📷ilustrasi/ Pixabay/ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Rahina Kajeng Kliwon menjadi salah satu hari suci yang memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Pada hari ini, umat melaksanakan persembahan dengan sarana dan tata cara yang mengikuti tradisi yang telah diwariskan dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan persembahan adalah tempat menghaturkan maturan. Penempatannya tidak dilakukan pada satu lokasi saja. Secara umum, tempat maturan saat Kajeng Kliwon dibagi menjadi dua bagian, yakni area atas pada pelinggih atau tempat suci dan area bawah berupa lantai atau tanah.
Pembagian tersebut berkaitan dengan fungsi masing-masing persembahan. Di area atas, umat menghaturkan persembahan sebagai bagian dari permohonan keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sementara itu, pada area bawah dihaturkan segehan yang berkaitan dengan upaya menetralisasi kekuatan negatif dari Sang Tiga Bhucari atau Bhuta Kala.
Maturan di Pelinggih Sanggah dan Merajan
Area atas menjadi salah satu lokasi utama dalam menghaturkan persembahan saat Kajeng Kliwon. Pada bagian ini, sarana yang digunakan umumnya berupa canang sari dan tipat dampulan.
Tipat dampulan memiliki makna simbolis sebagai lambang pengendalian emosi. Sarana tersebut menjadi bagian dari persembahan yang dihaturkan pada tempat-tempat suci di lingkungan rumah.
Salah satu lokasinya adalah pelinggih sanggah atau merajan, terutama Pelinggih Kemulan. Maturan di tempat suci keluarga ini menjadi bagian dari rangkaian persembahan pada rahina Kajeng Kliwon.
Selain Pelinggih Kemulan, persembahan juga dihaturkan pada Pelinggih Pengijeng Nyama atau Penunggu Karang. Pelinggih tersebut berkaitan dengan keberadaan penjaga pekarangan rumah menurut tradisi yang berkembang di masyarakat Hindu Bali.
Tata cara dan penempatan persembahan dapat mengikuti tradisi keluarga serta kebiasaan di lingkungan desa adat masing-masing.
Segehan Dihaturkan di Natar hingga Lebuh
Selain pada pelinggih, maturan saat Kajeng Kliwon juga ditempatkan di area bawah, yaitu lantai atau tanah. Sarana yang digunakan umumnya berupa segehan.
Jenis segehan yang digunakan dapat berupa segehan cacah maupun segehan manca warna. Dalam pelaksanaannya, segehan dilengkapi dengan tetabuhan arak dan berem.
Lokasi penempatan segehan cukup beragam. Beberapa di antaranya berada di lingkungan tempat suci, halaman rumah, hingga bagian depan pintu masuk.
Natar Sanggah atau Merajan
Natar sanggah atau merajan merupakan halaman yang berada di lingkungan tempat suci keluarga. Segehan dapat dihaturkan di halaman atau pada sudut-sudut tertentu di area tersebut.
Penempatannya mengikuti tata ruang tempat suci dan kebiasaan yang diterapkan oleh masing-masing keluarga.
Natar Pekarangan
Segehan juga dihaturkan di natar pekarangan. Area ini merupakan halaman rumah yang menjadi tempat berlangsungnya berbagai aktivitas sehari-hari.
Dalam pelaksanaan Kajeng Kliwon, natar pekarangan menjadi salah satu bagian lingkungan rumah yang mendapat persembahan berupa segehan.
Lebuh atau Angkul-angkul
Lokasi berikutnya adalah lebuh atau pintu gerbang rumah yang dalam arsitektur Bali dikenal pula dengan angkul-angkul.
Segehan ditempatkan di bagian depan pintu masuk rumah. Dalam tradisi, persembahan di lokasi tersebut ditujukan sebagai suguhan kepada bhuta kala agar tidak mengganggu penghuni rumah.
Posisi lebuh sebagai bagian depan pekarangan membuat lokasi ini memiliki fungsi tersendiri dalam tata ruang rumah Bali. Karena itu, penempatan segehan di bagian tersebut menjadi salah satu praktik yang dikenal dalam pelaksanaan Kajeng Kliwon.
Segehan Juga Ditempatkan di Area Dapur
Maturan saat Kajeng Kliwon tidak berhenti di halaman rumah. Dalam tradisi tertentu, segehan juga ditempatkan pada sejumlah lokasi khusus di dalam rumah, terutama area yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari.
Dapur atau tempat memasak menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian. Segehan dapat ditempatkan di sekitar perlengkapan yang digunakan untuk kegiatan memasak dan pekerjaan rumah tangga.
Beberapa lokasi yang disebut dalam tradisi tersebut antara lain dekat kompor, ulekan, talenan, asahan pisau, hingga di dekat sapu.
Penempatan pada tempat-tempat tersebut berkaitan dengan upaya menetralisasi energi atau kekuatan yang dipercaya dapat memengaruhi lingkungan rumah. Peralatan rumah tangga yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari menjadi bagian dari ruang yang turut diperhatikan dalam pelaksanaan persembahan.
Pembagian Tempat Maturan Memiliki Makna dalam Tradisi Bali
Tempat maturan saat Kajeng Kliwon memiliki pembagian yang berkaitan dengan posisi dan fungsi ruang. Area atas atau pelinggih menjadi tempat menghaturkan persembahan seperti canang sari dan tipat dampulan. Sementara area bawah menjadi tempat menghaturkan segehan yang dilengkapi tetabuhan arak dan berem.
Lokasinya meliputi Pelinggih Kemulan, Pelinggih Pengijeng Nyama atau Penunggu Karang, natar sanggah atau merajan, natar pekarangan, lebuh atau angkul-angkul, hingga beberapa bagian khusus di dalam rumah seperti dapur.
Bagi masyarakat Hindu Bali, penempatan persembahan tersebut menjadi bagian dari tata cara yang diwariskan dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaannya dapat memiliki variasi sesuai dengan tradisi keluarga dan lingkungan adat masing-masing.
Dengan memahami lokasi maturan, pelaksanaan Kajeng Kliwon dapat dilihat tidak hanya dari sarana yang digunakan, tetapi juga dari tata ruang tempat persembahan. Setiap lokasi memiliki fungsi dalam rangkaian tradisi yang dijalankan umat Hindu Bali pada rahina Kajeng Kliwon.
***










