
📷Bangkitkan Tradisi Setelah 48 Tahun, Desa Adat Manukaya Let Gelar Karya Agung dan Ritus Sakral Nyenuk Ngingkup/ ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Krama Desa Adat Manukaya Let, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, mencatat sejarah baru pada Sabtu (3/10/2026). Prosesi sakral Nyenuk Ngingkup resmi berjalan dan menjadi titik sentral dari rangkaian Karya Agung. Jeda waktu panjang selama 48 tahun terbayar lunas melalui pelaksanaan rentetan upacara meliputi Tawur Labuh Gentuh, Mupuk Pedagingan, Ngusaba Desa, Ngusaba Nini, hingga Pujawali di Pura Agung dan Pura Tirta Empul.
Simbol Ketulusan dari Empat Penjuru Mata Angin
Bendesa Adat Manukaya Let, I Made Mawi Arnata, memaparkan nilai filosofis di balik prosesi Nyenuk Ngingkup. Ritus ini merepresentasikan kedatangan para tamu spiritual dari arah selatan, barat, utara, dan timur. Seluruh entitas tersebut menyatu di pusat kawasan suci pura. Tradisi mejenukan atau nyenuk ini memegang makna penghormatan tertinggi dan penyerahan persembahan tulus ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Mawi Arnata menekankan nilai otentisitas dalam persembahan ini. Seluruh sarana upacara murni berasal dari dedikasi krama tanpa ada proses transaksi instan. Tatanan yadnya dipersiapkan dengan ketulusan dan mengandalkan hasil karya warga desa adat.
Pelaksanaan Nyenuk Ngingkup ini menjadi wujud perdana sejak Desa Adat Manukaya Let berdiri. Berdasarkan paruman prajuru dan krama, ritus ini telah disahkan menjadi tradisi berkala dengan siklus 30 tahunan. Kemandirian warga bersinergi dengan penataan finansial dari tata kelola objek wisata kawasan menjadi pilar penopang utama acara.
Tiga Area Suci dan Jejak Prasasti Sri Candrabaya
Kawasan tata wilayah adat ini terbagi ke dalam tiga lingkup utama. Pura Agung menduduki posisi sentral, berdampingan dengan Pelinggih Pura Anyar yang berfungsi sebagai stana Ida Bhatara Pura Tirta Empul untuk memfasilitasi umat bersembahyang. Pelinggih Pura Sakenan menjadi area ketiga yang menyimpan bukti peradaban berupa prasasti batu bertulis. Prasasti ini merekam peristiwa historis perbaikan Pura Tirta Empul pada kisaran tahun 92 Masehi oleh Raja Sri Candrabaya Singha Warmadewa.
Skala besar Karya Agung menuntut kolaborasi masif. Tiga banjar pengempon yang terdiri dari Banjar Tatag, Banjar Bantas, dan Banjar Manukaya Let bergerak secara kolektif. Mereka mendapat dukungan penuh dari empat banjar pengemong, yakni Desa Malet, Penempahan, Calo, dan Tegal Payang. Desa Banyad, Kedisan, dan desa adat sekitar turut hadir menyokong kelancaran upacara sebagai pengabih.
Merawat Akar Peradaban Tampaksiring
Tampaksiring mengukuhkan statusnya sebagai titik nadi peradaban kuno Bali. Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar sekaligus tokoh masyarakat Manukaya Let, I Wayan Adi Parbawa, menyatakan wilayah ini memiliki keterikatan kuat dengan jejak sejarah permukiman di sepanjang aliran Sungai Pakerisan dan Petanu. Karya Agung berfungsi sebagai wadah untuk menggali dan melestarikan kembali tradisi yang lama tertidur.
Adi Parbawa menegaskan seluruh pengempon Tirta Empul telah menyatukan komitmen. Acara ini mewujudkan rasa syukur ke hadapan Ida Bhatara sembari memperkuat akar budaya. Keterlibatan generasi muda dalam ragam seni budaya memegang peran strategis sebagai perisai pelestarian dari pengaruh gempuran zaman.
Tingkat partisipasi tercatat sangat tinggi. Sebanyak 2.000 peserta tergabung dalam kelompok tetangguran dan pementasan kesenian sakral. Kehadiran total krama pengusung dan pendukung mencapai angka 15.000 orang. Suasana sakral terbangun lewat rangkaian pementasan Rejang Uni, Baris Gede, Rejang Let, parade gebogan, demung-demung tameng, premas, hingga ketibaan tapak Ida Bhatara.
Tampiog: Melabuh Geni dalam Kesadaran Penuh
Identitas sakral Desa Adat Manukaya Let semakin kental lewat pelaksanaan Tampiog atau Melabuh Geni. Pelaku ritual harus menerjang dan menendang gundukan bara api yang menyala. Pemangku, prajuru, undagi, hingga sekaa baris melakukan aksi ekstrem ini dalam kondisi sadar seratus persen, tanpa melewati fase kerauhan.
Masyarakat setempat meyakini Tampiog sebagai manifestasi mesatia atau kesetiaan mutlak. Ritual ini menjadi sarana ungkapan rasa syukur paling dalam atas limpahan panen dan anugerah kehidupan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
***













