayaan Hindu Bali, saat Galungan, Dewa Siwa mengutus para Bhuta untuk menggoda manusia. Dengan melakukan penyucian makrokosmos (Sugihan Jawa) dan mikrokosmos (Sugihan Bali), umat dapat lebih kuat menjaga diri dari godaan yang merugikan.

Mengapa Sugihan Penting?

Sugihan Jawa dan Sugihan Bali bukan sekadar ritual, tetapi juga cerminan kearifan Hindu dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Keduanya mengajarkan bahwa sebelum merayakan kemenangan Dharma, umat perlu mempersiapkan diri melalui penyucian lahir dan batin. Dengan memahami makna sejati sugihan, umat Hindu diajak untuk tidak hanya mengikuti tradisi, tetapi juga menjalani hidup dengan kesadaran spiritual yang mendalam.

Sebagai bagian dari perayaan Galungan, Sugihan Jawa dan Sugihan Bali menjadi pengingat bahwa kebersihan jiwa dan lingkungan adalah fondasi untuk menyambut hari suci dengan penuh makna.

***


Sumber Artikel:

Lihat Sumber

Cek Usiamu Dulu Ya...

Anda harus sudah cukup umur untuk mengakses situs ini.

PERINGATAN: Situs web ini berisi konten yang dibatasi berdasarkan usia.

💬 Tanya AI