Tayang: Sabtu, 15 November 2025 06:10 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – Komunitas seni Amarawati Art Community Tampaksiring membuka pameran bertajuk Nadi Cita Tampaksiring di Griya Santrian Art Gallery pada Jumat, 14 November 2025. Kurator I Made Susanta Dwitanaya dan Savitri Sastrawan memimpin acara ini, menampilkan karya beragam dari seniman lokal yang mencerminkan kekayaan budaya rupa Tampaksiring.

Pameran seni Tampaksiring ini menghadirkan lukisan, patung, ukir tulang, anyaman bambu, instalasi, hingga ogoh-ogoh. Karya-karya tersebut lahir dari aktivitas sehari-hari para perupa di kawasan itu. “Seniman di sini menekuni berbagai bidang, mulai dari ukir tulang, anyaman bambu, ogoh-ogoh, tato, fotografi, lukis, hingga patung. Kami libatkan semua usia, dari generasi tua, muda, hingga anak-anak,” kata Made Susanta.

Acara ini menekankan cairnya batas dalam seni rupa kontemporer. Medium seperti fine art dan craft bercampur bebas. Ukir gagang keris atau tongkat komando bisa berdampingan dengan patung modern. “Ini ruang perayaan budaya rupa yang tumbuh dari lokus Tampaksiring, tanpa dikotomi eksklusif,” tambah Susanta.

Ida Bagus Gede Sidharta Putra, pemilik Griya Santrian Gallery, menyambut hangat komunitas ini. Galeri miliknya rutin menggelar 7-8 pameran seni Bali setiap tahun. “Selamat datang kepada seniman Tampaksiring. Kami bangga menjadi tuan rumah. Talenta di sana luar biasa, dan komunitas ini berhasil menyatukan sejarah kesenian Tampaksiring,” ujarnya.

Asal Usul Amarawati Art Community

Amarawati Art Community berdiri pada 2016. Nama “Amarawati” diambil dari prasasti Tengkulak berangka tahun 945 Saka atau 1023 Masehi. Prasasti itu menyebut katyagan (tempat pertapaan) di Pakerisan bernama Amarawati, diduga merujuk situs candi tebing Gunung Kawi di masa Bali kuno.

Komunitas ini mengadopsi spirit pertapaan tersebut sebagai wadah berkarya. Mereka ingin mengembangkan gagasan kreatif seniman Tampaksiring, baik akademis maupun otodidak.

Sejak awal, Amarawati rutin gelar pameran bersama. Pada 2016, mereka usung Peradaban Air di Bentara Budaya Bali, fokus pada situs di Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan. Tahun 2018, Finding Ida Bagus Grebuak di Danes Art Veranda angkat jejak seniman era 1930-an asal Tampaksiring. Kini, Nadi Cita Tampaksiring jadi puncak ekspresi mereka.

Judul pameran ini sarat makna. “Nadi” berarti aliran sungai di macrocosmos, pembuluh darah di microcosmos, atau energi halus. Dalam bahasa Bali, nadi juga artinya berjiwa. Jadi, Nadi Cita Tampaksiring gambarkan aliran kreativitas seniman lokal, lahir dari situs bersejarah dan budaya visual masyarakat.

Kekayaan Sejarah Seni di Tampaksiring

Tampaksiring terletak di antara Sungai Pakerisan dan Petanu. Kawasan ini kaya situs arkeologi sejak era prasejarah hingga Bali kuno. Temuan seperti Nekara Pejeng bukti peradaban awal. Situs lain termasuk Pura Pegulingan, Tirta Empul, Mangening, Gunung Kawi, Pura Pangukur Ukuran, Gua Garba, dan Pura Kebo Edan.

Pada 1930-an, Rudolf Bonnet catat dalam majalah Djawa tentang pelukis Tampaksiring. Ida Bagus Mukuh dan Ida Bagus Grebuak lukis kehidupan sehari-hari. Satu karya Grebuak bertema sepak bola tahun 1929 kini koleksi Museum Volkenkunde Belanda.

Seni ukir tulang berkembang tiga generasi. Awalnya dari tanduk rusa dan tulang sapi, lalu gading, hingga material impor seperti fosil mammoth dan taring walrus. Alat evolusi dari pengutik ke mesin foredom. Tema ukir meluas dari tradisional ke kontemporer.

Dekade 1960-1970-an, Sanggar Pejeng di Puri Pejeng pimpin Dulah lahirkan gaya realistik naturalistik. Sanggar ini jadi ruang pendidikan informal, tarik pelukis dari Bali dan luar.

Kini, ogoh-ogoh Tampaksiring ikon utama. Mulai akhir 1980-an, karya ini viral di media sosial sejak 2018. Karakter realistik, gesture natural, dan wajah ekspresif jadi ciri khas. Ogoh-ogoh reinvent tradisi ritual Pengrupukan menjelang Nyepi.

Di Pejeng, gebogan patung dari buah dan bunga muncul sejak 2010-an. Awalnya fruit carving dekoratif di ritual mepeed Pura Penataran Sasih, kini jadi elemen semarak yang ditunggu warga. Variasi gebogan antar banjar tambah warna budaya lokal.

Pameran Nadi Cita Tampaksiring bukti dinamika seni rupa Bali. Dari ukir tulang hingga ogoh-ogoh, karya lintas generasi ini perkuat identitas Tampaksiring sebagai pusat kreativitas. Pengunjung diajak rasakan denyut budaya rupa yang hidup dan berkembang.

***

Tanya AI