📷Pura Temuku Telu di Mengwi/ Google Maps/ ortibali
Penulis: Putu Wisnu | Editor: Putu Linggih
ORTIBALI.COM – Di tengah keindahan budaya Bali, terdapat sebuah tempat suci yang dikenal sebagai pelinggih Ida Bhatara Sang Hyang Iswara, atau lebih dikenal dengan nama Temuku Telu. Berlokasi di Banjar Adat Gegadon, Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, pelinggih ini menjadi tujuan banyak orang yang mencari kesembuhan, khususnya bagi anak-anak yang mengalami keterlambatan bicara. Pelinggih ini berdiri sederhana di pinggir jalan, namun menyimpan makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat.
Sejarah dan Makna Temuku Telu
Menurut I Ketut Suta, Kelihan Banjar Adat Gegadon, pelinggih ini memiliki sejarah yang berakar dari tradisi masyarakat setempat. Dahulu, lokasi pelinggih ini merupakan tempat pembagian air untuk sistem irigasi subak, yang dikenal sebagai temuku. Nama Temuku Telu sendiri merujuk pada sistem pengairan tersebut, yang menjadi penanda penting bagi petani di wilayah itu. Seiring waktu, tempat ini mulai dikenal sebagai situs suci untuk memohon kesembuhan, terutama bagi anak-anak yang terlambat berbicara, berkat cerita yang menyebar dari mulut ke mulut.
“Sejak tahun 1960-an, sudah ada orang dari luar banjar, bahkan dari Jembrana, yang datang untuk melukat anak mereka di sini,” kenang Ketut Suta. Ia menceritakan pengalamannya saat berusia 8 tahun, menyaksikan seorang warga dari Negara, Jembrana, datang dengan nazar. “Orang itu berjanji, jika anaknya bisa bicara, ia akan memberikan persembahan sebagai tanda syukur,” tambahnya.
Kisah serupa juga datang dari seorang dokter spesialis kandungan yang berpraktik di Kediri, Tabanan. Dokter tersebut membawa anaknya untuk dilukat di tempat ini pada awal 2000-an. Dengan keyakinan kuat, ia berjanji akan membangun pelinggih jika anaknya sembuh. Benar saja, pada sekitar tahun 2002 atau 2003, pelinggih ini berdiri sebagai wujud syukur atas terkabulnya doa tersebut.
Tradisi Melukat dan Piodalan
Ritual melukat untuk anak-anak yang terlambat bicara dilakukan setiap 15 hari sekali, tepatnya pada hari Kajeng Kliwon. Sementara itu, piodalan atau upacara peringatan pelinggih diadakan setiap Hari Raya Kuningan. Untuk melayani umat, Banjar Adat Gegadon menugaskan enam pemangku yang bergiliran bertugas. “Kalau pemedek banyak, kami libatkan semua pemangku,” jelas Ketut Suta.
Pelinggih ini tidak hanya dikunjungi oleh masyarakat Bali, tetapi juga dari berbagai daerah, termasuk umat Hindu yang merantau hingga non-Hindu. “Tuhan itu satu, jadi mohonlah sesuai keyakinan masing-masing. Yang penting yakin bahwa tempat ini bisa memberikan anugerah,” ujar Ketut Suta dengan bijak.
Bagi umat Hindu, sarana upacara seperti daksina pejati dianjurkan, namun tidak ada aturan baku. “Bawa sesuai kemampuan dan keyakinan,” tambahnya. Pada hari Kajeng Kliwon, pemedek mulai berdatangan sejak pukul 07.00, bahkan hingga malam. Namun, di masa pandemi, jumlah pemedek dibatasi hingga 20 orang per sesi, dengan waktu pelaksanaan maksimal hingga pukul 21.00 untuk menjaga protokol kesehatan.
Daya Tarik Spiritual dan Budaya
Pelinggih Ida Bhatara Sang Hyang Iswara kini dikelola dengan penuh dedikasi oleh Banjar Adat Gegadon. Keberadaannya tidak hanya menjadi simbol spiritual, tetapi juga cerminan kearifan lokal dalam menjaga tradisi dan kebersamaan. Tempat ini terus menarik perhatian, baik sebagai destinasi spiritual maupun warisan budaya Bali yang kaya akan makna.
Bagi mereka yang mencari kesembuhan atau sekadar ingin merasakan kedamaian spiritual, pelinggih ini menawarkan pengalaman yang autentik. Dengan lokasinya yang mudah diakses di pinggir jalan Desa Kapal, pelinggih ini menjadi salah satu permata tersembunyi yang patut dikunjungi.
***












