📷ilustrasi Dewa Siwa / adiyogi/ Pixabay/ orti bali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Siwa ratri dilaksanakan pada Purwaning Tilem atau panglong ping 14 atau sehari sebelum bulan mati/Tilem Kapitu tepat pada Sasih Kepitu (bulan ke-7).
Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa ada 3 jenis Brata Siwa Ratri yakni Utama, Madhya dan Nista sebagai berikut:
Utama yakni meliputi Maunabrata yakni tidak berbicara atau setidaknya mengurangi berbicara yang negatif.
Upawasa meliputi tidak makan dan tidak minum.
jagra yakni tidak tidur.
Madhya hanya melaksanakan upawasa dan jagra sedangkan Nista hanya melaksanakan jagra.
“Sang penyembah hendaknya berpuasa ketika Siwaratri, siang atau pun malam. Ia haruslah mengendalikan organ inderanya dengan sempurna” Sivapurana 1.9.12
Tentu 3 jenis pelaksanaan brata Siwaratri ini selalu ditemukan Jagra, bukan tanpa alasan. Ini tentu berkaitan erat dengan kisah Lubdaka yang awalnya memang tidak ada niatan untuk memuja Tuhan Sambhu.
Bagian ketika Lubdaka menjatuhkan daun Bila di atas Lingga tak lain hanya sekedar untuk dirinya tetap terjada sepanjang malam dan jika saja ia tertidur maka jika tidak hewan buas maka ia akan terjatuh dari atas ketinggian pohon Bila.
Namun yang tidak disangka adalah perbuatan itulah tepatnya ketika malam Sivaratri ia justru mendapatkan pahala yang mampu melenyapkan kegelapa jiwanya.
Perlu juga diketahui saat itu ia dengan tulus dan konsentrasi saat melakukan itu meski juga tanpa sengaja atau Ajnata-sukrti.
Dalam Sivapurana 4.40.97 disebutkan sebagai berikut ” Bahkan setelah melakukan brata ini walau dalam ketidak tahuan sepenuhnya (namun ia tidak tidur selama semalam penuh, Ia akan mencapai Sayujya atau bersatu dengan Siva.
Dalam kekawin Siwaratri Kalpa 34. 9 dikatakan “Walaupun tidak melaksanakan brata akan tetap terjaga tidak tidur, maka seluruh kelahiran manusia, tua, muda dan juga laki perempuan, bahwa ia menuju Siwalaya menikmati kesengan tanpa kembali bersedih hati, sekehendak hatinya pasti tercapai dengan sempurna mendapatkan pahala”.
Cara Melaksanakan Brata Siwaratri
Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek Agama Hindu disebutkan cara melaksanakan Brata Siwaratri sebagai berikut:
Dimulai saat menjelang malam atau setelah pukul 18.00 watu setempat dengan urutan berikut:
Diawali dengan Paprayascita untuk pembersihan pikiran dan bathin. kemudian diikuti dengan ngaturan banten pejati di Sanggar Surya diikuti dengan sembahyang untuk memohoin kesaksian-Nya. Setelah itu barulah persembahyangan ke hadapan leluhur yang telah sidha dewata untuk memohon tuntunan.
Kemudian dilanjutkan ketahapan berikutnya dengan menghaturkan pejati ke hadapan Sang Hyang Siwa dengan menempatkan banten di Sanggar Tutuan atau Palinggih Padma atau Sanggah Piasan di Pamerajan.
Jika tidak ada semua itu maka bisa diletakkan pada halaan terbuka yang dipandang wajar serta diikuti sembahyang ditujukan kepada SAng Hyang Siwa dan Dewa Samodaya.
Barulah nunas tirta pakuluh dan masegeh di bawah di hadapan Sanggar Surya dan ditutup dengan melaksanakan dana punya jika diperlukan.
Upawasa dan Jagra tetap dijalankan selama proses sebelumnya masih berlangsung. Perlu juga dikehtai bahwa pelaksanaan upawasa mulai dari pagi panglong ping 14 sasi kapitu pukul 06.00 waktu setemapt hingga besok paginya pukul 06.00 waktu setempat.
Buka puwasa juga diawali dengan nasi putih garam dan air putih. Sedangkan jagra dimulai pada panglong ping 14 hingga besok harinya pukul 18.00 waktu setelah atau total 36 jam tanpa tidur.
Untuk persembahyangan kramaning sembah dilakukan 3 kali yakni pada menjelang malam, tengah malam dan keesokan hari menjelang pagi antara pukul 04.24-05.12 waktu setempat.
Dalam pelaksanaan Brata tidak ada unsur paksaan dan disesuaikan juga dengan kondisi tubuh atau kemampuan masing-masing. Termasuk mereka yang sedang hamil, haid hingga sakit diperkenankan tidak melaksanakan upawasa atau bisa melaksanakan tahapan nista saja.
Kemudian yang perlu juga diperhatikan adalah ketika melaksanakan upawasa, bolehkah kita minum atau nunas tirtha? Ini kembali lagi menyesuaikan denga tingkatan atau bentu upawasa yang dipilih.
Jika yang dijalankan berupa pantangan makan maka nunas tirtha masih diperkenankan bahkan minum air juga dibolehkan ini juga banyak dibahas dalam berbagai Purana.
Yang menjadi perhatian khusus ketika memilih atau menjalankan upawasa penuh maka hendaknyalah tidak nunas atau minum tirtha.
Dalam Sivapurana 4.40.101 disebutkan “Oleh karena itu Brata yang penuh berkah ini hendaknya dilakukna oleh mereka yang menginginkan”.
***











